Asa yang hilang 4

 

Asa yang hilang 4

Dengan masih menahan kantuk, Pram membalikan tubuhnya dipembaringan diraihnya hp yang   sedari tadi berdering dan ditekannya tombol keypad penerima panggilan masuk.

“assalamu’alaikum !.” Ucap Ria diseberang sana

“waalaikum salam !.”sahut Pram males-malesan.

“kamu sudah shalat subuh Pram ?.”tanya Ria

“belum Ri, thanks ya..sudah membangunkan aku.”sahut Pram sambil mengangkat tubuhnya dan duduk ditepi ranjang.

“Ya sudah, kamu shalat dulu nanti kesiangan. Assalamu’alaikum.”ucap Ria lagi

“Waalaikum salam.”sahut Pram kembali mengakhiri pembicaraan. Kini dirasakan hal yang pernah hilang datang kembali menghiasi harinya. Ya…!, hal-hal seperti inilah yang selalu diterapkan oleh mereka berdua dalam kebersamaan, saling mengingatkan dalam beribadah. Dengan segera Pram memaksakan dirinya  menuju kekamar mandi membersihkan tubuhnya barang sejenak setelah itu baru melaksanakan shalat subuh namun sebelumnya ia membangunkan kedua putranya terlebih dulu untuk melaksanakan shalat berjamaah.


“Pram…!.” Tiba-tiba suara panggilan dari seorang wanita menghentikan langkahnya saat ia berjalan dikoridor kantor, dipalingkan wajahnya dan dilihat Rina sedang melambaikan tangan menuju kearahnya.

“Hei Rin, apa kabar…!?.” Ucap Pram ketika Rina berada didekatnya.

 “sehat Pram, kamu gimana sehat juga kan ?.”sahut Rina balik bertanya.

“Alhamdulillah sehat.”jawab Pram tersenyum.

“bawaan kamu banyak sekali Rin, perlu aku bawain apa ?.”canda Pram melihat Rina kerepotan membawa barang bawaannya.

“tadi aku beli roti untuk sarapan, kamu mau Pram.”ucap Rina menawarkan

“thanks Rin, aku bencanda kok !.”sahut Pram tersenyum sambil menggeser badannya karena karyawan dan karyawati perkantoran telah banyak yang melintas dikoridor.

“Pram, makan siang nanti kita bareng ya…!.aku mau bicara sama kamu”pinta Rina manja.

“Ok. Rin nanti hubungi aku aja ya..!.”sahut Pram menyetujui permintaan Rina. Siapa yang tidak setuju diajak makan bareng oleh wanita secantik Rina. Gumannya dalam hati.

“Ya, sudah kalau begitu aku duluan ya..Rin !.”Ucap Pram lagi.

“Ok, Pram thanks ya. daaag..!.”sahut Rina beranjak pergi sambil melambaikan tangan dan Pram membalas lambaian tangan Rina.


Begitu banyak hal-hal yang dibicarakan saat Rina dan Pram makan siang disalah satu resto yang berada tidak jauh dari kantornya. Hingga pada akhirnya pembicaraan mengarah kemasalah rumah tangga. Semula ia enggan untuk bercerita tentang kegagalan rumah tangganya, namun karena Rina mendesak terus akhirnya agak terbuka juga ia bercerita tentang kegagalan rumah tangganya.

“Wah !, nasib kita sama dong Pram. Jangan-jangan kita jodoh lagi.”sahut Rina berseloroh sambil tertawa sementara Pram hanya tersenyum melihat sikap Rina yang spontan itu.

“bedanya aku belum punya anak, kamu sudah punya 2. Sudah besar-besar lagi.”katanya lagi sambil meneguk minuman jus jeruk yang dipesannya.

Sesekali Pram memperhatikan wajah Rina, tidak terlihat kekecewaan yang tersirat diwajahnya saat ia menceritakan tentang kegagalan rumah tangganya sepertinya hal itu dianggap biasa olehnya.

“Ya !,begitulah hidup Pram, aku sich enjoy saja menghadapi segala sesuatunya.”ucap Rina santai

“oiya..!, malam minggu kamu ada acara tidak Pram ?. tanya Rina, Pram mengernyitkan dahinya namun belum sempat Pram menjawab Rina telah berkata lagi dengan penuh manja sambil memegang tangannya.

“kalau nggak ada cara temani aku ya Pram.”. Pram terdiam sejenak. Besok ia akan menemui Ria dan Dirga. Ia tidak mau mengecewakan mereka. Mau tidak mau ia harus memberi alasan yang dapat diterima. Pikirnya dalam hati.

“Sorry Rin, bukannya aku tidak mau. Tapi besok aku sudah janji dengan anak-anak.”jawab Pram beralasan. Rina sedikit merengut mendengar perkataan Pram disandarkan punggungnya disandaran bangku.

