Perseteruan kian memanas...

Satu goresan hadir menemani kamu, dia dan kita berjudul " Perseteruan kian memanas ".

Setelah sekian lama berdiam diri
Kini kucingku mulai berani mengejar tikus hingga terbirit berlari
Kucing mulai bertaji tunjukan aksi
Tikus merasa ngeri sembunyi dipinggir kali

Tapi tikus.. tetaplah tikus yang suka gerogoti
Kini tikus mulai cari strategi penuh narasi
Unjuk gigi cari proaksi menakuti
Tapi kucing kian bernyali harga mati untuk tikus yang berani

Perseteruan kucingku dengan tikus kian memanas
Perangkap tikus kini mulai terpasang
Agar kucing tak lelah menerjang
Menerkam tikus yang bersembunyi dibalik brankas

Perseteruan kian memanas...

Satu goresan hadir menemani kamu, dia dan kita berjudul " Perseteruan kian memanas ".

Setelah sekian lama berdiam diri
Kini kucingku mulai berani mengejar tikus hingga terbirit berlari
Kucing mulai bertaji tunjukan aksi
Tikus merasa ngeri sembunyi dipinggir kali

Tapi tikus.. tetaplah tikus yang suka gerogoti
Kini tikus mulai cari strategi penuh narasi
Unjuk gigi cari proaksi menakuti
Tapi kucing kian bernyali harga mati untuk tikus yang berani

Perseteruan kucingku dengan tikus kian memanas
Perangkap tikus kini mulai terpasang
Agar kucing tak lelah menerjang
Menerkam tikus yang bersembunyi dibalik brankas

Pesan untuk sepasang kekasih...

Menemani weekend hadir kembali satu goresan untuk kamu, dia dan kita berjudul " Pesan untuk sepasang kekasih ".

Temaram malam hadirkan kesyahduan
Kerlap kerlip lampu menambah keindahan
Sepasang kekasih berpeluk mesra penuh canda
Tertawa bercerita tentang rembulan yang tersipu malu saksikan mereka

Dunia serasa milik berdua dalam nuansa cinta penuh pesona
Indah...begitu indah dirasa saat dua hati terpadu
Saling memiliki..saling berbagi rasa hingga merasuk kalbu
Seakan tak ingin terpisah untuk selamanya

Seperti rembulan kuhanya berdiam diri dalam sepi
Miris hati adalah sesuatu yang wajar dirasa
Ketika benang kusut tak lagi dapat terurai
Curahan kasih tak lagi dapat kurasa

Dekaplah erat kasih yang ada
Temanilah dirinya hingga terjaga
Didapati kau berada disampingnya
Itulah yang pernah kulakukan ketika masih bersamanya

Namun bara cinta tak selamanya menyala
Dapat meredup ketika tak dapat menjaganya
Nyalanya akan pudar untuk selamanya
Ketika ada letupan bara dari yang lainnya...

Pesan untuk sepasang kekasih...

Menemani weekend hadir kembali satu goresan untuk kamu, dia dan kita berjudul " Pesan untuk sepasang kekasih ".

Temaram malam hadirkan kesyahduan
Kerlap kerlip lampu menambah keindahan
Sepasang kekasih berpeluk mesra penuh canda
Tertawa bercerita tentang rembulan yang tersipu malu saksikan mereka

Dunia serasa milik berdua dalam nuansa cinta penuh pesona
Indah...begitu indah dirasa saat dua hati terpadu
Saling memiliki..saling berbagi rasa hingga merasuk kalbu
Seakan tak ingin terpisah untuk selamanya

Seperti rembulan kuhanya berdiam diri dalam sepi
Miris hati adalah sesuatu yang wajar dirasa
Ketika benang kusut tak lagi dapat terurai
Curahan kasih tak lagi dapat kurasa

Dekaplah erat kasih yang ada
Temanilah dirinya hingga terjaga
Didapati kau berada disampingnya
Itulah yang pernah kulakukan ketika masih bersamanya

Namun bara cinta tak selamanya menyala
Dapat meredup ketika tak dapat menjaganya
Nyalanya akan pudar untuk selamanya
Ketika ada letupan bara dari yang lainnya...

Terlupakan...

Satu goresan kembali hadir untuk kamu, dia dan kita berjudul " Terlupakan ".  

Semilir angin menerpa lembut dedaunan
Penuh berbisik kabarkan mega pekat tengah mainkan peran
Menutup bias mentari hadirkan mendung
Namun angin kian mengusik agar hujan tak datang

Mega pekat berarak saling berkejaran
Sekumpulan tetap bertahan untuk hadirkan hujan
Basahi tanah yang mulai kering kerontang
Seperti kasih dalam jiwa yang telah lama hilang

Berharap temukan secawan air penghapus dahaga
Dalam lelah mencari sekeping hati yang tertinggal dan terlupakan
Tertinggal diantara kemunafikan
Terlupakan akan kebenciaan yang kian mendera

Terlupakan...

Satu goresan kembali hadir untuk kamu, dia dan kita berjudul " Terlupakan ".  

Semilir angin menerpa lembut dedaunan
Penuh berbisik kabarkan mega pekat tengah mainkan peran
Menutup bias mentari hadirkan mendung
Namun angin kian mengusik agar hujan tak datang

Mega pekat berarak saling berkejaran
Sekumpulan tetap bertahan untuk hadirkan hujan
Basahi tanah yang mulai kering kerontang
Seperti kasih dalam jiwa yang telah lama hilang

Berharap temukan secawan air penghapus dahaga
Dalam lelah mencari sekeping hati yang tertinggal dan terlupakan
Tertinggal diantara kemunafikan
Terlupakan akan kebenciaan yang kian mendera

Arti persahabatan...

Kembali hadir satu goresan untuk kita semua berjudul " Arti persahabatan ".

Bagai pelangi membias diantara rona jingga
Temani mentari menuju peraduan
Mengusik lamunan merengkuh jiwa nestapa
Berdiri menari senandungkan arti kehidupan

Tiada lelah menepis keluh kesah
Senantiasa menghibur hati nan gundah
Bagai lilin kecil terangi kelam
Tak perduli akan bara merajam

Kau Bangkitkan jiwa agar berdiri tegak
Sinari jalan agar tak salah berpijak
Kau ajarkan diri tanpa pamrih
Kau siratkan arti persahabatan dalam lantunan jiwa nan kukuh

Arti persahabatan...

