Cintaku membeku diketinggian 2.750 mdpl

Cintaku membeku diketinggian 2.750 mdpl

Walau peluh telah membasahi tubuhnya, walau lelah telah dirasanya namun Luciana yang biasa dipanggil oleh teman-temannya Uci tetap menunjukan semangatnya melangkah, meniti dan mendaki bebatuan cadas dijalan setapak yang kian meninggi. Tak dihiraukan teman-temannya yang mulai berjalan terengah-terengah, tak ingin ia dipandang sebelah mata oleh teman-temannya kendati ia seorang wanita, ia ingin menunjukan bahwa ia sudah terbiasa dengan dunia hiking maupun champing.  Saat masih kuliah di ITB dulu ia’pun sudah sering melakukan hal ini dibeberapa pegunungan di pulau Sumatera dan pulau Jawa  salah satunya Gunung Rinjani yang pernah didakinya dan kali ini ia bersama dengan 4 teman kantornya sedang berada diketinggian  1500 mdpl, udara dingin yang menerpa tubuhnya’pun tidak lagi diindahkannya karena yang terbayang dipelupuk matanya hanya keindahan alun-alun Surya Kencana.

“Ci.., pelan-pelan dong !.”teriak Kristanto yang berada diurutan paling belakang. Uci menengok kebelakang dan dilihatnya Kristanto sudah tertinggal jauh. Diperlambat langkahnya sementara tepat dibelakang dia, Apri, Igbal dan Martin juga memperlambat langkahnya untuk mendaki Gunung Putri.

“Kris, cepetan dong loe.”teriak Martin yang agak kesal melihat langkah Kris yang mulai melambat.

“iya Kris, sebentar lagi akan hujan nich..!.” sahut Iqbal menimpali sambil melanjutkan langkahnya.

“Tau loe Kris, masa kalah sich sama cewek!?.” Sahut Apri sedikit mengumpat. Kristanto hanya terdiam, diambilnya botol minuman yang berada dicarriernya dan diteguknya kuat-kuat. Kali ini ia benar-benar merasa lelah, perjalanan dari Jakarta ke Cipanas dengan bus saja telah membuat dirinya cape sekarang ditambah lagi mendaki Gunung Putri yang terjal begini. Keluhnya dalam hati dan disekanya peluh yang membasahi wajahnya.

“Hei..!, bengong lagi…loe, bukannnya jalan.”teriak Apri membuyarkan lamunan Kristanto.

“siapa yang bengong !?.”gerutu Kris pelan sambil melanjutkan langkahnya lagi.


Setelah menempuh pendakian selama 6 jam dan tepat diketinggian 2,750 mdpl, Kini pijaknya telah berada dialun-alun Surya Kencana. Begitu indahnya alun-alun Surya Kencana yang memiliki luas 5o hektar ini dan kini rasa lelahnya serasa telah terbayarkan. Guman Uci dalam hati yang merasa takjub akan ciptaan Allah SWT, ditariknya nafas panjang-panjang dan dirasakan sejuknya udara pegunungan yang masih alami ini. Dataran tinggi Surya Kencana begitu indahnya dan terhampar bunga Edelweiss yang tumbuh subur disepanjang dataran tinggi ini.  


“Ok, sekarang kita buka tenda disebelah situ saja.”ucap Iqbal sedikit berteriak sambil menunjuk salah satu lahan datar dan kosong.

“Ok…!.”sahut Apri dan Martin sambil menurunkan tas carrier dari punggungnya.

“sekarang kita bermalam disini, baru besok pagi kita lanjutkan kembali perjalan ke Gunung Gede.”sahut Uci sambil mengikat tali tenda pada paku pancang yang ditanam.

“Hah..!,masih lanjut lagi…!?.”teriak Kris agak kaget karena baru pertama kali ini ia ikut Hiking atau Camping dengan teman-temannya. Uci hanya tersenyum melihat sikap Kris yang merasa kaget itu.


Malam kian larut, kini berlima masing-masing berpeluk lutut diatas tanah beralas plastic diatas rumput memandang jutaan resi bintang yang terhampar dijagat raya. Begitu indahnya suasana malam di Surya Kencana seakan-akan resi Bintang berada dekat sekali didepan pelupuk mata, namun kini dan disini Uci ingin menyelesaikan suatu rasa yang tengah menghimpit ketiga temannya. Bukannya ia tidak tahu, tapi ia menunggu moment yang tepat untuk memberi pengertian kepada ketiga temannya agar persahabatan yang ada tetap berjalan sebagaimana mestinya.


