Asa yang hilang 5 - Terakhir.




Manusia selalu berharap dan berdoa serta berusaha untuk mewujudkan segala mimpi yang ada, namun bila takdir berkata lain hal itu diluar kehendak kita sebagai manusia biasa. Hal itu juga yang terjadi pada diri Pram dan Ria segalanya tidak dapat terelakan, sepulang dari Limbangan kendaraan yang ditumpangi  mereka berdua mengalami kecelakaan ditabrak   oleh kendaraan bus yang pecah ban dan out of control, akibat benturan tersebut kendaraan Pram tidak terkendali kemudian terhenti setelah menabrak sisi tebing.

Samar-samar masih dilihat Ria merintih menahan sakit sementara wajahnya berlumuran darah setelah itu terlihat Ria terdiam tidak bergerak. Pram berusaha dengan sekuat tenaganya untuk bangun dan melepaskan seat belt, tidak dihiraukan rasa sakit pada kepala dan tubuhnya yang ada dalam pikirannya adalah menolong Ria.
“Ria..,bangun Ri, Ria..!.”.teriak Pram berusaha mengguncang –guncangkan bahu Ria dan berusaha untuk mengangkat tubuh kekasihnya namun tidak bisa karena terjepit body kendaraan.
“oh, tidak…!!!.”jeritnya kuat-kuat penuh histeris dan menangis terisak sambil memeluk tubuh kekasihnya yang terdiam dan tak merespondnya. Karena kondisinya yang tidak stabil akibat banyaknya darah yang keluar dari luka menganga dikepalanya, akhirnya Pram’pun tidak kuat menahan keseimbangan tubuhnya dan jatuh lunglai tak sadarkan diri dengan posisi memeluk tubuh kekasih yang dicintainya.

Para warga sekitar yang  berdatangan dan menyaksikan hal itu merasa terharu,  tidak sedikit juga yang meneteskan air mata apalagi saat tubuh Pram dan Ria diangkat satu persatu ke ambulance untuk menuju kerumah sakit. Ada empaty dan simpati yang besar dari beberapa warga sekitar untuk mendoakan keselamatan dan kesembuhan mereka berdua.

Pram mulai tersadar dan pelan-pelan dibuka matanya, dilihat ia sudah berada dirumah sakit sementara tangan kirinya mendapatkan transfusi darah dan tangan kanannya diinfus. Kini pikirannya kembali ke Ria, dimana Ria ?.
“suster dimana istriku ?.”tanya Pram ketika melihat salah satu suster datang. Sengaja ia menganggap Ria sebagai istrinya.
“tenang pak, istri bapak sehat-sehat saja.”sahut suster menenangkan dirinya
“aku ingin melihatnya sus.”Pinta Pram sedikit berontak untuk bangun namun tidak bisa karena badannya masih lemah dan rasa sakit dikepalanya mulai dirasa.
“tenang pak, tenang !?. Percayalah istri bapak tidak apa-apa, bila kondisi bapak sudah membaik bapak pasti bisa menemui istri bapak.”sahut suster kembali menenangkan dirinya.  

Sementara diruang operasi para dokter sedang berusaha untuk melakukan tindakan medis pada kaki kiri Ria yang mengalami benturan keras dan diwajahnya terlihat beberapa luka bekas jahitan. Setelah menjalani operasi kini para dokter dan beberapa suster sedang menunggu waktu siumannya Ria yang ditempatkan disalah satu ruang perawatan.