Kembali hadir satu goresan untuk kita semua berjudul " Arti persahabatan ".

Bagai pelangi membias diantara rona jingga
Temani mentari menuju peraduan
Mengusik lamunan merengkuh jiwa nestapa
Berdiri menari senandungkan arti kehidupan

Tiada lelah menepis keluh kesah
Senantiasa menghibur hati nan gundah
Bagai lilin kecil terangi kelam
Tak perduli akan bara merajam

Kau Bangkitkan jiwa agar berdiri tegak
Sinari jalan agar tak salah berpijak
Kau ajarkan diri tanpa pamrih
Kau siratkan arti persahabatan dalam lantunan jiwa nan kukuh

Bualan cinta...

Kembali hadir satu goresan untuk kamu, dia dan kita berjudul " Bualan cinta ".

Menatap deburan ombak dilaut lepas
Menepi buih dihamparan pasir putih
Silih berganti seiring angin menghempas
Kian pasang gelombang menyibak ketidak pastian langkah

Tak tahu apa yang diperbuat ketika cinta harus memilih
Kembali atau terus melangkah tinggalkan satu rasa ternoda
Rasa yang tercabik akan dilema
Rasa yang telah hempaskan jiwa menjadi rapuh

Tak ingin kembali terbuai olehnya
Cinta hanya sebatas kata penuh kepalsuan
Hadir tebarkan pesona membawa ke nirwana
Sekejap berubah tinggalkan kepedihan

Tak ingin kesekian kali terbelenggu
Akan rasa yang kian tak menentu
Lebih baik bertahan dalam kesunyian
Pastikan cinta bukan sekedar bualan

Bualan cinta...

Kembali hadir satu goresan untuk kamu, dia dan kita berjudul " Bualan cinta ".

Menatap deburan ombak dilaut lepas
Menepi buih dihamparan pasir putih
Silih berganti seiring angin menghempas
Kian pasang gelombang menyibak ketidak pastian langkah

Tak tahu apa yang diperbuat ketika cinta harus memilih
Kembali atau terus melangkah tinggalkan satu rasa ternoda
Rasa yang tercabik akan dilema
Rasa yang telah hempaskan jiwa menjadi rapuh

Tak ingin kembali terbuai olehnya
Cinta hanya sebatas kata penuh kepalsuan
Hadir tebarkan pesona membawa ke nirwana
Sekejap berubah tinggalkan kepedihan

Tak ingin kesekian kali terbelenggu
Akan rasa yang kian tak menentu
Lebih baik bertahan dalam kesunyian
Pastikan cinta bukan sekedar bualan

Adakah kesempatan...

Roda hidup kian berputar seiring gejolak yang ada, sulitnya mencari kerja sangat dirasa bagi kaum muda. Hanya bermodal ijazah tanpa pengalaman rasanya tak cukup dan sangat tidak dipungkiri apapun & dimanapun link itu sangat menentukan akan peluang yang ada.

Satu goresan kembali hadir untuk kamu, dia & kita berjudul " adakah kesempatan ".

Berjalan pria tertunduk lesu tak bergairah
Tatap nanar dibalik rasa kecewa
Sesekali menengadah mendesah
Dalam doa berharap kan datang secercah cahaya

Bahagiakan orang tua bermodalkan ijazah
Hasil jerih payah cucuran keringat sang ayah
Sebagai buruh harian karyawan biasa
Agar dapat merubah nasib melebihi dirinya

Tiada pintu terbuka beri kesempatan
Alasan tiada pengalaman tak ada yang dikenal
Dalam hati kian bertanya kapankah ada kesempatan
Bagi dirinya merubah hidup layak dalam sepenggal

Berjalan seorang pria tak menyerah
Pantang hentikan pijak sebelum mencoba
Pigur ayah pedoman untuk melangkah
Walau tertatih penuh keyakinan bahagiakan orang tua

Adakah kesempatan...

Roda hidup kian berputar seiring gejolak yang ada, sulitnya mencari kerja sangat dirasa bagi kaum muda. Hanya bermodal ijazah tanpa pengalaman rasanya tak cukup dan sangat tidak dipungkiri apapun & dimanapun link itu sangat menentukan akan peluang yang ada.

Satu goresan kembali hadir untuk kamu, dia & kita berjudul " adakah kesempatan ".

Berjalan pria tertunduk lesu tak bergairah
Tatap nanar dibalik rasa kecewa
Sesekali menengadah mendesah
Dalam doa berharap kan datang secercah cahaya

Bahagiakan orang tua bermodalkan ijazah
Hasil jerih payah cucuran keringat sang ayah
Sebagai buruh harian karyawan biasa
Agar dapat merubah nasib melebihi dirinya

Tiada pintu terbuka beri kesempatan
Alasan tiada pengalaman tak ada yang dikenal
Dalam hati kian bertanya kapankah ada kesempatan
Bagi dirinya merubah hidup layak dalam sepenggal

Berjalan seorang pria tak menyerah
Pantang hentikan pijak sebelum mencoba
Pigur ayah pedoman untuk melangkah
Walau tertatih penuh keyakinan bahagiakan orang tua

Kekeliruan...

Dalam menyikapi masalah yang ada terkadang kekeliruan selalu melanda tak dapat menahan bicara hingga berujung duka.

Satu goresan kembali hadir untuk kamu, dia dan kita berjudul " Kekeliruan ".

Ketika rembulan sembunyi dibalik mega
Ketika malam hadirkan senandung luka
Lirih bertanya dalam hati
Tertunduk lesu berteman sepi

Mengapa kepedihan begitu merobek hati
Untuk suatu kenangan yang telah berlalu
Tak dapat kumenahan hembusan bayu
Yang senantiasa hadirkan luka di hati

Kutahu raga ini bukan lagi menjadi milikmu
Namun sangat dirasa engkau ada di dalam kalbu
Penuh senyum menggoda dengan manja
Saat kita masih bersama untuk seia sekata

Kuberharap semua ini hanya sementara
Kekeliruan terselesaikan seiring doa
Hingga waktunya tiba kembali kita bersama
Kuyakini hati ini masih milikmu untuk selamanya


Kekeliruan...

