Elegi Nurayu....

Deburan ombak yang menghempas batu karang serta hembusan angin laut yang  menerpa tubuhnya tidak dihiraukannya. Andika tetap duduk beralaskan koran diatas pasir ditepi pantai sambil sesekali meluruskan kakinya, tatapannya jauh kelaut lepas menatap beberapa perahu nelayan yang berusaha menjaring ikan dilaut Pelabuhan Ratu Sukabumi.

Kini waktu libur dihari sabtu dan minggu lebih banyak dihabiskannya dengan bersepeda motor untuk mengunjungi tempat-tempat wisata yang berada didaerah Jawa Barat, ia lebih suka menyendiri untuk menikmati keindahan alam ciptaan dari Yang Maha Kuasa. Ya, ia ingin bebas kemana saja ia suka, sebebas kakinya  melangkah.

Kini  diambilnya secarik kertas surat yang berada disaku bagian dalam jacketnya, dibuka dan dibacanya dalam hati. Walau telah sering namun ia tidak bosan untuk membacanya berulang kali.

Andika, aku merasa begitu bahagia dengan kasih sayang yang telah kau curahkan selama ini. Kau habiskan hari-harimu hanya untuk memberiku semangat dan menuntunku dalam doa. Maafkan bila aku tidak dapat mewujudkan segala janji yang telah kita ikrarkan dalam kebersamaan. namun percayalah cinta kasihku yang tulus ini hanya teruntukmu dan selalu menyertaimu.

Andika, kuucapkan terima kasih yang tak terhingga akan segala perhatian dan kasih sayang yang telah kau berikan padaku selama ini. Kalaupun ada permintaan yang kuinginkan darimu, tetaplah kamu membuka hati dan menerima cinta kasih dari wanita lain sebagai penggantiku.

Tidak kunilai bahwa kau menghianatiku, tidak !. Tidak juga kurasakan bahwa dirimu telah menduakanku, namun yang ingin kurasakan adalah melihatmu tetap bahagia dengan kehadiran wanita lain sebagai penggantiku kelak, setelah diriku tiada. Kini sudah waktunya bagiku untuk pamit dan selalu menantikan doa darimu untuk kebahagianku dialam sana. Sekali lagi maafkan dan terima kasih untukmu...Andika.

Jakarta, 03 Nop.2015
Kasihmu.

Andika kembali melipat surat terakhir yang dibuat oleh Nurayu 5 bulan yang lalu. Kini Ditatapnya gelombang ditengah lautan, tatapnya nanar dan matanya mulai berbinar ditariknya nafas dalam-dalam untuk menghilangkan kesedihannya. Surat inilah yang selalu menemaninya dalam kesendirian dan kemanapun ia pergi, surat terakhir yang dibuat oleh Nurayu wanita yang dicintainya menjelang akhir hidupnya karena menderita kanker otak stadium 4. Masih lekat dalam ingatannya bila Nurayu sedang merasakan sakit dikepalanya hingga ia meremas-remas rambut dan menekan kulit kepalanya terkadang Andika berusaha untuk memijit pelan kepala Nurayu dan membiarkan tubuhnya untuk digenggam erat-erat oleh Nurayu guna meredakan rasa sakit dikepalanya.

Andika menghela nafasnya kembali, sangat jelas surat terakhir yang dibuat oleh Nurayu menginginkan agar dirinya membuka hati kembali kepada wanita lain. Namun kini keraguan tengah menyelimuti hatinya. Apakah Cynthia wanita muda penuh enerjik yang kini sedang dekat dengannya dan telah dikenalnya 3 bulan lalu disalah satu pernikahan temannya dapat menggantikan Nurayu atau tidak ?. Diakui olehnya ada beberapa kesamaan antara Nurayu dengan Cynthia, keduanya sama-sama cantik jelita dan keduanya dapat  diajak komunikasi serta tukar pikiran. Diajak makan di Warteg atau rumah makan yang berada dipinggiran trotoarpun bersedia dengan senang hati walau mereka berasal dari orang berada namun mereka cuek dan tidak perduli akan status. Apa yang harus kulakukan pikirnya dalam hati. Haruskah kuterima kehadiran Cynthia sebagai pengganti Nurayu guna menemani sepiku. Sementara dengan berjalannya waktu hubungannya dengan Cynthia semakin dekat dan Cynthiapun merespon akan kehadirannya walau ia sendiri belum berterus terang akan rasa simpatinya kepada Cynthia yang sudah beberapa kali  datang kerumahnya. Pikirnya lagi sambil  mengambil hp dari saku jacketnya yang sedari tadi berdering.
“Assalamu’alaikum.”ucap Andika setelah menekan tombol penerima panggilan masuk.
“Waalaikum salam.”sahut suara seorang wanita yang dikenalnya diseberang sana.
“kamu lagi dimana Dik ?.”tanya wanita tersebut
“Aku ada di Pelabuhan Ratu Sukabumi, ada apa Cyn ?.”sahut Andika bertanya sambil mengernyitkan dahinya.
“Aku ada dirumah kamu. Ya, sudah. Aku susul kesana saja ya Dik.”sahut Cynthia meminta namun dilarang oleh Andika
“Untuk apa Cyn,, sebentar lagi aku akan pulang kok.”ucap Andika sambil melangkahkan kakinya menuju tempat parkir motor.
“Ya, sudah. Aku tunggu dirumah saja, hati-hati. Ini mama mau bicara.”sahut Cynthia sambil menyerahkan hp kepada mamanya Andika.

