Asa yang hilang 3

 

Pram mempercepat langkahnya dan diliriknya jam tangan pukul 08.31 wib. Terlambat pikirnya dalam hati, Karena terburu-buru Pram kurang memperhatikan jalan dan disaat yang bersamaan dipertigaan koridor kantor terlihat seorang wanita muda sedang berjalan mengarah kearahnya, tanpa disengaja Pram menyenggol wanita tersebut sehingga barang bawaannya berupa map terjatuh dan berserakan dilantai.

 “Hei..!, lihat-lihat dong pak.” Umpat wanita tersebut agak marah.

“Maaf mbak, maaf..!, saya tidak sengaja.” Sahut Pram sambil membantu mengambilkan map-map milik wanita tersebut yang berserakan dan dengan segera diberikannya map-map tersebut sambil melanjutkan langkahnya lagi meninggalkan wanita tersebut yang masih saja ngedumel.


Hanya kesibukan bekerjalah yang membuat Pram dapat melupakan permasalahan dengan Ria, namun yang utama adalah karena tanggung jawab dan kewajiban terhadap kedua putranya yang membuat dirinya kuat. Walau dirasa berat badannya kini kian menyusut namun ia tidak memperdulikannya.

“Hei Pram mau kemana loe !?”. tanya Randy bagian Finance ketika melihat Pram sedang berdiri menunggu lift.

“lantai 13 Ran, meeting.”sahut Pram segera masuk ketika pintu lift terbuka. Namun tatapannya beradu pandang dengan wanita muda yang barusan ditabraknya. Pram memberi senyum namun wanita tersebut cuek dan memalingkan wajahnya.


Tidak disangka dan diduga ternyata wanita tersebutlah yang memberikan prosentasi didalam meeting yang dihadiri oleh Pram. Rina nama yang bagus dan mudah untuk diingat sahut Pram dalam hati ketika wanita tersebut memperkenalkan dirinya. Begitu menjenuhkan ketika Rina membawakan prosentasi tentang produk baru yang belum dimengertinya sehingga ia hanya mencoret-coret kertas kosong yang berada dimejanya menjadi sebuah gambar seorang wanita.

“Bapak sudah mengerti !?.” tanya Rina tiba-tiba kepada Pram.

“oh, mengerti bu. Sangat mengerti.” Sahut Pram seketika agak terperanjat.

“nama saya Pram bu, bukan bapak.” sahut Pram lagi mencoba untuk mengalihkan pertanyaan Rina namun peserta meeting lainnya malah menyoraki dan menertawai Pram sehingga membuat suasana meeting menjadi gaduh.

“saya tidak perlu tahu, nama anda siapa !?.” sahut Rina tegas matanya melotot sambil melanjutkan kembali prosentasinya.


Waktu yang ditunggu’pun tiba, akhirnya meeting telah selesai dengan segera Pram merapikan berkas yang dibawanya dan beranjak dari tempat duduknya, namun baru beberapa langkah ia melangkah didengar sesuatu benda terjatuh bersamaan dengan suara teriakan kecil segera Pram memalingkan wajahnya dan dilihat laptop Rina sudah berada dilantai dengan segera dihampiri dan diangkatnya laptop tersebut sambil membenarkan kabel mouse yang melilit.

“terima kasih ya Pram !.”ucap Ria singkat, Pram agak kaget juga ketika Rina memanggil namanya padahal tadi dimeeting bilangnya tidak perlu. Gumannya dalam hati.

“sama-sama bu.” Sahut Pram cuek

“panggil aku Rina’”sahut Rina sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan penuh senyum. Pram’pun menyambut jabatan tangan Rina sambil tersenyum.

“Ya sudah !, kalau gitu aku duluan ya Rin.” Ucap Pram sambil melangkah

“Thanks ya Pram, see you..!.” sahut Rina sambil merapikan perlengkapan meeting yang dibawanya.


Pagi ini Pram merasakan ada sesuatu yang mengganjal dibenaknya, kenapa pikiranku selalu ke Dirga. gumannya dalam hati. Pikiran yang bukan-bukan mulai membayangi dirinya. Diambilnya hp yang terletak diatas meja TV dan ditekannya nomor hp Haris papanya Dirga.