Dalam menyikapi masalah yang ada terkadang kekeliruan selalu melanda tak dapat menahan bicara hingga berujung duka.

Satu goresan kembali hadir untuk kamu, dia dan kita berjudul " Kekeliruan ".

Ketika rembulan sembunyi dibalik mega
Ketika malam hadirkan senandung luka
Lirih bertanya dalam hati
Tertunduk lesu berteman sepi

Mengapa kepedihan begitu merobek hati
Untuk suatu kenangan yang telah berlalu
Tak dapat kumenahan hembusan bayu
Yang senantiasa hadirkan luka di hati

Kutahu raga ini bukan lagi menjadi milikmu
Namun sangat dirasa engkau ada di dalam kalbu
Penuh senyum menggoda dengan manja
Saat kita masih bersama untuk seia sekata

Kuberharap semua ini hanya sementara
Kekeliruan terselesaikan seiring doa
Hingga waktunya tiba kembali kita bersama
Kuyakini hati ini masih milikmu untuk selamanya


Kata yang diidamkan...

Kembali hadir satu goresan untuk kamu, dia dan kita berjudul " Kata yang diidamkan ".

Ketika pena menari diatas secarik kertas
Melenggang meliuk penuh gemulai
Tunjukan tarian klasik bagai identitas
Hingga tercipta satu kata penuh arti

Kata indah yang sering disaksikan
Kata singkat penuh makna menggelora
Namun kata menjadi rasa yang kian langka
Dalam meniti perjalanan kehidupan

Adakah kata dan rasa itu bersemayam didada
Atau hanya sebagai kiasan belaka 
Kata kian menggaung penuh keindahan
Dan kata yang diidamkan adalah kata ketulusan...

Kata yang diidamkan...

Kembali hadir satu goresan untuk kamu, dia dan kita berjudul " Kata yang diidamkan ".

Ketika pena menari diatas secarik kertas
Melenggang meliuk penuh gemulai
Tunjukan tarian klasik bagai identitas
Hingga tercipta satu kata penuh arti

Kata indah yang sering disaksikan
Kata singkat penuh makna menggelora
Namun kata menjadi rasa yang kian langka
Dalam meniti perjalanan kehidupan

Adakah kata dan rasa itu bersemayam didada
Atau hanya sebagai kiasan belaka 
Kata kian menggaung penuh keindahan
Dan kata yang diidamkan adalah kata ketulusan...

Pudar pesona...

Menari pena diatas kertas tergores kata dalam lamunan jiwa, kembali hadir kembali satu goresan untuk kamu, dia dan kita berjudul " Pudar pesona " 

Bukan tak tahu diri
Hanya sekedar mengagumi
Satu cipta penuh pesona
Bertabur bunga bagai di taman nirwana

Tak mungkin bersaing utk menjajaki
Seiring pijak menyadari tak pantas untuk memiliki
Diantara kumbang muda nan gagah perkasa
Diri ini hanyalah sebagai pelengkap derita

Disaat bunga mulai tertunduk lesu
Hilang rona merekah berselimut gundah
Pudar pesona terhisap sari madu
Kembali berpaling disaat putik mulai tumbuh

Pudar pesona...

Menari pena diatas kertas tergores kata dalam lamunan jiwa, kembali hadir kembali satu goresan untuk kamu, dia dan kita berjudul " Pudar pesona " 

Bukan tak tahu diri
Hanya sekedar mengagumi
Satu cipta penuh pesona
Bertabur bunga bagai di taman nirwana

Tak mungkin bersaing utk menjajaki
Seiring pijak menyadari tak pantas untuk memiliki
Diantara kumbang muda nan gagah perkasa
Diri ini hanyalah sebagai pelengkap derita

Disaat bunga mulai tertunduk lesu
Hilang rona merekah berselimut gundah
Pudar pesona terhisap sari madu
Kembali berpaling disaat putik mulai tumbuh

Tak perlu...

Satu goresan kembali hadir untuk kamu, dia dan kita berjudul " Tak perlu ".
 
Tak perlu bersilat lidah
Untuk apa juga menghujat
Hanya untuk satu kepuasan yang tak lekat
Hingga terbelenggu rasa gundah

Tak perlu turuti emosi jiwa
Hingga berujung rasa benci
Lebih baik renungi dan tanyakan hati
Masihkah satu rasa tersimpan disana

Tak perlu ragu untuk mengakui
Tak harus bicara harga diri akan rasa yang hakiki
Kembalilah menapaki hari berganti
Dalam belaian kasih nan murni

Tak perlu...

Satu goresan kembali hadir untuk kamu, dia dan kita berjudul " Tak perlu ".
 
Tak perlu bersilat lidah
Untuk apa juga menghujat
Hanya untuk satu kepuasan yang tak lekat
Hingga terbelenggu rasa gundah

Tak perlu turuti emosi jiwa
Hingga berujung rasa benci
Lebih baik renungi dan tanyakan hati
Masihkah satu rasa tersimpan disana

Tak perlu ragu untuk mengakui
Tak harus bicara harga diri akan rasa yang hakiki
Kembalilah menapaki hari berganti
Dalam belaian kasih nan murni

Prahara...



Kembali hadir satu goresan untuk kamu, dia dan kita berjudul “ prahara “.

Beri aku kesempatan jeda
Untuk menghilangkan lelah
Atau sekedar menghapus dahaga
Seakan tak mampu lagi untuk melangkah

Begitu jauh jarak yang kutempuh
Tak diindahkan terpaan hujan atau terik mentari
Dipelupuk mata satu asa dapat kurengkuh
Namun entah mengapa sirna bagai ditelan bumi

Tak dapat berkata akan apa yang dirasa
Serasa hati membisu…air mata membeku
Terbelenggu akan segumpal harapan semu
Kembali terjatuh dalam hempasan prahara

Prahara...



Kembali hadir satu goresan untuk kamu, dia dan kita berjudul “ prahara “.