Tidak begitu lama Andika berbicara dengan mamanya hingga diakhir pembicaraannya Andika hanya menahan kesalnya dengan kehadiran Cynthia dirumah sehingga diburu-buru untuk segera pulang oleh mamanya seperti layaknya anak kecil.
“Iya ma, sebentar lagi aku pulang. Doakan aku ya ma, assalamu’alaikum.”ucap Andika yang kini mengurungkan niatnya untuk bermalam disalah satu penginapan yang berada tidak jauh dari Pelabuhan Ratu.
“Waalaikum salam.”sahut mamanya dan segera memberikan hp kepada Cynthia sambil tersenyum.

Namun sebelum beranjak pergi untuk kembali ke Jakarta, Andika menyempatkan diri untuk mengirim pesan terlebih dulu melalui sms kepada Cynthia untuk tidak menunggunya karena diperkirakan malam hari ia baru sampai. Tak beda. Pikir Andika dalam hati sambil menggelengkan kepalanya,  Cynthia dengan Nurayu sama-sama keras kepala maka tidak heran bila Cynthia hanya membalasnya dengan singkat. “Jam berapapun kamu tiba, aku tetap akan menunggu.” Andika hanya bisa menghela nafasnya sambil menekan gas motornya dan memacunya untuk kembali ke Jakarta diiringi lagu Story of my life one direction yang diaktifkan dari hpnya melalui handset.

Sesampainya didepan rumah dilihatnya mobil Cynthia masih terparkir, dengan segera ia memasukan motornya dihalaman rumah.
Assalamu’alaikum.”sahut Andika sambil membuka sepatunya
“Waalaikum salam.”sahut Cynthia dari dalam menghampirinya sambil meraih tangan Andika untuk salim. Namun beberapa detik Andika tersentak kaget, hampir saja ia mencium kening Cynthia seperti apa yang sering dilakukannya pada Nurayu bila bertemu dengannya. Dengan perasaan malu Andika segera masuk kedalam untuk mencuci kaki dan tangan serta membasuh mukanya. Sementara Cynthia dan Winda adik perempuan satu-satunya  hanya tersenyum melihat Andika yang salah tingkah.
“memang seperti itu kak, kebiasaan mas Dika sama kak Ayu.”ucap Winda sambil duduk disofa.
“Maksudnya gimana Win?.tanya Cynthia yang belum mengerti dan ikut duduk disamping Winda.
“Iya, dulu bila kak Ayu salim, mas Dika selalu mengecup keningnya kak Ayu.”jawab Winda enteng. Cynthia hanya menganggukan kepala dan baru sadar bila tadi Andika sempat membungkukan badan dan menundukan kepala kearah keningnya. Apakah Andika terobsesi dengan mantan pacarnya. Pikir Cynthia dalam hati. Tapi rasanya itu bukan obsesi, hanya kebiasaan yang dilakukannya saja. Pikir Cynthia lagi dalam hati membela diri.
“Maaf ya Cyn, bila lama menunggu.”ucap Andika tiba-tiba mengagetkan Cynthia dan membuyarkan lamunannya.
“Tidak apa-apa Dik, aku kok yang salah. Mau kemari tidak bilang-bilang kamu dulu.”sahut Cynthia tersenyum.
“Kamu sudah makan Cyn ?.”tanya Andika
“Belum mas, dari tadi aku ajakin makan katanya nunggu mas Dika.”sahut Winda menyela pertanyaan Andika sambil menaiki anak tangga menuju kekamarnya. Sementara Cynthia hanya tersenyum tersipu.
“Loh kok nunggu aku sih Cyn.”tanya Andika pelan pada Cynthia yang masih tertunduk malu.
“Mau makan dirumah atau diluar ?.”tanya Andika lagi.
“Terserah kamu Dik.”sahut Cynthia sambil merapikan rambutnya yang tergerai.
“Kita cari tempat makan saja ya, sambil ngobrol.”sahut Andika dan Cynthia hanya mengangguk kecil menyetujuinya sambil menyerahkan kunci mobil pada Andika.

