HBD My Son

Aku bukan seperti dia...

 


"Istighfar Ren, gue tahu pribadi loe yang sebenarnya. tapi kenapa sekarang loe seperti ini. Apa..apa yang membuat loe berubah seperti ini Ren !?."

Masih lekat dalam ingatannya ketika Trian menegur dirinya dengan keras dan tegas. Kini dihelanya nafas panjang-panjang sambil sesekali dipandanginya curahan air dari ketinggian 20 m yang tak henti-hentinya menghujam deras batu cadas yang berada dibawahnya. Dibiarkannya butiran-butiran Air terjun yang sesekali menerpa mukanya oleh hembusan angin.

Sudah 2 jam lebih ia duduk termenung disalah satu batu yang terletak tidak jauh dari air terjun ini. Tak di indahkannya para pengunjung yang hilir mudik ataupun tertawa ceria penuh canda. Kini rasa sesal mulai menyelimuti dirinya. Ia tidak tahu kenapa dirinya menjadi seperti sekarang ini.

Dibuangnya jauh-jauh segala pertanyaan yang ada dalam benaknya dengan segera diambil jacketnya yang terletak diatas batu besar, kini ia ingin melanjutkan perjalanan kembali untuk mengisi  liburannya kali ini dengan ditemani oleh motor besarnya. Ya, hanya motor besar inilah  teman setiaku. Ucap  Rendy dalam hati sambil memacu motornya menuju kemana saja yang diingini.

"Rendy, kamu tidak kerja ?."Tanya mamanya yang melihat Rendy masih bermalas-malasan dipembaringan.
"Kerja ma, sebentar lagi."Sahut Rendy singkat yang masih tidak bergeming dari nyamannya pembaringan.
"Ini sudah jam 7, ayo cepat mandi." Perintah mamanya sambil membuka gorden dan jendela kamar Rendy sehingga sinar mentari pagi langsung menyeruak masuk dan menerpa wajahnya Rendy. Rendy hanya bisa memicingkan matanya dan dengan segera ia bangun dari pembaringan.

Liburan panjang telah membuat dirinya malas untuk berangkat kerja namun karena hari ini ada meeting bulanan, mau tidak mau dilawannya juga rasa malas dalam dirinya.

Namun baru saja ia akan melangkahkan kakinya menuju ruang meeting tanda pesan masuk dihpnya berdering, dilihat pesan masuk dari Nosa dengan segera dibuka dan dibacanya.

Rendy, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan lagi padamu. Aku hanya merasa diriku sedang berada dipersimpangan jalan. Aku menilai dirimu tidak serius dalam menjalin hubungan denganku.  Aku selalu bersabar dalam menghadapi sikapmu, namun bila kau rasa aku bukan pilihanmu. Katakanlah...Terima kasih.

Dengan sikapnya yang cuek  Rendy menghapus isi pesan singkat dari Nosa dan ini adalah pesan singkat yang isinya kurang lebih sama dengan yang telah diterimanya dari 3 wanita berbeda.

"Kegagalan demi kegagalanlah yang membuat aku seperti  ini."Gumannya dalam hati sambil menundukan kepalanya.
"Aku tidak percaya lagi dengan senyum manis wanita dan pesona cinta. Awalnya saja manis namun pada akhirnya hanya membawa luka dan duka"  Tandasnya dalam hati dengan tatapan matanya yang penuh kebencian.

Kini  yang dilakukannya hanya mengembara dari satu hati wanita ke lain hati wanita. Ia tidak perduli lagi dengan sakit yang dirasa wanita. Baginya dendam sudah terbayar bila ia sudah dapat menaklukan hati wanita.

Sementara dikejauhan sana, diruang kerjanya, pikiran nosa benar-benar tidak karuan. Ia tidak dapat memfokuskan pikirannya pada pekerjaan.  Rasa kesal, rasa kecewa dan rasa benci benar-benar bercampur dan berkecamuk didalam hatinya karena Sms yang dikirimnya ke Rendy tadi pagi belum juga dibalasnya hingga siang hari ini. Dihubungi sedari tadi jawaban dari hpnya'pun selalu dialihkan.Gumannya dalam hati penuh kesal.
"Maunya apa sih ?."Tanya bathinnya.
Ingin rasanya ia menyudahi hubungannya dengan Rendy yang baru dijalaninya selama 3 bulan belakangan ini karena ia menilai Rendy benar-benar sangat tidak perduli dan cuek. Namun ia'pun tidak dapat membohongi hati kecilnya bila ia masih memiliki rasa simpati pada Rendy.