Beri aku kesempatan jeda
Untuk menghilangkan lelah
Atau sekedar menghapus dahaga
Seakan tak mampu lagi untuk melangkah

Begitu jauh jarak yang kutempuh
Tak diindahkan terpaan hujan atau terik mentari
Dipelupuk mata satu asa dapat kurengkuh
Namun entah mengapa sirna bagai ditelan bumi

Tak dapat berkata akan apa yang dirasa
Serasa hati membisu…air mata membeku
Terbelenggu akan segumpal harapan semu
Kembali terjatuh dalam hempasan prahara

Untukmu ibu kita R.A Kartini...

Bangsa yang besar adalah yang dapat menghormati dan menghargai jasa pahlawannya, untuk itu pula hadir satu goresan untuk kita semua berjudul "Untukmu ibu kita R.A Kartini ".

Ketika aksara gelayuti jiwa
Kian tertoreh cipta rasa karsa
Sekian lama berdiri diantara tirani
Tak ingin menentang para priyayi

Tatap nanar akan sekitar
Tak ingin sekedar penghias raga
Walau terseok hati tak pernah pudar
Nyalakan api dalam gelap gulita

Tekad kian mendera bangkitkan jiwa
Setara adalah tujuan hidupnya
Tiada pembeda antara pria dan wanita
Dalam pingitan emansipasi tercipta

Mengemban tujuan mulia
Kini Kembali kepada kodratnya
Sebagai pendamping seorang priyayi
Untukmu ibu kita R.A.Kartini

Untukmu ibu kita R.A Kartini...

Bangsa yang besar adalah yang dapat menghormati dan menghargai jasa pahlawannya, untuk itu pula hadir satu goresan untuk kita semua berjudul "Untukmu ibu kita R.A Kartini ".

Ketika aksara gelayuti jiwa
Kian tertoreh cipta rasa karsa
Sekian lama berdiri diantara tirani
Tak ingin menentang para priyayi

Tatap nanar akan sekitar
Tak ingin sekedar penghias raga
Walau terseok hati tak pernah pudar
Nyalakan api dalam gelap gulita

Tekad kian mendera bangkitkan jiwa
Setara adalah tujuan hidupnya
Tiada pembeda antara pria dan wanita
Dalam pingitan emansipasi tercipta

Mengemban tujuan mulia
Kini Kembali kepada kodratnya
Sebagai pendamping seorang priyayi
Untukmu ibu kita R.A.Kartini

Kata tersirat 2...

Kata terkadang penuh makna terkadang juga dapat menjadi problema bila kita tak dapat menyikapinya.

Kata yang ada akhirnya terangkum dalam satu goresan untuk kamu, dia dan kita dengan judul " Kata tersirat 2 ".

Tak ingin ku banyak cakap
Akan segala sesuatu yang belum terungkap
Biarkan air mengalir apa adanya
Tak ingin membendung atau alihkan alirannya

Itulah aku yang telah hentikan langkahmu
Agar tak salah berpijak dalam pandangan semu
Kubiarkan kata menjadi akhir perjalanan
Hingga dirimu yang akan buktikan

Kata yg menghujam itu bermakna ganda
Kata itu benar bila tak dapat pendam rasa
Kata menjadi pedoman agar tak salah dalam melangkah
Kata itu juga yang ingatkan hadirku disaat dirimu kian menjauh

Kata tersirat 2...

Kata terkadang penuh makna terkadang juga dapat menjadi problema bila kita tak dapat menyikapinya.

Kata yang ada akhirnya terangkum dalam satu goresan untuk kamu, dia dan kita dengan judul " Kata tersirat 2 ".

Tak ingin ku banyak cakap
Akan segala sesuatu yang belum terungkap
Biarkan air mengalir apa adanya
Tak ingin membendung atau alihkan alirannya

Itulah aku yang telah hentikan langkahmu
Agar tak salah berpijak dalam pandangan semu
Kubiarkan kata menjadi akhir perjalanan
Hingga dirimu yang akan buktikan

Kata yg menghujam itu bermakna ganda
Kata itu benar bila tak dapat pendam rasa
Kata menjadi pedoman agar tak salah dalam melangkah
Kata itu juga yang ingatkan hadirku disaat dirimu kian menjauh

Kata tersirat 1...

Dari kata akan hadir satu rasa penuh pesona namun dari kata juga duka dapat menyelimuti hati.

Rangkuman kata yang ada kembali hadir menemani kamu, dia dan kita berjudul " Kata tersirat 1 ".

Kuakui kata-kata yang terlontar
Bagai bilah pisau menyayat tinggalkan luka bernanah
Namun pernahkah bertanya akan kata yang melesat bagai anak panah
Hingga terlepas dari tali busur

Bukan membela diri karena itu percuma
Tak kan kuminta agar dirimu kembali merajut
Karena hatimu telah tertutup hingga hilang segala rasa
Bukan juga maksudku untuk selalu mengungkit

Bagiku rembulan tetap bersinar walau tertutup pekatnya mega
Tak kan pernah berubah
Walau rembulan pernah terbelah
Begitu juga akan kasih yang telah bersemayam dalam jiwa

Kata tersirat 1...

Dari kata akan hadir satu rasa penuh pesona namun dari kata juga duka dapat menyelimuti hati.

Rangkuman kata yang ada kembali hadir menemani kamu, dia dan kita berjudul " Kata tersirat 1 ".

Kuakui kata-kata yang terlontar
Bagai bilah pisau menyayat tinggalkan luka bernanah
Namun pernahkah bertanya akan kata yang melesat bagai anak panah
Hingga terlepas dari tali busur

Bukan membela diri karena itu percuma
Tak kan kuminta agar dirimu kembali merajut
Karena hatimu telah tertutup hingga hilang segala rasa
Bukan juga maksudku untuk selalu mengungkit

Bagiku rembulan tetap bersinar walau tertutup pekatnya mega
Tak kan pernah berubah
Walau rembulan pernah terbelah
Begitu juga akan kasih yang telah bersemayam dalam jiwa

Aku bukan seperti dia...

 


"Istighfar Ren, gue tahu pribadi loe yang sebenarnya. tapi kenapa sekarang loe seperti ini. Apa..apa yang membuat loe berubah seperti ini Ren !?."

Masih lekat dalam ingatannya ketika Trian menegur dirinya dengan keras dan tegas. Kini dihelanya nafas panjang-panjang sambil sesekali dipandanginya curahan air dari ketinggian 20 m yang tak henti-hentinya menghujam deras batu cadas yang berada dibawahnya. Dibiarkannya butiran-butiran Air terjun yang sesekali menerpa mukanya oleh hembusan angin.