“Tapi minggu depan kamu harus temani aku ya Pram !?. pintanya memaksa diantara kekecewaan yang masih dirasanya.

“lihat saja minggu depan Rin.”sahut Pram sambil melirik jam tangannya.

“sudah jam 13.30 Wib, kita balik kekantor Rin.”ajak Pram dan dengan segera Rina mengikuti langkahnya berjalan berdampingan, sesekali tangannya berusaha menggandeng tangan Pram namun dengan halus Pram mencoba untuk melapaskannya. Pram menyadari bila Rina telah mencoba untuk membuka hatinya namun ia sendiri berusaha untuk tidak tergoda dengan sikap manja Rina.

  

Maafkan aku Rin, bila aku tidak dapat memenuhi keinginanmu. Mungkin bila hadirmu pada saat aku dalam kesendirian, aku akan larut dalam godaanmu. Namun kini hatiku telah termiliki. Ya apalagi hari ini rasa ingin tahunya begitu besar terhadap pembuktian apa yang akan dilakukan oleh Ria seperti yang pernah diucapkannya saat itu . pikir  Pram dalam hati sambil mempercepat laju kendaraannya melewati Tol Pateur yang belum dipadati oleh kendaraan dari Jakarta maupun dari beberapa daerah lainnya yang akan masuk ke kota Bandung pada saat weekend.


Sesampainya dirumah Ria diparkirnya kendaraan ditempat biasa. Diketuknya daun pintu rumah sambil mengucapkan salam.

“assalamu’alaikum.”ucap Pram

“waalaikum salam.”sahut Ria dari dalam sambil membukakan pintu untuknya.

 Sejenak Pram tertegun memandang lekat-lekat penampilan Ria. “Subhanallah…Walhamdulillah..”ucap Pram spontan ketika melihat Ria telah menggunakan hijab, apalagi hijab yang digunakan berwarna biru warna kesukaan mereka berdua. Terlihat sangat cantik sekali wajahnya.

“masuk Pram.”kata Ria sambil merengkuh tangan Pram yang masih tertegun melihat dirinya. Seperti yang biasa dilakukan oleh Ria bila Pram datang maka ia akan salim dan Pram mencium keningnya sebagai ungkapan rasa kasih sayang mereka berdua. Pram segera duduk disalah satu bangku yang berada diruang tamu dipandanginya interior rumah Ria, tidak ada yang berubah gumannya dalam hati.

“jadi ini pembuktian yang kamu maksud itu Ri !?.”tanya Pram saat Ria duduk dihadapannya sambil tersenyum. Senyumnya terlihat semakin manis dengan hijab yang dikenakannya.

“Iya Pram, saat itu kamu sering meminta aku mengenakan hijab tapi aku belum siap. Namun setelah jauh dari kamu, aku sering merenungkan keinginan kamu dan hubungan kita. Sekarang ini aku ingin membuktikan pada diriku sendiri dan juga pada dirimu Pram. Tapi tetap aku perlu support dari kamu  Pram, ingatkan aku ya Pram.”pinta Ria manja karena ia yakin Pram dapat mengingatkan dan membimbingnya dalam menyikapi segala sesuatunya setelah ia berhijab.

“Insya allah Ri. !.”sahut Pram penuh antusias

“Jujur Ri, dengan hijab birumu itu aku jadi  teringat akan salah satu puisi yang sering aku baca disalah satu blogspot.”sahut Pram lagi.

“maksudnya !?.”tanya Ria singkat belum mengerti apa yang dimaksud oleh Pram.

“Ok, aku search Google dulu ya !.”ucap Pram sambil mengeluarkan hp dan membuka salah satu blogspot disitus Google.

“nah ini dia, saat aku jauh dari kamu aku sering membaca kumpulan puisi diblog ini.”ucap Pram sambil menyerahkan hp kepada Ria memperlihatkan salah satu puisi dari dirgapandji berjudul Gadis berhijab Biru. Semula Ria mengernyitkan dahinya namun kemudian ia tersenyum setelah membaca puisi yang dimaksud oleh Pram. Ada kecocokan puisi dirgapandji ini dengan diri dan hubungannya dengan Pram.gumannya dalam hati.

“Sepertinya puisi itu sesuai dengan kamu dan hubungan kita ya Ri !?.”kata Pram sambil matanya tak lepas memandangi wajah Ria. Sementara Ria yang melihat Pram dari tadi memandanginya terus menerus tertunduk malu dan langsung menegur Pram.