Kini ingatannya kembali tertuju pada cerita Trian sebulan yang lalu tentang diri Rendy yang sebenarnya, tersirat rasa iba dan rasa ingin tahunya apa sebenarnya yang membuat diri  Rendy  seperti sekarng ini. Katanya dalam hati penuh tanda tanya.

Sepualng kerja Nosa sengaja menyempatkan dirinya untuk menemui Rendy dirumahnya. Walau bagaimanapun ia masih belum puas dengan sikap Rendy yang tidak membalas smsnya.

"Assalamu'alaikum". Ucap Nosa sambil mengetuk daun pintu sebuah rumah yang terlihat cukup asri.
"Waalaikum salam"sahut suara yang cukup dikenalnya sambil membuka pintu.
"Mama..!."Sapa Nosa ceria sambil salim dan memeluk serta mencium kedua pipi  mamanya Yuda.
"Nosa..apa kabar kamu nak !?."Sambut hangat mamanya Rendy.
"Alhamdulillah, sehat ma. Mama sehat juga kan ?."Sahut Nosa balik bertanya
"Alhamdulillah, mama panggilkan Rendy dulu ya Nos."
"Terima kasih ya ma."Sahut Nosa. Ia merasakan bathinnya sudah begitu dekat dengan mamanya  Rendy.

Ada perasaan miris bila ia duduk diruang tamu dan melihat foto almarhum ayahnya Rendy yang terpampang di dinding. Karena sejak Rendy berusia 12 tahun sudah merasakan kehilangan pigur dari seorang ayah.
"Kamu pulang kerja Nos ?." Tiba-tiba pertanyaan Rendy membuyarkan lamunannya tentang almarhum ayah Rendy.
"Iya."sahut Nosa singkat sambil memaksakan  senyum namun tidak dapat menyembunyikan kekesalannya.
" kamu kemana sih dari tadi sms tidak dibalas. Telepon juga dialihkan. Maksud kamu apa ?."Tanya Nosa pada Rendy yang duduk disampingnya.
"Seharian tadi aku meeting, jadi belum sempat balas. Tapi hp sudah aku aktifkan kok."Sahut Rendy  sedikit cuek
"Ooo..gitu.tidak ada waktu istirahat sama sekali, meeting terus….!."Ucap Nosa meledek penuh kekesalan.
"Apaan sih kamu, datang marah-marah."Tukas Rendy mulai kesal
"Aku tidak marah, tapi aku kesal dan aku tidak bisa terima dengan sikap kamu yang seperti ini terus menerus." Sungut Nosa.
"Ya sudah.. Kalau tidak bisa terima, kenapa harus repot-repot datang kemari."Jawab Rendy enteng.
Mendengar perkataan Rendy dengan seketika membangunkan emosi dan harga dirinya.
"Maksud kamu apa bicara seperti itu ?." Sahut Nosa yang kini tidak dapat mengendalikan emosinya  "kamu ingin aku tidak datang kemari lagi. Baik kalau itu yang kamu inginkan sekarang juga kita putus."Sahutnya lagi penuh emosi dengan segera ditinggalkannya Rendy yang masih terdiam sambil membanting pintu pagar keras-keras.

Kini perasaan wanitanya mulai tergores dengan sesekali Nosa menyeka air mata yang menetes dipipinya. Ia tidak menyangka bila Rendy bersikap seperti itu. ia pacu mobil yang dikemudikannya. Kini Keinginannya hanya satu ia ingin segera sampai dirumah dan menumpahkan segala rasa yang ada dipembaringan kamarnya. Keinginan itu pulalah yang membuat Nosa tidak mengindahkan akan batas maksimum kecepatan kendaraan yang melewati jalan Tol.