Sudah 2 jam lebih ia duduk termenung disalah satu batu yang terletak tidak jauh dari air terjun ini. Tak di indahkannya para pengunjung yang hilir mudik ataupun tertawa ceria penuh canda. Kini rasa sesal mulai menyelimuti dirinya. Ia tidak tahu kenapa dirinya menjadi seperti sekarang ini.

Dibuangnya jauh-jauh segala pertanyaan yang ada dalam benaknya dengan segera diambil jacketnya yang terletak diatas batu besar, kini ia ingin melanjutkan perjalanan kembali untuk mengisi  liburannya kali ini dengan ditemani oleh motor besarnya. Ya, hanya motor besar inilah  teman setiaku. Ucap  Rendy dalam hati sambil memacu motornya menuju kemana saja yang diingini.

"Rendy, kamu tidak kerja ?."Tanya mamanya yang melihat Rendy masih bermalas-malasan dipembaringan.
"Kerja ma, sebentar lagi."Sahut Rendy singkat yang masih tidak bergeming dari nyamannya pembaringan.
"Ini sudah jam 7, ayo cepat mandi." Perintah mamanya sambil membuka gorden dan jendela kamar Rendy sehingga sinar mentari pagi langsung menyeruak masuk dan menerpa wajahnya Rendy. Rendy hanya bisa memicingkan matanya dan dengan segera ia bangun dari pembaringan.

Liburan panjang telah membuat dirinya malas untuk berangkat kerja namun karena hari ini ada meeting bulanan, mau tidak mau dilawannya juga rasa malas dalam dirinya.

Namun baru saja ia akan melangkahkan kakinya menuju ruang meeting tanda pesan masuk dihpnya berdering, dilihat pesan masuk dari Nosa dengan segera dibuka dan dibacanya.

Rendy, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan lagi padamu. Aku hanya merasa diriku sedang berada dipersimpangan jalan. Aku menilai dirimu tidak serius dalam menjalin hubungan denganku.  Aku selalu bersabar dalam menghadapi sikapmu, namun bila kau rasa aku bukan pilihanmu. Katakanlah...Terima kasih.

Dengan sikapnya yang cuek  Rendy menghapus isi pesan singkat dari Nosa dan ini adalah pesan singkat yang isinya kurang lebih sama dengan yang telah diterimanya dari 3 wanita berbeda.

"Kegagalan demi kegagalanlah yang membuat aku seperti  ini."Gumannya dalam hati sambil menundukan kepalanya.
"Aku tidak percaya lagi dengan senyum manis wanita dan pesona cinta. Awalnya saja manis namun pada akhirnya hanya membawa luka dan duka"  Tandasnya dalam hati dengan tatapan matanya yang penuh kebencian.

Kini  yang dilakukannya hanya mengembara dari satu hati wanita ke lain hati wanita. Ia tidak perduli lagi dengan sakit yang dirasa wanita. Baginya dendam sudah terbayar bila ia sudah dapat menaklukan hati wanita.

Sementara dikejauhan sana, diruang kerjanya, pikiran nosa benar-benar tidak karuan. Ia tidak dapat memfokuskan pikirannya pada pekerjaan.  Rasa kesal, rasa kecewa dan rasa benci benar-benar bercampur dan berkecamuk didalam hatinya karena Sms yang dikirimnya ke Rendy tadi pagi belum juga dibalasnya hingga siang hari ini. Dihubungi sedari tadi jawaban dari hpnya'pun selalu dialihkan.Gumannya dalam hati penuh kesal.
"Maunya apa sih ?."Tanya bathinnya.
Ingin rasanya ia menyudahi hubungannya dengan Rendy yang baru dijalaninya selama 3 bulan belakangan ini karena ia menilai Rendy benar-benar sangat tidak perduli dan cuek. Namun ia'pun tidak dapat membohongi hati kecilnya bila ia masih memiliki rasa simpati pada Rendy.

Kini ingatannya kembali tertuju pada cerita Trian sebulan yang lalu tentang diri Rendy yang sebenarnya, tersirat rasa iba dan rasa ingin tahunya apa sebenarnya yang membuat diri  Rendy  seperti sekarng ini. Katanya dalam hati penuh tanda tanya.

Sepualng kerja Nosa sengaja menyempatkan dirinya untuk menemui Rendy dirumahnya. Walau bagaimanapun ia masih belum puas dengan sikap Rendy yang tidak membalas smsnya.

"Assalamu'alaikum". Ucap Nosa sambil mengetuk daun pintu sebuah rumah yang terlihat cukup asri.
"Waalaikum salam"sahut suara yang cukup dikenalnya sambil membuka pintu.
"Mama..!."Sapa Nosa ceria sambil salim dan memeluk serta mencium kedua pipi  mamanya Yuda.
"Nosa..apa kabar kamu nak !?."Sambut hangat mamanya Rendy.
"Alhamdulillah, sehat ma. Mama sehat juga kan ?."Sahut Nosa balik bertanya
"Alhamdulillah, mama panggilkan Rendy dulu ya Nos."
"Terima kasih ya ma."Sahut Nosa. Ia merasakan bathinnya sudah begitu dekat dengan mamanya  Rendy.