“Suster, bolehkah saya pinjam hp suster untuk menghubungi keluarga ?.”pinta Pram pada seorang suster yang sedang memeriksa kantong darah dan kantong infusnya.
‘oh, silahkan !.”sahut suster Anna sambil menyerahkan hpnya kepada Pram.
“terima kasih suster.”sahut Pram yang segera menghubungi Haris guna mengurus kendaraan dan barang-barang berharga milik Ria dan Pram. Selanjutnya dihubunginya mas Kris Hudini kakak Ria untuk datang kerumah sakit, namun Pram agak ragu untuk menghubungi putranya karena ia kuatir putranya akan panik dan menjadi beban pikiran akan kondisinya saat ini. Apa alasanku, haruskah aku berbohong pada anak-anak.pikirnya dalam hati.
“suster Anna.”panggil Pram ketika melihat name card yang menempel dibaju suster
“iya pak, ada yang bisa dibantu pak !?.”sahut suster Anna dengan ramah.
“apakah saya bisa pulang malam ini ?.”tanya Pram sambil melihat kedua tangannya.
“bila kondisi bapak sudah normal tentu bisa pak, tapi sebaiknya besok pagi saja setelah dokter melakukan pemeriksaan lebih lanjut.”sahut suster Anna sedikit berdiplomasi sambil tersenyum.
“Ok sus, tapi saya pinjam hpnya dulu ya sus !.”ucap Pram, tanpa menunggu jawaban dari suster Anna setelah diyakini kondisi tidak mengkuatirkan dengan segera ia menghubungi putranya untuk memberitahukan bahwa ia masih berada di Limbangan karena adanya suatu urusan dengan temannya. Ya, hal itu sengaja ia lakukan agar putranya tidak panik dan menjadi beban pikiran dengan keadaan dirinya saat ini.

Baru saja ia akan memejamkan matanya, terlihat mas Kris Hudini datang menghampirinya dengan tergesa-gesa.
“kamu nggak apa-apa Pram !?.”tanya mas Kris melihat keadaannya.
“nggak apa-apa mas, hanya kepalaku saja.”sahut Pram sambil memegang kepalanya yang telah dibalut.
“Ria dimana Pram ?.”tanya mas Kris matanya mencari-cari melihat beberapa pasien yang berada diruangan.
“aku belum bisa menemuinya mas, tapi menurut suster baik-bak saja, tolong dilihat mas. Aku masih penasaran akan kondisinya.”pinta Pram pada mas Kris.
“Ok, aku cek dulu Pram.”sahut mas Kris sambil keluar kamar mencari informasi tentang keadaan Ria.

Agak berkaca-kaca mata mas Kris saat melihat kondisi adiknya yang berada disalah satu ruangan perawatan, perban membalut kaki kirinya dari telapak kaki hingga pahanya sementara beberapa luka bekas jahitan terlihat diwajahnya namun  terlihat Ria telah siuman matanya menerawang menatap langit-langit kamar perawatan. Mas Kris segera menghampiri adiknya dan duduk disebelah pembaringan.
“mas..!.”tegur Ria saat melihat kakaknya datang.
“kamu tidak apa-apa kan Ri !?.”tanya mas Kris suaranya agak tertahan, Ria hanya menggelengkan kepalanya.
“Pram dimana mas ?.”tanya Ria air matanya mulai menetes dan jatuh dipembaringan.
“dia baik-baik saja, namun belum bisa menemui kamu karena masih dalam perawatan.”sahut mas Kris berusaha menenangkan Ria.
“Benarkah mas, Pram tidak apa-apa !?.tanya Ria berusaha meyakinkan kakaknya karena setahu dia bila Pram baik-baik saja maka dengan segera Pram akan menemuinya.pikir Ria dalam hati merasa kuatir.
“mukaku sakit sekali, mas !.”keluh Ria kepada kakaknya. Mas Kris hanya menarik nafas panjang ia tidak bisa melakukan apa-apa setahunya rasa sakit baru terasa setelah pengaruh obat bius hilang.
“sabar Ri.”sahut Kris berusaha menenangkan Ria. Mas Kris merasa prihatin dengan kondisi wajah Ria yang tentunya bila sembuh’pun akan meninggalkan bekas dan dikuatirkan akan membuat Ria tidak percaya diri. Dan Ria’pun belum mengetahui akan luka yang ada diwajahnya.

Pram segera beranjak dari pembaringannya setelah suster mencabut jarum infuse ditangannya sementara untuk jarum transfusi telah dicabut oleh suster tadi malam.
“tunggu pak, bapak belum dapat ijin dari dokter untuk pulang.”cegah suster Anna ketika melihat Pram beranjak dari kamarnya.
“aku ingin melihat istriku.”sahut Pram singkat menuju keruang perawatan Ria ditemani oleh mas Kris Hudini.

