HBD My Son

Cung Pret (Kacung Kampret)..


Sejuknya udara pagi kali ini benar-benar dapat dirasakan. Apalagi setelah semalaman diguyur hujan yang cukup deras. "Hhmm..Subhanallah..!!. Begitu indahnya ciptaan Illahi. "Ucap Paimin dalam hati. Mensyukuri nikmat yang Allah beri. 

Sambil berlari-lari kecil. 3 P benar-benar menikmati suasana minggu pagi yang indah dan cerah ini. Sesekali gurauan & tawa mereka menghiasi disela nafas mereka yang sudah mulai ngos2an. "Waduh..bahasa mana itu ngos2an !?. Hhhe." Maksudnya terengah-engah kali ya...hhe.

"Kita ke Monas. Yuuk..!." Ajak Poltak tiba-tiba pada Paimin dan Paijo.
"Haa..!. Nggak salah loe !?." Sahut Paimin dan Paijo kaget hampir bersamaan.
"Ayolah. Kita bisa cuci mata disana." Kata Poltak lagi sambil mengangkat-angkat kakinya bergantian bak olah ragawan. 
"Kalau loe mau cuci mata pakai (#disensor) obat aja Tak" sahut Paijo terengah-engah.
"Gimana kalau kita ngeriung di warungnya mpok Emon aja Tak, Jo ?." Ajak Paimin sambil mengelap peluh yang mulai membasahi mukanya dengan ujung kaosnya.
"Nah. Itu ide yang bagus Min."sahut Poltak.
"Ayolah kita jalan."sahut Poltak lagi mengajak kedua kawannya menuju ke warungnya mpok Emon.

Tak ada yang membeda dari sikap mpok Emon ketika melihat kehadiran 3 P. Apalagi warung sedang ramai-ramainya oleh pembeli. Suasana yang tadinya ceria dan penuh canda. Seketika berubah drastis..tis..tis..menjadi kecut penuh cemberut hhhe... Ternyata perubahan sikap mpok Emon terlihat oleh Husaini salah satu pengurus masjid disekitar perumahan. Ketika mpok Emon sedang membungkus nasi uduk pesanannya.
"Kenape mpok ?." Tanya Husaini santai sambil tersenyum karena ia tahu dengan perubahan sikap dari mpok Emon.
"Nggak apa-apa bang."sahut mpok Emon singkat sambil meneruskan membungkus nasi uduk.
"Kudu sabar mpok. Banyakin istighfar dan sholawat. Sahut Husaini mengingatkan Mpok Emon
"Boleh aje kite nggak seneng same orang. Tapi jangan sampe ditunjukin berlebihan. Apalagi dibawe sampe ubun2 dan ke tulang sumsum. Dose mpok." Sahut Husaini lagi sambil menerima nasi bungkus pesanannya.
"Astaghfirullah al'adzim. Terima kasih ya pak ustadz. Sudah mengingatkan saya." Sahut mpok Emon seketika mengucap istighfar.
"Waduh mpok. Jangan panggil ane ustadz mpok. Berat tanggung jawab ane, dunia akhirat. Panggil abang aja ya mpok." Sahut Husaini memohon dan berpamit diri.
Ya..begitulah bang Husaini walau ilmu agamanya mumpuni karena 15 tahun  menimba ilmu disalah satu pesantren. Dia tidak mau dipanggil ustadz alasannya singkat dia belum menguasai dan menjalankan ilmu agama dengan benar, apalagi ilmu Tarekat, hakikat dan makrifat.

Waduh..yang 15 tahun nimba ilmu di pesantren aja nggak mau dipanggil ustadz apalagi kita ya..!?. Hhhee...tunggu lanjutannya ye...itu juge kalau ane inget n sempet hhe..

Comments