HBD My Son

Paijo kepincut...

Paijo hatinya mulai kepincut, rasanya pusing bukan kepalang. Baru pertama kali ini ia merasa jatuh hati dengan seorang wanita cantik dari kalangan berada. Namun belum apa-apa hatinya sudah merasakan gundah gulana. Bagaimana tidak gundah pakai gulana lagi, bila wanita yang dipujanya meminta agar dibuatkan sebuah puisi tentang cinta.

Semula ia menolak keras namun karena wanita merayu, mau nggak mau dech.. akhirnya luluh lantak juga hatinya hhe.. Bila saja ada pilihan, ia lebih memilih untuk memecahkan rumus matematika seberat apapun dari pada disuruh membuat sebuah puisi. Kalau puisi. Alamak, apa kata dunia...!?. Sungut Paijo dalam hati mengernyitkan dahinya sambil berjalan mondar-mandir mencoba untuk mencari inspirasi yang belum didapatinya.

Namun bukan Paijo namanya kalau ia tidak bisa menyelesaikan segala masalah, baginya masalah bukan lagi masalah. Selama berusaha pasti akan ada celah, tapi disisi lain ia mulai meragu bila wanita tersebut menyukai dirinya yang notabene hanyalah rakyat biasa dengan tampang yang biasa-biasa juga. Karena Paijo terlanjur janji dan tidak ingin mengecewakan maka terciptalah satu goresan puisi untuk si dia.

Tak ada yang dapat dibanggakan
Dari garis melintang memanjang
Garis hanyalah pembatas agar tak terlewatkan
Sedangkan kau berada dalam jajaran genjang

Bagai berpijak diantara bilangan desimal ber kuadrat
Rasanya tak layak bagiku utk melawan kodrat
Kau cantik jelita dari kalangan berada
Sementara aku hanyalah rakyat jelata

Lebih baik kuhitung dengan perkalian
Karena cintaku tak ingin terbagi
lebih baik aku begini dan sampai disini
Karena penjumlahan lebih baik dari pengurangan

Paijo tersenyum kecut sambil manggut-manggut dengan wajah yang sedikit agak cemberut, ketika wanita penakluk hati menghardik dan merobek puisi ciptaannya sambil ngeloyor pergi meninggalkan dirinya yang penuh tanda tanya.

Paijo tidak perduli dengan sikap wanita yang telah membuat dirinya melankolis, segera ia berlalu meninggalkan tempat penuh kenangan dalam angannya yang mulai melayang. Kini ilmu matematikanya mulai bekerja dan menguasai pikirannya. Baginya lebih baik menghitung perkalian dari pada nantinya cinta habis terbagi. Gumannya dalam hati sambil menggaruk-garukan kepalanya.

Comments