“assalamu’alaikum !.”ucap Pram ketika mulai terdengar suara Haris diseberang sana

“waalaikum salam !.”sahut Haris terdengar suaranya agak berat.

“keluarga pada sehat kan kang !?.” tanya Pram santai

“Dirga sedang sakit kang, sudah 2 hari panasnya belum turun-turun.”sahut Haris suaranya agak panik

Pram agak kaget mendengar kabar bila Dirga sedang sakit.

“Baik kang, sekarang saya langsung ke Limbangan.”sahut Pram segera mengakhiri pembicaraannya dengan Haris.


Hari ini Pram mengambil hak cuti dipacunya mobil yang dikendarainya. Ya..!, ini untuk yang kedua kalinya ia merasakan kontak bathin dengan Dirga pada saat Dirga dalam kondisinya yang tidak sehat, pertama kali yang ia rasakan adalah disaat ia masih menjalin hubungan dengan Ria.

Sesampainya di Limbangan dengan segera Pram menuju rumah Haris dan dilihatnya Dirga tengah berbaring diranjang,  disentuhnya kening Dirga dan dirasakan panasnya agak tinggi sementara bibirnya agak kering.

“maaf Kang, sekarang Dirga kita bawa kerumah sakit saja.”pinta Pram merasa cemas dengan kondisi Dirga. Dirapikannya baju Dirga dan digendongnya segera tanpa menunggu persetujuan dari Haris. Sementara Haris hanya mengangguk kecil dan mengikuti langkahnya.


Rumah Sakit umum yang dituju tidak begitu jauh, sehingga dengan segera Dirga mendapat tindakan medis dari para dokter dan suster di rumah sakit tersebut. Hasil pemeriksaan darah dari laboratorium menunjukan untuk trombositnya -+ 100.000 /µl.sementara leukositnya berkisar antara3000-5800/µl sehingga mau tidak mau Dirga harus diopname. Pram mengambil bangku yang tersedia diruang IGD dan duduk disamping Dirga yang tengah berbaring dan menemaninya saat dokter menanam jarum infuse dilengan kirinya.

“ayah, mama kemana !?.”tanya Dirga suaranya agak pelan

“mama sebentar lagi akan datang Aa.”sahut Pram tersenyum berusaha untuk memberi ketenangan pada Dirga. Ingin sebenarnya ia menghubungi dan memberitahu Ria tentang kondisi Dirga saat ini namun kali ini ia tidak dapat menghubunginya karena no. hp dan BBMnya telah diblokir oleh Ria.

“bapak, orang tua Dirga ?.” tanya suster tiba-tiba membuyarkan lamunannya.

“Iya Sus, ada apa..!?.” sahut Pram balik bertanya.

“untung bapak segera membawa putranya kemari, kalau tidak…!?.”sahut suster tersebut menghentikan kalimatnya.

“kalau tidak kenapa Sus !?.” tanya Pram kembali sambil mengernyitkan dahinya.

“lupakan saja pak, ini formulir rujukan untuk kamar perawatan  agar diselesaikan dibagian administrasi.” Sahut suster tersebut enteng sambil menyerahkan formulir kepada Pram.


Dengan segera Pram menuju kebagian administrasi guna mengurus kamar perawatan Dirga  namun sebelumnya ia meminta kepada Haris untuk segera menghubungi Ria dan memberitahu tentang keadaan Dirga akan tetapi ia berpesan juga pada Haris agar tidak memberitahu Ria bila ia ada disini. Setelah pengurusan selesai dan Dirga menempati salah satu kamar perawatan, Pram meminta ijin pada Haris untuk beristirahat sejenak karena ia merasakan lelah dan rasa kantuk yang tak tertahan.


Pram memicingkan matanya dilihat jam tangan, selama 1.5 jam ia sempat tertidur dijok mobil dirasa cukup untuk mengembalikan kondisinya dengan segera Pram menuju kekamar perawatan namun langkahnya terhenti ketika dilihat dari balik pintu yang terbuka sedikit Ria sedang menangis sambil memeluk Dirga. Pram mengurungkan niatnya untuk melihat Dirga ditutupnya pintu pelan-pelan kemudian ia kembali ke halaman parkir. Saat ini ia tidak ingin bertemu dengan Ria, ada perasaan kecewa yang teramat sangat dalam dirinya atas segala sikap yang telah diperbuat oleh Ria. Apalagi bila ia ingat  ketika melihat Ria sedang bergandeng tangan dengan pria lain saat ia dengan kedua putranya sedang berada di Bandung 2 bulan lalu. Diambilnya hp yang berada disaku jacketnya dan ditelephonenya Haris guna memberitahu bahwa ia akan kembali ke Jakarta dan berpesan bila Dirga menanyakan agar segera menghubunginya.