“Kamu tidak malam mingguan Cyn ?.”tanya Andika menggoda sambil mengemudi ketika dilihatnya beberapa pasangan muda-muda berboncengan naik motor.
“Ini sedang malam mingguan.”sahut Cynthia tersenyum membalas godaan Andika
“Maksudku sama cowok lain.”ucap Andika enteng
“Apaan sih kamu.”jawab Cynthia ketus sambil memalingkan wajahnya kearah jendela mobil. Sudah sering kali Andika menanyakan hal itu pada dirinya seolah Andika tidak pernah mengerti akan apa yang telah dilakukan dan dirasakannya selama ini. Ia’pun tidak perduli akan statusnya sebagai wanita untuk menemui Andika seperti apa yang dilakukannya saat ini.
“Maafkan aku ya Cyn.”ucap Andika yang mengetahui kekecewaan Cynthia akan pertanyaannya. Cynthia hanya terdiam dan Kini Andika berusaha untuk merengkuh jemari Cynthia namun dengan segera Cynthia menarik tangannya dengan kesal.
“sudah sering kamu tanyakan hal itu padaku Dik, selama ini kamu anggap apa aku ini. Hanya teman, iya !.”ucap Cynthia tiba-tiba penuh emosi.

Andika segera menepikan kendaraan yang dikemudikannya dipinggir jalan, dipilihnya lahan yang agak lebar agar tidak mengganggu kendaraan lain. Ia tidak menyangka bila pertanyaannya kali ini benar-benar menyinggung perasaan Cynthia.
“loh, kenapa kamu jadi marah seperti ini sih ?. Aku cuma bercanda Cyn.”ucap Andika berusaha menenangkan Cynthia.
“Bercanda, pertanyaan itu kamu bilang bercanda.”sahut Cynthia dengan ketusnya
“Ok, aku minta maaf. Aku akui, aku salah. Bagaimana sekarang, mau tetap cari makan atau pulang ?.”tanya Andika berusaha untuk tetap tenang.
“Aku sudah tidak selera, aku ingin pulang.”jawab Cynthia masih ketus dan emosi.
“baik kalau memang itu keinginanmu.”ucap Andika sambil membuka pintu mobil dan keluar berjalan meninggalkan Cynthia didalam mobil.
Chyntia tersentak dan tidak menyangka akan apa yang dilakukan oleh Andika dengan segera ia membuka pintu mobilnya mengejar dan menghampiri Andika, walau bagaimanapun ia tidak ingin melihat Andika marah dan meninggalkannya. Andika yang mengetahui hal itu dengan segera menghentikan langkahnya dan membalikan tubuhnya, kini ditatapnya wajah Cynthia yang berada tepat didepannya sedang menahan isak tangisnya.
“Kamu jahat.”ucapnya terisak sambil memukul dada Andika dan menjatuhkan dirinya dalam pelukan Andika. Tidak diperdulikannya orang-orang yang lalu lalang dan sedang memperhatikannya.
“Ya, aku jahat karena aku telah menyayangi dan mencintaimu Chyn.”ucap Andika pelan ditelinga Cynthia yang masih terisak. Dengan segera Cynthia mengangkat kepalanya dan menatap mata Andika.
“Apa..?.”tanya Cynthia seolah tidak percaya dengan apa yang didengar dan ditunggunya akan perkataan itu selama ini.
“Maafkan, bila aku telah menyayangi dan mencintaimu.”ucap Andika lagi agak keras sambil tersenyum dan mengecup kening Cynthia.
“Aku juga menyayangi dan mencintaimu Dik.”sahut Cynthia kembali memeluk erat tubuh Andika dengan perasaan bahagianya dan tidak dihiraukannya bunyi klakson kendaraan dan sorak sorai orang-orang yang memperhatikan mereka berdua.

Maafkan aku Nurayu, semoga kau bahagia dialam sana. Doaku selalu mengiringimu. ucap Andika dalam hati sambil mengangkat kepalanya dan menatap taburan bintang berkelip diangkasa sambil memeluk erat tubuh Cynthia yang kini telah mengisi relung hatinya.










No comments:

Post a Comment