HBD My Son

Kumpulan Puisi



Setelah setahun menggunakan wordpress dan ujung-ujungnya kena suspend, akhirnya kembali lagi dech ke Blogger. Namun sayang juga sih karena banyak goresanku yang nggak bisa dibuka lagi di WP. Salahku sendiri karena goresanku mencar kesana-kemari dan ada beberapa yang nggak ke save.

Selagi ada waktu, aku mencoba untuk menuangkan kembali beberapa goresan dalam kumpulan puisi yang sebelumnya berada di WP.

Menyibak keheningan

Malam tak bergeming
Nampak lesu rembulan tanpa bintang
Hembusan angin kian berperan
Berbisik menyibak keheningan

Malam membuka jalan
Meniti doa akan segumpal harapan
Walau usang tak merubah haluan
Kerana dipelupuk mata tersirat tujuan

Malam temani jiwa-jiwa lelah diperaduan
Bergelung selimut terbuai mimpi
Menanti hari esok  yang lebih berarti
Mengemas bahagia diujung kesabaran


Pemburu yang diburu

Taring itu telah tanggal
Hingga terhenti disudut jalan dengan nafas tersengal
Mundur salah
Maju berlumur getah

Semula begitu naïf tentukan kebenaran milik Allah
Merasa suci & pandai menelaah
Hingga berujung dalam ketidak pastian hidup
Perlahan kepiawaian meredup

Tiada lagi puja puji mengiringi
Kerana tak ingin mencoreng diri
Satu persatu mulai menyadari
Bahwa tiada satupun yang berhak untuk dikagumi

Kini sgalanya terkuak
Dalam dentingan waktu Allah berkehendak
Bila tak mengelak tak kuasa menahan buaian
Akan keindahan harta, tahta & wanita yang menggoda iman…

 Cinta

Masihkah kau ingat akan goresan
Tetap bertahan walau terhempas hujan
Bukti nyata cinta kasih kita berdua
Kala hati berpagut mesra

Namun kini tinggalah kenangan
Putus sudah benang cinta yang terajut
Semula indah kini berakhir kusut
Ketika rasa tentukan diantara pilihan

Serasa beribu onak menghujam
Ketika cinta lepas tak tergenggam
Inikah cinta yang semula dibanggakan
Atau rasa yang selalu berada dalam permainan

Tak kusalahkan cinta yang tak berpihak
Kerana cinta tak dapat berkendak
Tak kumaki janji yang tak ditepati
Kerani janji tak selalu ikuti kata hati

Hanya bait bait ini yang kupersembahkan
Teruntukmu yang pernah hadir dalam pelukan
Selamat menjalankan kehidupan baru
Bahagia selalu menyertaimu…


Jumawa

Rintik hujan mengusik pagi dalam penantian
Saat lelah tertatih melangkah tak berdaya
Tersudut rasa sakit yang mendera
Membuka layar ingatan akan kegagalan

Begitu masyuk akan kesenangan
Begitu jumawa akan letupan pujian
Lengah akan ketukan nada tak seirama
Lupa akan bait kehidupan sementara

Rasa sakit serasa hadirkan derita
Semoga menjadi  pelebur dosa
Agar selalu  ingatkan jiwa
Bahwa hidup harus dijaga dalam koridor yang ada


Renungan dalam cermin

Dalam renung duduk terdiam
Menatap mimik tanpa raut
Terkadang tersenyum
Menyeringai malu tak patut

Di balik cermin tak nampak
Di depan cermin tak dapat mengelak
Buta mata akan keburukan
Tuli telinga tak mendengar kebenaran

Hanya keburukan yang tersisa
Cacat diri tanpa ekspresi
Begitu malu sombongkan hati
Kerdil diri labuhkan cela 


Satrio Piningit

Alunan gending mengusik keheningan malam
Bergetar jiwa larut dalam lamunan
Dengarkan senandung perjalanan di akhir jaman
Kala sang prabu memetik petuah pandita Rum

Ketika roda kehidupan berlawan arah
Satu lainnya tak mau mengalah..benar menjadi salah
Akan hadir manusia berhati putih bersenjata trisula
Siratkan arti sila pertama, kedua dan ketiga…

Bukan dari kalangan politik,  pengusaha
Namun bermuara dari rakyat jelata
Tersembunyi kerana ilmunya begitu mumpuni
Menghormati leluhur menyatu dengan tradisi…

Lipatan kelam

Menelusuri relung malam
Melarung diri dalam kesunyian
Lunglai tubuh tak mampu bertahan
Rapuh jiwa larut dalam lipatan kelam


Aku yang tengah terlena dalam buaian
Hingga lupa akan lara menerpa
Hanya menatap kata-kata yang terlintas didepan mata
Namun eggan tuk merangkai dalam kesempatan
 

Rindu  Ramadhan
Aku yang kini tertunduk lesu tak berdaya
Kaku lidah tak mampu berkata
Hanya isak tangis memecah keheningan
 

Kembali diri akan merasa kehilangan
Kehilangan dalam balutan bulan penuh keberkahan
Tanggalkan noktah-noktah yang kotori jiwa
Merangkak pergi perangi nafsu dunia
 

Tuk menapaki hari penuh kemenangan
Ya Rabb...berikan kesempatan bagiku kembali
Untuk jalani Ramadhan ditahun yang akan datang
Agar setiap langkah tak terhalang
 

Bersihkan diri dari dosa & nafsu yg melumuri hati...