Ada perasaan miris bila ia duduk diruang tamu dan melihat foto almarhum ayahnya Rendy yang terpampang di dinding. Karena sejak Rendy berusia 12 tahun sudah merasakan kehilangan pigur dari seorang ayah.
"Kamu pulang kerja Nos ?." Tiba-tiba pertanyaan Rendy membuyarkan lamunannya tentang almarhum ayah Rendy.
"Iya."sahut Nosa singkat sambil memaksakan  senyum namun tidak dapat menyembunyikan kekesalannya.
" kamu kemana sih dari tadi sms tidak dibalas. Telepon juga dialihkan. Maksud kamu apa ?."Tanya Nosa pada Rendy yang duduk disampingnya.
"Seharian tadi aku meeting, jadi belum sempat balas. Tapi hp sudah aku aktifkan kok."Sahut Rendy  sedikit cuek
"Ooo..gitu.tidak ada waktu istirahat sama sekali, meeting terus….!."Ucap Nosa meledek penuh kekesalan.
"Apaan sih kamu, datang marah-marah."Tukas Rendy mulai kesal
"Aku tidak marah, tapi aku kesal dan aku tidak bisa terima dengan sikap kamu yang seperti ini terus menerus." Sungut Nosa.
"Ya sudah.. Kalau tidak bisa terima, kenapa harus repot-repot datang kemari."Jawab Rendy enteng.
Mendengar perkataan Rendy dengan seketika membangunkan emosi dan harga dirinya.
"Maksud kamu apa bicara seperti itu ?." Sahut Nosa yang kini tidak dapat mengendalikan emosinya  "kamu ingin aku tidak datang kemari lagi. Baik kalau itu yang kamu inginkan sekarang juga kita putus."Sahutnya lagi penuh emosi dengan segera ditinggalkannya Rendy yang masih terdiam sambil membanting pintu pagar keras-keras.

Kini perasaan wanitanya mulai tergores dengan sesekali Nosa menyeka air mata yang menetes dipipinya. Ia tidak menyangka bila Rendy bersikap seperti itu. ia pacu mobil yang dikemudikannya. Kini Keinginannya hanya satu ia ingin segera sampai dirumah dan menumpahkan segala rasa yang ada dipembaringan kamarnya. Keinginan itu pulalah yang membuat Nosa tidak mengindahkan akan batas maksimum kecepatan kendaraan yang melewati jalan Tol.

Rendy merebahkan tubuhnya dipembaringan, ada rasa sesal yang dirasa akan perkataan dan sikapnya pada Nosa. Namun baru saja ia ingin memejamkan matanya hp yang diletakan dimeja disamping pembaringannya berdering, dengan segera ia mengangkat hpnya dan dilihat pd layar tertera nama Nosa.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikum salam". Jawab suara diseberang sana yang seketika membuat Rendy bangun dari pembaringannya karena suara tersebut adalah suara seorang pria yang tidak dikenal
"Bapak Rendy."Tanya suara diseberang sana
"Ya, siapa ini."Sahut Rendy bertanya
"Kami dari pihak Kepolisian lalu lintas, ingin menyampaikan bahwa sdri. Nosa telah mengalami kecelakaan dan sekarang berada dirumah sakit." Dengan seketika Rendy tak dapat berkata apa-apa serasa degup jantungnya berhenti sejenak dan ia terduduk lunglai dipembaringannya. Rasa sesal kini benar-benar  menyelimuti dirinya dengan segera ia menuju rs yg disebutkan oleh pihak kepolisian.

Sambil berlari kecil Rendy menuju ruang IGD dengan segera ia menghampiri tubuh Nosa yang msh tak sadarkan diri diatas pembaringan.
"Nosa, maafkan aku Nos..!."Ucap  Rendy dengan suaranya yang agak parau menahan kesedihannya sambil memeluk tubuh Nosa, diperhatikannya tubuh Nosa dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dilihat ada luka memar didahinya dan jarum infus telah tertanam dilengan kirinya.
"Suster, bagaimana kondisinya."Tanya Rendy sedikit panik ketika suster akan melakukan pengecekan medis pada Nosa.
"Sabar ya pak, kondisi pasien belum stabil sebaiknya bapak tunggu diluar saja."Sahut suster sambil mengecek kondisi Nosa.
"Tidak sus, aku akan tetap menunggu disini."Jawab Rendy tegas.
"Berdoa saja ya pak, semoga tidak lama lagi pasien akan siuman."
"Terima kasih sus." Sahut  Rendy matanya mulai berbinar menahan rasa sedih dan sesalnya.

Kini digenggamnya jemari tangan kanan Nosa agar ia dapat merasakan dan mengetahui saat Nosa siuman. Tidak lama berselang jemari Nosa mulai dirasakan bergerak lemah dengan segera ia berdiri dari tempat duduknya yang berada disamping pembaringan.
"Nosa."Sapa Rendy pelan ditelinga Nosa dan perlahan Nosa mulai membuka matanya.
"Yuda, aku ada dimana ?."Tanya Nosa sambil menatap langit2 ruang IGD dan sedikit memicingkan matanya menahan rasa sakit didahinya akibat benturan air bag yang mengembang dengan tiba-tiba setelah kendaraannya membentur guardial jalan tol.
"Kamu ada dirumah sakit."Sahut Rendy yang tak dapat menahan kesedihannya namun tetap berusaha untuk menahan tangisnya, hanya air matanya saja yang mulai bergulir membasahi pipinya.
"Kamu menangis Ren ?."Tanya Nosa sambil menatap wajah Rendy.
"Maafkan aku Nos."ucap Rendy sambil menggenggam jemari Nosa dan Nosa'pun membalas genggaman jemari Rendy sambil mengangguk kecil tersenyum sementara diujung matanya mulai tergenang air mata.
"Kamu janji akan kembali kepada kepribadianmu yang sebenarnya, walau untuk mengembalikannya aku harus merasakan seperti ini."Kata Nosa sambil menatap penuh serius wajah Rendy yang tersirat akan kesedihan.
Dengan segera Rendy membungkuk dan memeluk tubuh Nosa yang terbaring sambil terisak.
"Maafkan aku Nos, aku salah..sangat salah dengan apa yang kulakukan selama ini. Aku menyayangimu Nos."
Dengan segera Nosa melingkarkan kedua tangannya ketubuh Rendy dengan perasaan harunya yang tak tertahankan.
"Aku juga menyayangimu Ren tapi harus selalu kamu ingat, aku bukan dia. Aku bukan sepeti dia yang telah menyakiti dan meniggalkan luka dihatimu." Ucap Nosa dengan tegas yang kini juga larut dalam isak tangisnya. Namun Tangisnya saat ini adalah tangisan penuh kebahagiaan akan hadirnya kembali kepribadian Rendy yang sebenarnya. Kepribadian yang sangat menghargai dan menghormati akan arti cinta kasih yang sesungguhnya.

Aku bukan seperti dia...



"Istighfar Ren, gue tahu pribadi loe yang sebenarnya. tapi kenapa sekarang loe seperti ini. Apa..apa yang membuat loe berubah seperti ini Ren !?."