Dada Pram serasa sesak ada rasa bersalah yang merasuk kerelung hatinya, tanpa disadari air matanya mulai membasahi pipinya ketika dilihat kondisi Ria dengan segera dihampiri dan dipeluknya tubuh Ria.
“Ria.., maafkan aku !?.”suara Pram agak parau menahan gejojak yang ada didadanya
“Pram, kamu tidak apa-apa !?.”tanya Ria penuh haru sambil memegangi wajah Pram dengan kedua telapak tangannya.
“kamu tidak salah Pram.”sahut Ria lagi dalam isak tangisnya.

Pram memperhatikan tubuh Ria dari ujung rambut hingga keujung kaki, ia ingin memastikan cedara apa yang dirasakan oleh kekasihnya itu. Pram menarik nafas panjang-panjang ketika dilihat ada beberapa luka bekas jahitan diwajahnya Ria dan luka pada kaki Ria. Karena penasaran akan kondisi Ria, ia meminta ijin kepada Ria untuk menemui dokter dan segera ia menemui salah satu dokter jaga yang berada di depan ruang perawatan. Dengan penuh keseriusan ia mendengarkan penjelasan dokter Arif tentang kondisi Ria.
“Tapi bisa khan dok !?.”tanya Pram penuh harap
“Insya allah bisa pak.”sahut dokter arif memberi keyakinan pada Pram
“baik dokter, terima kasih atas keterangan dan bantuannya.”kata Pram
“sama-sama pak.”sahut dokter Arif sambil tersenyum.

Kini perasaannya mulai tenang setelah ia mendapatkan keterangan medis dari dokter Arif mengenai kondisi luka Ria, ditemuinya kembali Ria yang sedang menunggu kedatangannya. Sambil tersenyum ia duduk dibangku yang berada disamping pembaringan sambil menggenggam tangan kanan Ria.
“kamu dari mana Pram.”tanya Ria suaranya masil lemah.
“aku baru bicara dengan dokter Arif. Ma..!.”jawab Pram yang kini ingin membiasakan kembali panggilan ayah dan mama untuk mereka berdua seperti saat itu. Ria tersenyum digenggamnya erat-erat tangan Pram.
“terima kasih ayah.”balas Ria yang kembali memanggil Pram  dengan panggilan ayah. Walau dirasa sakit pada wajah dan kakinya namun dengan kehadiran Pram disisinya telah membuat dirinya merasa tenang dan memacu semangatnya untuk segera sembuh.
 

Ria menjerit histeris ketika bercermin ditoilet yang berada dikamar perawatan, ditutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Tidak...!, kenapa wajahku jadi seperti ini ?.”teriaknya tanpa sadar, setelah mengetahui beberapa bekas luka diwajahnya yang mulai sembuh meninggalkan bekas yang tak beraturan.
Pram yang mendengar teriakan Ria segera mengetuk pintu toilet yang terkunci.
“Ria..,ini aku. Buka pintunya Ri !?.”pinta Pram sambil memutar-mutar grendel pintu. Tak lama kemudian pintu terbuka dan Ria segera memeluk dirinya.
“Pram, mukaku Pram.”ucap Ria menangis dalam pelukannya.
“Sabar Ri.”kata Pram menenangkannya, direngkuhnya pundak Ria dan dituntunnya menuju pembaringan karena jalannya masih dibantu dengan tongkat penyangga.
Ria terisak tidak dapat menerima kenyataan yang ada dengan wajahnya. Pram mengambil kursi dan duduk dihadapannya, digenggamnya kedua tangan Ria.
“Ria, aku ingin kamu tidak berkecil hati. Apapun keadaanmu, aku tidak akan pernah berpaling darimu.”ucap Pram mencoba memberi semangat pada Ria.
“Tapi aku malu Pram..!.”sahutnya lirih dalam isak tangis.
“Aku mengerti Ri, tapi aku yakin berjalannya dengan waktu rasa itu akan hilang dengan sendirinya.”
“Percayalah Ri, aku akan selalu ada didekatmu.”ucap Pram lagi sambil menatap lekat-lekat wajah Kekasihnya itu.
“Tapi Pram !?."Pram segera menempelkan jari telunjuknya kebibir Ria agar tidak melanjutkan bicaranya lagi karena ia tahu perkataan apa yang akan diucapkan oleh Ria.