“Pram…!.”sahut Ria sambil mengibaskan telapak tangan kanannya didepan wajah Pram. Pram tersenyum ditangkap dan ditariknya tangan kekasihnya itu hingga Ria jatuh kepelukannya. Ria berteriak manja ada perasaan rindu yang teramat sangat akan pelukan hangat Pram yang telah lama tidak ia rasakan dan kini ingin sekali ia memeluknya erat-erat berlama-lama dalam dekapan hangat Pram. Namun mau tidak mau ia harus berusaha menyesuaikan sikap dan perasaannya dengan hijab yang kini dikenakannya karena belum muhrimnya. Pram’pun lebih mengerti akan hal itu.

“Ya sudah, sekarang kita berangkat ke Limbangan Ri !, agar tidak kesiangan.”ajak Pram pada Ria

“Ok Pram, tunggu sebentar ya !.”sahut Ria sambil masuk kekamar untuk mengambil tas dan hpnya. Namun sebelum berangkat Pram mengingatkan Ria agar merapikan hijabnya dulu karena beberapa helai rambut Ria masih terihat olehnya.


Bandung – Limbangan tidak begitu jauh, bila Jl. Rancaekek tidak macet, waktu tempuh hanya 1 jam perjalanan dan alhamdulillahnya siang ini lancar sehingga sebelum waktu dzohor  mereka berdua telah sampai di Limbangan. Saat ini bukan hanya Ria yang seorang diri turun untuk menjemput Dirga, namun kini  ia’pun ikut turun karena ia juga sudah mengenal dekat dengan Haris beserta keluarga barunya. Ada keceriaan tersendiri yang tersirat diwajah Dirga ketika melihat mereka berdua datang karena ia tahu hari ini akan diajak jalan-jalan dan makan bersama oleh ayah dan mamanya.


Kini Pram merasakan hari-hari yang pernah hilang kembali lagi, ia sangat berharap dan berdoa hari penuh keceriaan selalu mengiringi Dirga dalam kebersamaannya dengan Ria hingga mereka berkeluarga kelak.

“Pram, ada apa !?, aku perhatiin dari tadi kamu ngeliatin Dirga terus.” Tanya Ria tiba-tiba membuyarkan lamunannya. Pram tersenyum namun tatapannya tetap tidak bergeming memperhatikan Dirga yang sedang tertidur lelap.

“itulah kebiasaanku Ri, saat anak tertidur lelap aku selalu memperhatikan dan berdoa untuknya agar dapat membuat anak-anak bahagia dan sukses.”sahut Pram

“aku ingin membesarkan dan mendidiknya, agar ia menjadi anak yang soleh, Ri.”lanjut Pram lagi sambil menatap Ria. Ria segera menghampiri Pram dan duduk disebelahnya sambil merangkul lengan Pram dan merebahkan kepalanya dibahu Pram.

“tapi aku perlu dukungan dari kamu Ri, dukungan cinta kasih sayangmu. Yang lalu jadikanlah pelajaran berharga untuk kita berdua.”kata Pram berbisik sambil mempererat genggaman jemari tangannya.

“aku akan mendukungmu Pram, aku nggak mau kehilangan kamu Pram !.”sahut Ria manja namun suaranya agak bergetar.

“maafkan aku Pram.”sahutnya lagi dan tanpa disadari air matanya mulai menetes dipipinya karena rasa bersalah yang mendalam pada Pram atas kejadian lalu belum sepenuhnya hilang dari lubuk hatinya.

“loh. Kok menangis..!?.”ucap Pram ketika mendengar Ria mulai terisak, segera diusapnya air mata yang membasahi pipi Ria kemudian dirangkul dan dikecupnya kening kekasih hatinya.

“maafkan aku, bila membuatmu sedih.” Ucap Pram lagi pelan.

“nggak apa-apa Pram.”sahut Ria manja sambil mempererat pelukannya.

“Ya sudah, kita istirahat dulu. Besok pagi kita akan mengantar Dirga ke Limbangan.”ucap Pram setengah berbisik kepada Ria dan Ria mengangguk kecil.

“aku bobo dulu ya Pram, night !.”ucap Ria sambil melepaskan pelukannya

“night..!.”sahut Pram sambil mengecup kening Ria.


Malam ini Pram terpaksa bermalam dirumah Ria karena besok pagi-pagi sekali ia harus mengantar Dirga kembali ke Limbangan mengingat hari Senin ada ulangan harian sekolahnya, sehingga masih ada waktu bagi Dirga untuk belajar. tadi sebelum tidur’pun Ria dan Pram masih sempat menemani Dirga untuk belajar dari buku pelajaran yang sengaja dibawa oleh Ria. Pram merebahkan dirinya disofa ruang tamu sementara Ria dan Dirga tidur dikamarnya, sedangkan mas Kris kakaknya Ria masih serius dengan tugas kuliahnya ditemani dengan senandung All out of love – Air Supply. Lyriknya seperti apa yang pernah kualami, guman Pram dalam hati sambil memejamkan matanya.


Bersambung….

No comments:

Post a Comment