Masih lekat dalam ingatannya ketika Trian menegur dirinya dengan keras dan tegas. Kini dihelanya nafas panjang-panjang sambil sesekali dipandanginya curahan air dari ketinggian 20 m yang tak henti-hentinya menghujam deras batu cadas yang berada dibawahnya. Dibiarkannya butiran-butiran Air terjun yang sesekali menerpa mukanya oleh hembusan angin.

Sudah 2 jam lebih ia duduk termenung disalah satu batu yang terletak tidak jauh dari air terjun ini. Tak di indahkannya para pengunjung yang hilir mudik ataupun tertawa ceria penuh canda. Kini rasa sesal mulai menyelimuti dirinya. Ia tidak tahu kenapa dirinya menjadi seperti sekarang ini.

Dibuangnya jauh-jauh segala pertanyaan yang ada dalam benaknya dengan segera diambil jacketnya yang terletak diatas batu besar, kini ia ingin melanjutkan perjalanan kembali untuk mengisi  liburannya kali ini dengan ditemani oleh motor besarnya. Ya, hanya motor besar inilah  teman setiaku. Ucap  Rendy dalam hati sambil memacu motornya menuju kemana saja yang diingini.

"Rendy, kamu tidak kerja ?."Tanya mamanya yang melihat Rendy masih bermalas-malasan dipembaringan.
"Kerja ma, sebentar lagi."Sahut Rendy singkat yang masih tidak bergeming dari nyamannya pembaringan.
"Ini sudah jam 7, ayo cepat mandi." Perintah mamanya sambil membuka gorden dan jendela kamar Rendy sehingga sinar mentari pagi langsung menyeruak masuk dan menerpa wajahnya Rendy. Rendy hanya bisa memicingkan matanya dan dengan segera ia bangun dari pembaringan.

Liburan panjang telah membuat dirinya malas untuk berangkat kerja namun karena hari ini ada meeting bulanan, mau tidak mau dilawannya juga rasa malas dalam dirinya.

Namun baru saja ia akan melangkahkan kakinya menuju ruang meeting tanda pesan masuk dihpnya berdering, dilihat pesan masuk dari Nosa dengan segera dibuka dan dibacanya.

Rendy, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan lagi padamu. Aku hanya merasa diriku sedang berada dipersimpangan jalan. Aku menilai dirimu tidak serius dalam menjalin hubungan denganku.  Aku selalu bersabar dalam menghadapi sikapmu, namun bila kau rasa aku bukan pilihanmu. Katakanlah...Terima kasih.

Dengan sikapnya yang cuek  Rendy menghapus isi pesan singkat dari Nosa dan ini adalah pesan singkat yang isinya kurang lebih sama dengan yang telah diterimanya dari 3 wanita berbeda.

"Kegagalan demi kegagalanlah yang membuat aku seperti  ini."Gumannya dalam hati sambil menundukan kepalanya.
"Aku tidak percaya lagi dengan senyum manis wanita dan pesona cinta. Awalnya saja manis namun pada akhirnya hanya membawa luka dan duka"  Tandasnya dalam hati dengan tatapan matanya yang penuh kebencian.

Kini  yang dilakukannya hanya mengembara dari satu hati wanita ke lain hati wanita. Ia tidak perduli lagi dengan sakit yang dirasa wanita. Baginya dendam sudah terbayar bila ia sudah dapat menaklukan hati wanita.

Sementara dikejauhan sana, diruang kerjanya, pikiran nosa benar-benar tidak karuan. Ia tidak dapat memfokuskan pikirannya pada pekerjaan.  Rasa kesal, rasa kecewa dan rasa benci benar-benar bercampur dan berkecamuk didalam hatinya karena Sms yang dikirimnya ke Rendy tadi pagi belum juga dibalasnya hingga siang hari ini. Dihubungi sedari tadi jawaban dari hpnya'pun selalu dialihkan.Gumannya dalam hati penuh kesal.
"Maunya apa sih ?."Tanya bathinnya.
Ingin rasanya ia menyudahi hubungannya dengan Rendy yang baru dijalaninya selama 3 bulan belakangan ini karena ia menilai Rendy benar-benar sangat tidak perduli dan cuek. Namun ia'pun tidak dapat membohongi hati kecilnya bila ia masih memiliki rasa simpati pada Rendy.

Kini ingatannya kembali tertuju pada cerita Trian sebulan yang lalu tentang diri Rendy yang sebenarnya, tersirat rasa iba dan rasa ingin tahunya apa sebenarnya yang membuat diri  Rendy  seperti sekarng ini. Katanya dalam hati penuh tanda tanya.

Sepualng kerja Nosa sengaja menyempatkan dirinya untuk menemui Rendy dirumahnya. Walau bagaimanapun ia masih belum puas dengan sikap Rendy yang tidak membalas smsnya.

"Assalamu'alaikum". Ucap Nosa sambil mengetuk daun pintu sebuah rumah yang terlihat cukup asri.
"Waalaikum salam"sahut suara yang cukup dikenalnya sambil membuka pintu.
"Mama..!."Sapa Nosa ceria sambil salim dan memeluk serta mencium kedua pipi  mamanya Yuda.
"Nosa..apa kabar kamu nak !?."Sambut hangat mamanya Rendy.
"Alhamdulillah, sehat ma. Mama sehat juga kan ?."Sahut Nosa balik bertanya
"Alhamdulillah, mama panggilkan Rendy dulu ya Nos."
"Terima kasih ya ma."Sahut Nosa. Ia merasakan bathinnya sudah begitu dekat dengan mamanya  Rendy.