Dipembaringan pikirannya mulai tidak menentu dan matanya menerawang menatap langit-langit kamar. Kini kebimbangan mulai menyelimuti hati Ria setelah mengetahui wajahnya tidak secantik dulu lagi, bukannya ia tidak percaya akan kesetiaan cinta kasih Pram terhadap dirinya namun ia’pun tidak mau bila pada akhirnya Pram merasa kecewa dengan penampilannya. Mungkin saat ini Pram bisa menerimanya tapi esok atau lusa apakah rasa itu masih ada dan tidak berubah apalagi bila sudah ada gunjingan dari sana sini. Pikir Ria dalam hati, ditariknya nafas panjang-panjang dirasakan dadanya terasa sesak serasa ada beban berat yang menghimpit dadanya. Haruskah aku lari dari kenyataan ini. Pikirnya kembali dalam hati dan tanpa disadari air matanya telah jatuh membasahi pipinya namun ia merasa terkejut tanpa disadari jari jemari Pram dengan tiba-tiba menghapus air mata yang jatuh dipipinya. Dengan segera ia menoleh dan menatap wajahnya Pram  dan digenggamnya tangan Pram.
“Aku tidak ingin kamu berpikiran yang bukan-bukan.”bisik Pram tepat ditelinganya
“Apapun yang terjadi tidak akan merubah perasaanku padamu.”bisik Pram lagi dan Ria segera merengkuh leher Pram.
“Kamu janji tidak akan meninggalkanku Pram.”tanya Ria lirih
“Akan aku buktikan.”sahut Pram tegas sambil tersenyum.
“terima kasih Pram..!.”sahut Ria terharu dan kembali larut dalam isak tangisnya.

Menjelang sore hari orang tua Ria yang tinggal di Jambi baru tiba dirumah sakit terlihat begitu kaget dan prihatin saat mengetahui kondisi anak perempuan semata wayangnya itu. Ketika berada disalah satu kantin rumah sakit bersama dengan kedua orang tua Ria, Pram’pun menceritakan kronologi yang sebenarnya mengenai kecelakaan yang dialaminya hingga pada akhirnya ditengah pembicaraan Pram meminta ijin dan doa restu pada orang tua Ria akan hubungannya dengan Ria.
“Apa tidak sebaiknya menunggu segala sesuatunya kembali seperti semula dulu Pram.”kata papa Ria ditengah perbincangannya.
“Benar pa, namun dengan melihat keadaannya seperti itu. Menurutku ini waktu yang tepat untuk membuktikan dan mengembalikan kepercayaan dirinya pa.”sahut Pram pada papanya Ria.
“Baiklah papa dan mama menyetujui keinginanmu itu.”ucap papanya Ria sambil menepuk-nepuk pundaknya.
“Terima kasih pa, terima kasih ma.”sahut Pram sumringah sambil salim kepada kedua orang tua Ria.

Sudah seminggu Ria berada dirumah sakit dan hari ini diperbolehkan untuk pulang,  jalannya mulai menapak walau terkadang rasa sakit masih suka dirasa. Namun kini Ria lebih banyak berdiam diri seakan keceriaannya telah hilang berganti dengan kemurungan. Wajar bila Ria merasakan hal itu tapi Pram’pun tidak ingin melihat kekasihnya larut dalam pikirannya yang tak menentu.
“Ria...!.”tegur Pram ketika melihat Ria termenung duduk dipembaringan namun Ria tidak mendengarnya.
“Ria...!.”panggilnya sekali lagi namun kini didekat telinganya. Baru Ria menoleh dan menatap wajahnya
“iya Pram.”sahutnya singkat males-malesan terlihat wajahnya agak murung.
“aku tidak ingin kamu termenung seperti ini terus menerus.”ucap Pram pada Ria sambil menuntunnya menuju kehalaman parkir. Namun Ria hanya terdiam, saat berjalan’pun ia lebih banyak menunduk dan menyembunyikan wajahnya dari orang-orang yang melihatnya. Ya , ia merasa malu dengan kondisi wajahnya seperti ini. Belum lagi bila ia bertemu dengan teman-teman kantornya. Namun ia sudah membulatkan hatinya untuk segera mengajukan resign dari pekerjaanya. Serasa ia tidak ingin bertemu dengan orang-orang disekitarnya apalagi mendengar pergunjingan dari orang tentang wajahnya, serasa masa depanku sudah berakhir. Lirihnya dalam hati.