Rendy merebahkan tubuhnya dipembaringan, ada rasa sesal yang dirasa akan perkataan dan sikapnya pada Nosa. Namun baru saja ia ingin memejamkan matanya hp yang diletakan dimeja disamping pembaringannya berdering, dengan segera ia mengangkat hpnya dan dilihat pd layar tertera nama Nosa.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikum salam". Jawab suara diseberang sana yang seketika membuat Rendy bangun dari pembaringannya karena suara tersebut adalah suara seorang pria yang tidak dikenal
"Bapak Rendy."Tanya suara diseberang sana
"Ya, siapa ini."Sahut Rendy bertanya
"Kami dari pihak Kepolisian lalu lintas, ingin menyampaikan bahwa sdri. Nosa telah mengalami kecelakaan dan sekarang berada dirumah sakit." Dengan seketika Rendy tak dapat berkata apa-apa serasa degup jantungnya berhenti sejenak dan ia terduduk lunglai dipembaringannya. Rasa sesal kini benar-benar  menyelimuti dirinya dengan segera ia menuju rs yg disebutkan oleh pihak kepolisian.

Sambil berlari kecil Rendy menuju ruang IGD dengan segera ia menghampiri tubuh Nosa yang msh tak sadarkan diri diatas pembaringan.
"Nosa, maafkan aku Nos..!."Ucap  Rendy dengan suaranya yang agak parau menahan kesedihannya sambil memeluk tubuh Nosa, diperhatikannya tubuh Nosa dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dilihat ada luka memar didahinya dan jarum infus telah tertanam dilengan kirinya.
"Suster, bagaimana kondisinya."Tanya Rendy sedikit panik ketika suster akan melakukan pengecekan medis pada Nosa.
"Sabar ya pak, kondisi pasien belum stabil sebaiknya bapak tunggu diluar saja."Sahut suster sambil mengecek kondisi Nosa.
"Tidak sus, aku akan tetap menunggu disini."Jawab Rendy tegas.
"Berdoa saja ya pak, semoga tidak lama lagi pasien akan siuman."
"Terima kasih sus." Sahut  Rendy matanya mulai berbinar menahan rasa sedih dan sesalnya.

Kini digenggamnya jemari tangan kanan Nosa agar ia dapat merasakan dan mengetahui saat Nosa siuman. Tidak lama berselang jemari Nosa mulai dirasakan bergerak lemah dengan segera ia berdiri dari tempat duduknya yang berada disamping pembaringan.
"Nosa."Sapa Rendy pelan ditelinga Nosa dan perlahan Nosa mulai membuka matanya.
"Yuda, aku ada dimana ?."Tanya Nosa sambil menatap langit2 ruang IGD dan sedikit memicingkan matanya menahan rasa sakit didahinya akibat benturan air bag yang mengembang dengan tiba-tiba setelah kendaraannya membentur guardial jalan tol.
"Kamu ada dirumah sakit."Sahut Rendy yang tak dapat menahan kesedihannya namun tetap berusaha untuk menahan tangisnya, hanya air matanya saja yang mulai bergulir membasahi pipinya.
"Kamu menangis Ren ?."Tanya Nosa sambil menatap wajah Rendy.
"Maafkan aku Nos."ucap Rendy sambil menggenggam jemari Nosa dan Nosa'pun membalas genggaman jemari Rendy sambil mengangguk kecil tersenyum sementara diujung matanya mulai tergenang air mata.
"Kamu janji akan kembali kepada kepribadianmu yang sebenarnya, walau untuk mengembalikannya aku harus merasakan seperti ini."Kata Nosa sambil menatap penuh serius wajah Rendy yang tersirat akan kesedihan.
Dengan segera Rendy membungkuk dan memeluk tubuh Nosa yang terbaring sambil terisak.
"Maafkan aku Nos, aku salah..sangat salah dengan apa yang kulakukan selama ini. Aku menyayangimu Nos."
Dengan segera Nosa melingkarkan kedua tangannya ketubuh Rendy dengan perasaan harunya yang tak tertahankan.
"Aku juga menyayangimu Ren tapi harus selalu kamu ingat, aku bukan dia. Aku bukan sepeti dia yang telah menyakiti dan meniggalkan luka dihatimu." Ucap Nosa dengan tegas yang kini juga larut dalam isak tangisnya. Namun Tangisnya saat ini adalah tangisan penuh kebahagiaan akan hadirnya kembali kepribadian Rendy yang sebenarnya. Kepribadian yang sangat menghargai dan menghormati akan arti cinta kasih yang sesungguhnya.

Comments