Uci menggeser duduknya sehingga posisi duduknya kini menghadap keteman-temannya.

“aku mau bicara.”ucap Uci singkat namun wajahnya penuh keseriusan.

“bicara aja Ci..!.”seloroh Kris cuek sambil membenarkan slayer dilehernya karena hembusan udara dingin benar-benar sudah tidak bisa diajak kompromi.

“jika kalian disuruh memilih antara persahabatan dan percintaan, kira-kira apa yang akan kalian pilih !?.”ucap Uci lagi.

“kalau gue sich mending pilih persahabatan.”sahut Kris lagi dengan spontan dan cuek. Namun tidak begitu diantara temannya bertiga, mereka terdiam dan saling memandang.

“Ok, aku pernah browsing salah satu puisi di Google tepatnya dirgapandji.blogspot  isinya tentang sahabat karena aku tahu disini tidak ada signal maka aku telah menyalinnyaterlebih dulu. Ada yang mau membacakannya !?.” pinta Uci kepada teman-temannya. Namun tidak ada satu’pun diantara teman-temannya yang menjawab.

“Kris bisa bantu aku untuk membacakannya.”pinta Uci kepada Kristanto. Enggan rasanya Kristanto namun karena yang meminta Uci mau tidak mau akhirnya Kristanto mengambil juga kertas yang diberikan oleh Uci dan membacanya.


Kini Kristanto berdiri didepan teman-temannya berusaha untuk menunjukan ekspresi wajahnya saat membaca puisi diiringi dengan gerakan tangan dan badannya. Sehingga mengundang senyum dan tawa teman-temannya.


“Untukmu sahabat….saat tawa berganti lirih, saat ceria berjubah keluh, saat tangan menggapai, saat itu hadir rasa perduli..”. Kris terdiam sejenak.

“ini lebih berarti karena rasa yang ada…, tak kan pengaruhi langkah kita…., meniti & mendaki diantara bebatuan yang menjulang, letih…lelah…kita masih bercanda riang.” Kembali Kris terdiam mengatur nafasnya dan dilanjutkan kembali membaca puisinya dengan ekspresi yang penuh meyakinkan mencoba selayaknya sebagai seorang pembaca puisi yang handal.


“Persahabatan bagiku seperti bunga Edelweiss yang terhampar disini…. , dibanding rasa memiliki yang akan berujung sepi…. Tak ingin kuberspekulasi dengan rasa cinta…tak ingin juga kuterhempas bila tak kuasa menahan gejolak rasa yang ada. Untukmu sahabatku yang jauh disana.”ucap Kris mengakhiri membaca puisi sambil membungkukan badannya sementara tangan kiri mendekap dadanya dan tangan kanan dilambaikannya kepada ketiga temannya yang duduk terpaku memandang dirinya.


“aku ingin diantara kita berlima rasa yang ada  hanyalah rasa persahabatan, tidak lebih dari itu  bagaimana !?.” teriak Uci meminta kepada teman-temannya sambil menjulurkan tangan dan merentangkan jari telunjuk dan jari tengahnya kemudian dibalas oleh Kristanto dengan hal yang sama, kini Martin bangun dari duduknya dan berdiri melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Uci dan Kris menempelkan jari telunjuknya ke jari tengah Kristanto disusul kemudian oleh Iqbal dan Apri sehingga jari mereka berlima menyatu membentuk gambar bintang dan dengan segera  mereka berlima berteriak bersama ‘Friend…!.”. 3x berturut-turut sambil tertawa dan bergandeng tangan mengitari api unggun yang mulai menyala.


Kini diantara mereka berlima tak ada lagi tersirat rasa kikuk apalagi rasa bersaing untuk saling memiliki kalaupun ada yang tersirat adalah rasa untuk memiliki arti persahabatan sejati, setelah mencapai puncak Gunung Gede diketinggian 2.958 mdpl kini mereka berlima kembali tertawa ceria menuruni tebing bertali yang curam menuju ke arah Cibodas. Uci tersenyum puas melihat tawa canda diantara teman-temannya kini kembali ia menatap hari esok yang penuh harapan dan baginya lalu adalah kelabu ketika cinta menghempaskan arti persahabatan saat ditempat kuliahnya dulu dan kini adalah pembelajaran agar rasa itu tidak terulang kembali.

No comments:

Post a Comment