Kerancuan...
 

Bila lepas tali kekang
Terasa bebas hasrat menerjang
Tak perduli akan strata hati
Masa bodo dengan aturan yang tersusun rapi

 

Dipelupuk mata ambisi kian berontak
Melontar kata mainkan peran tersembunyi
Nurani hanya penghias diri
Apa jadinya bila bercermin dikaca yang retak

 

Salah dijadikan pembenaran
Kebenaran dihembuskan kerancuan
Dalam hari larutkan sensasi
Lunglai jiwa bila berdiam diri

 

Bukan pergolakan yang harus dilakukan
Kebersihan jiwa yang harus diciptakan
Lucuti ambisi yang kotori jiwa
Biarkan roda pedati berputar pada masanya...


Ibu

 Mensyukuri nikmat yang terpendar
Masih dapat memeluk erat tubuh penuh kasih
Walau terhias letih dibalik guratan perih
Namun curahan kasih tak pernah memudar

Masih dapat membasuh kedua kaki
Mencium lembut penuh meratap
Dari buah hati yang tak dapat berbakti
Hanya bisa meminta penuh harap

ibu…aku rindu akan belaian manja
Aku rindu dekapan erat dalam doa
 ibu…maafkan kesalahan buah hatimu
Bila tak dapat wujudkan segala keinginan muliamu


Sendiri

Terik perik mentari menyengat tubuh
Menyibak debu bersimbah peluh
Lelah diri melangkah
Telusuri jalan mengharap berkah

Kurus kering tubuh tersamar asa
Sakit di dada tak lagi dirasa
Hanya tinggalkan jejak tinta dalam cerita
Agar buah hati tetap ceria

Mungkin sudah takdir menyendiri
Seperti dulu tiada yang perduli
Mengais ceria dari sekitar
Merengkuh asa dari cahaya memudar


Nona Manis…
 

Bila satu waktu tak lagi bersama
Bukan berarti roda kehidupan terhenti seketika
Usiklah lara agar tak bersemayam dihati
Walau perih jangan biarkan sepi menguliti

 

Biarkan rasa itu pupus dengan sendirinya
Tak perlu membasuh dengan prasangka
Meluahkan berita yang memercik benci
Kerana keburukan hanya akan mencoreng diri

 

Yakinilah..itu hanya setitik rasa berakhir diujung cerita
Bukan akhir dari segalanya hingga terpuruk dalam nestafa
Masih tercipta satu asa dilain jiwa yang menanti
Menguntai kasih dalam pelukan cinta sejati

 
Menjumput sepi

Begitu lekat aroma kegundahan
Perlahan memudar terbilas derai hujan
Jelas terlihat butiran rasa berserak didedaunan
Bertemankan seonggok rindu meradang dibebatuan

 

Entah itu milik siapa
Hanya sayup terdengar lirih dibalik ilalang
Dari jiwa lapuk yang terkekang
Terlena dalam buaian kesemuan rasa

 

Apa yang dicari tak lagi dapat dinalar
Kesucian kian memudar
Dibalik senyum bergincu menyeringai
Menatap angkuh menjumput sepi


Menggamit Asa

Ketika hasrat merayu logika
Berpeluk gundah menggamit asa
Adakah sepercik rasa memantik bara
Terangi jiwa yang renta

 

Walau harus merangkak
Lunglai kepala merajang congkak
Ingin menyulam jalinan yang terkoyak
Agar suka kembali nampak dikelopak

 

Masih dapat mencumbu bayang lalu
Satu rasa yang menusuk relung kalbu
Berpeluk erat dibawah pelangi
Harum melekat aroma kasturi


Dara

Menimang waktu tanpa gairah
Duduk termenung berjubah gundah
Serba salah sikapi segalanya
Bagai berada dilorong hampa

Lara masih saja gelayuti dara
Menggores luka menabur duka
Entah kapan segalanya sirna
Agar tak terpuruk jiwa tanpa daya

Gamang diri menatap dara berselimut kelam
Diam membisu tak berkata
Hanya mengusap mata berkaca
Menahan beban nan menghujam

Dara…ingin kuhapus jejak kelam
Membasuh luka hadirkan kehangatan cinta
Nyalakan lentera terangi malam
Memagut rasa mengurai rindu mendera...

Comments