Sesampainya dirumah Ria segera menyeruak masuk kedalam kamarnya, tidak diindahkannya teman-teman dan kerabatnya yang menunggu kehadirannya. Kini ia larut dalam tangisnya sambil memeluk bantal menelungkup dipembaringan.
“Ria...!.”panggil mamanya pelan mengusap pundaknya.
“Kamu harus sabar dalam menghadapi cobaan ini.”ucap mamanya mencoba menenangkan dirinya. Ria bangun segera memeluk tubuh mamanya mencurahkan segala kesedihannya dalam isak tangis.
“Ria tidak kuat ma.”sahutnya menangis
“Segalanya telah berakhir ma, masa depan Ria, hubungan Ria dengan Pram. Serasa harapan itu sudah hilang ma.”sahutnya lagi suaranya agak keras seiring tangis sedu sedannya.
“Tidak Ria, asa itu tidak hilang. Ya, harapan itu tidak akan pernah hilang.”sahut Pram yang tiba-tiba masuk kekamarnya.
“Maafkan aku ma.”ucap Pram meminta maaf karena memotong pembicaraannya dengan Ria.
“tidak apa-apa Pram.” Sahut mamanya Ria sambil meminta Pram untuk duduk didekat Ria.
“Aku ingin sekarang kamu mengganti baju dan merapikan hijab kamu dan hadirkan senyum manismu pada teman-teman dan kerabat diluar.”pinta Pram pada Ria.
“Maksudmu apa Pram..!?.”tanya Ria tidak mengerti akan perkataan Pram.
Ditatapanya wajah Ria, direngkuh dan digenggamnya kedua lengan Ria.
“Hari ini adalah hari pertunangan kita.”ucap Pram pelan tapi jelas.
“Apa..!.”sahut Ria kaget seakan tidak percaya apa yang dikatakan oleh Pram.
“Ya, hari ini adalah hari pertunangan kita dan inilah pembuktiaan dari rasa kasih sayangku padamu.”
“Aku sudah bicara pada mama dan papa, dan akupun sudah bicara dengan dokter Arif insya allah setelah menjalani operasi pada wajahmu kita akan segera menikah.”ucap Pram lagi memberi keyakinan pada Ria sambil tersenyum.
Ria yang mendengarkan hal itu tidak dapat berkata apa-apa dengan segera ia menjatuhkan dirinya kepelukan Pram sambil menangis terharu. Ia tidak menyangka Pram akan berbuat seperti ini, Pram telah merencanakan segala sesuatunya tanpa sepengetahuannya.

Kini Ria kembali tersenyum dalam senyum manisnya dan tertawa dalam tawa cerianya, operasi pada wajahnya berhasil mengembalikan wajahnya seperti semula. Benar apa katamu Pram, tidak ada asa yang hilang bila apa yang kita lakukan berlandaskan kasih sayang dan cinta murni. Terima kasih Pram, terima kasih ayah dan terima kasih suamiku yang tercinta. Guman Ria dalam hati penuh senyum sambil menyalami tamu-tamu yang datang untuk memberi selamat atas pernikahannya dengan Pram.
“Pram bersamamu aku ingin hidup 1000 tahun lagi..!!!."teriak Ria ceria diantara kerasnya suara musik yang mengiringi acara pernikahannya.
“Waduh...!, usiaku jadi 1050 tahun dong Ri.”canda Pram tersenyum, dengan segera Ria memeluk erat suaminya dengan penuh kasih sayang serasa kebahagiaan begitu menyelimuti dirinya dan tidak diindahkannya tamu-tamu yang akan memberi selamat pada mereka berdua.

Tak ada harapan / asa yang hilang bila segala sesuatunya berlandaskan kasih sayang & cinta.....
Bagaimana dengan kalian...!?.
The End


No comments:

Post a Comment