Ada perasaan miris bila ia duduk diruang tamu dan melihat foto almarhum ayahnya Rendy yang terpampang di dinding. Karena sejak Rendy berusia 12 tahun sudah merasakan kehilangan pigur dari seorang ayah.
"Kamu pulang kerja Nos ?." Tiba-tiba pertanyaan Rendy membuyarkan lamunannya tentang almarhum ayah Rendy.
"Iya."sahut Nosa singkat sambil memaksakan  senyum namun tidak dapat menyembunyikan kekesalannya.
" kamu kemana sih dari tadi sms tidak dibalas. Telepon juga dialihkan. Maksud kamu apa ?."Tanya Nosa pada Rendy yang duduk disampingnya.
"Seharian tadi aku meeting, jadi belum sempat balas. Tapi hp sudah aku aktifkan kok."Sahut Rendy  sedikit cuek
"Ooo..gitu.tidak ada waktu istirahat sama sekali, meeting terus….!."Ucap Nosa meledek penuh kekesalan.
"Apaan sih kamu, datang marah-marah."Tukas Rendy mulai kesal
"Aku tidak marah, tapi aku kesal dan aku tidak bisa terima dengan sikap kamu yang seperti ini terus menerus." Sungut Nosa.
"Ya sudah.. Kalau tidak bisa terima, kenapa harus repot-repot datang kemari."Jawab Rendy enteng.
Mendengar perkataan Rendy dengan seketika membangunkan emosi dan harga dirinya.
"Maksud kamu apa bicara seperti itu ?." Sahut Nosa yang kini tidak dapat mengendalikan emosinya  "kamu ingin aku tidak datang kemari lagi. Baik kalau itu yang kamu inginkan sekarang juga kita putus."Sahutnya lagi penuh emosi dengan segera ditinggalkannya Rendy yang masih terdiam sambil membanting pintu pagar keras-keras.

Kini perasaan wanitanya mulai tergores dengan sesekali Nosa menyeka air mata yang menetes dipipinya. Ia tidak menyangka bila Rendy bersikap seperti itu. ia pacu mobil yang dikemudikannya. Kini Keinginannya hanya satu ia ingin segera sampai dirumah dan menumpahkan segala rasa yang ada dipembaringan kamarnya. Keinginan itu pulalah yang membuat Nosa tidak mengindahkan akan batas maksimum kecepatan kendaraan yang melewati jalan Tol.

Rendy merebahkan tubuhnya dipembaringan, ada rasa sesal yang dirasa akan perkataan dan sikapnya pada Nosa. Namun baru saja ia ingin memejamkan matanya hp yang diletakan dimeja disamping pembaringannya berdering, dengan segera ia mengangkat hpnya dan dilihat pd layar tertera nama Nosa.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikum salam". Jawab suara diseberang sana yang seketika membuat Rendy bangun dari pembaringannya karena suara tersebut adalah suara seorang pria yang tidak dikenal
"Bapak Rendy."Tanya suara diseberang sana
"Ya, siapa ini."Sahut Rendy bertanya
"Kami dari pihak Kepolisian lalu lintas, ingin menyampaikan bahwa sdri. Nosa telah mengalami kecelakaan dan sekarang berada dirumah sakit." Dengan seketika Rendy tak dapat berkata apa-apa serasa degup jantungnya berhenti sejenak dan ia terduduk lunglai dipembaringannya. Rasa sesal kini benar-benar  menyelimuti dirinya dengan segera ia menuju rs yg disebutkan oleh pihak kepolisian.

Sambil berlari kecil Rendy menuju ruang IGD dengan segera ia menghampiri tubuh Nosa yang msh tak sadarkan diri diatas pembaringan.
"Nosa, maafkan aku Nos..!."Ucap  Rendy dengan suaranya yang agak parau menahan kesedihannya sambil memeluk tubuh Nosa, diperhatikannya tubuh Nosa dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dilihat ada luka memar didahinya dan jarum infus telah tertanam dilengan kirinya.
"Suster, bagaimana kondisinya."Tanya Rendy sedikit panik ketika suster akan melakukan pengecekan medis pada Nosa.
"Sabar ya pak, kondisi pasien belum stabil sebaiknya bapak tunggu diluar saja."Sahut suster sambil mengecek kondisi Nosa.
"Tidak sus, aku akan tetap menunggu disini."Jawab Rendy tegas.
"Berdoa saja ya pak, semoga tidak lama lagi pasien akan siuman."
"Terima kasih sus." Sahut  Rendy matanya mulai berbinar menahan rasa sedih dan sesalnya.

Kini digenggamnya jemari tangan kanan Nosa agar ia dapat merasakan dan mengetahui saat Nosa siuman. Tidak lama berselang jemari Nosa mulai dirasakan bergerak lemah dengan segera ia berdiri dari tempat duduknya yang berada disamping pembaringan.
"Nosa."Sapa Rendy pelan ditelinga Nosa dan perlahan Nosa mulai membuka matanya.
"Yuda, aku ada dimana ?."Tanya Nosa sambil menatap langit2 ruang IGD dan sedikit memicingkan matanya menahan rasa sakit didahinya akibat benturan air bag yang mengembang dengan tiba-tiba setelah kendaraannya membentur guardial jalan tol.
"Kamu ada dirumah sakit."Sahut Rendy yang tak dapat menahan kesedihannya namun tetap berusaha untuk menahan tangisnya, hanya air matanya saja yang mulai bergulir membasahi pipinya.
"Kamu menangis Ren ?."Tanya Nosa sambil menatap wajah Rendy.
"Maafkan aku Nos."ucap Rendy sambil menggenggam jemari Nosa dan Nosa'pun membalas genggaman jemari Rendy sambil mengangguk kecil tersenyum sementara diujung matanya mulai tergenang air mata.
"Kamu janji akan kembali kepada kepribadianmu yang sebenarnya, walau untuk mengembalikannya aku harus merasakan seperti ini."Kata Nosa sambil menatap penuh serius wajah Rendy yang tersirat akan kesedihan.
Dengan segera Rendy membungkuk dan memeluk tubuh Nosa yang terbaring sambil terisak.
"Maafkan aku Nos, aku salah..sangat salah dengan apa yang kulakukan selama ini. Aku menyayangimu Nos."
Dengan segera Nosa melingkarkan kedua tangannya ketubuh Rendy dengan perasaan harunya yang tak tertahankan.
"Aku juga menyayangimu Ren tapi harus selalu kamu ingat, aku bukan dia. Aku bukan sepeti dia yang telah menyakiti dan meniggalkan luka dihatimu." Ucap Nosa dengan tegas yang kini juga larut dalam isak tangisnya. Namun Tangisnya saat ini adalah tangisan penuh kebahagiaan akan hadirnya kembali kepribadian Rendy yang sebenarnya. Kepribadian yang sangat menghargai dan menghormati akan arti cinta kasih yang sesungguhnya.