Sementara dikamar perawatan terlihat Ria masih tertunduk lesu menahan isak tangisnya, ada perasaan bersalah dalam dirinya karena sudah beberapa hari ia tidak menghubungi Dirga.

“mama, ayah kemana ?”. tanya Dirga tiba-tiba suaranya masih lemah namun wajahnya mulai terlihat cerah.

Ria menghapus air mata yang membasahi pipinya, ia terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan putranya.

“tadi ayah nemanin Dirga disini ma..!.”ucap Dirga polos sambil matanya memandang langit-langit kamar.

Ria merasa terkejut mendengar penuturan polos putranya. Kini perasaannya mulai tidak menentu serasa ia tidak dapat menggambarkan perasaan apa yang saat ini dirasanya. Dipandangnya wajah mantan suaminya sementara Haris hanya mengangguk kecil mengisyaratkan bahwa apa yang dikatakan putranya benar.

“Pram dimana Aa..?.”tanya Ria pada Haris suaranya terdengar parau

“dia sudah kembali ke Jakarta.”sahut Haris singkat

“kenapa kamu tidak katakan bila dia ada disini.”tanya Ria kembali suaranya berubah bercampur kesal

Haris terdiam sejenak dan kembali berkata

“dialah yang telah membawa Dirga kemari, dia sangat menyayangi Dirga.”

Mendengar perkataan Haris, Ria tertunduk dan tanpa disadari air matanya mulai mengalir dan kembali larut dalam tangisnya. Ada perasaan sesal yang teramat sangat yang dirasanya terhadap Pram selama ini. Ia merasa dirinya benar-benar ego sementara Pram yang telah merasa sakit atas sikapnya, masih saja tetap memperdulikan putranya.

“mama. Dirga mau ketemu ayah..!?.”ucap Dirga lirih.

“iya Aa, mama akan telephone ayah.”sahut Ria suaranya agak tertahan oleh isak tangisnya. Diambilnya hp yang tersimpan didalam tasnya dengan segera Ria mengaktifkan no.hp Pram yang telah diblokirnya dan tangannya agak gemetar saat ia menghubungi Pram.


Memasuki tol Purbaleunyi Pram memacu kendaraannya hingga jarum speedometer menyentuh angka 150 km/h ada kelelahan yang tersirat diwajah Pram namun ia tetap berkosentrasi pada kemudi kendaraan dan pandangannya tetap mengarah kedepan, hingga pada saatnya ia mengurangi kecepatan laju kendaraannya ketika terdengar hpnya berdering tanda panggilan masuk berkali-kali.


Ditujunya rest area km. 97, setelah kendaraan diparkir diraihnya hp yang terletak didekat audio kendaraan. Dilihatnya pada layar hp tertera nama Ria, tak lama kemudian hp berdering kembali. Semula ada keraguan dalam dirinya untuk menerima panggilan dari Ria, namun ia merasa kuatir bila ada hal penting yang akan disampaikan oleh Ria mengingat Dirga sedang dirawat. Diterimanya panggilan masuk dari Ria namun belum sempat ia berkata seketika itu juga Ria telah mendahului pembicaraan.

“maafkan aku, Pram.”ucap Ria seketika dan berusaha untuk menahan tangisnya namun isak tangisnya mulai terdengar.

“aku salah Pram, maafkan aku Pram !.”ucapnya lagi kali ini kata-katanya tidak jelas karena tertutup oleh suara isak tangisnya yang kian menjadi.

Pram terdiam dan tertegun sejenak, kini ia merasa iba juga mendengar suara tangisnya Ria yang sudah sekian lama tidak didengarnya.

“jangan tinggalkan aku Pram, jangan tinggalkan Dirga Pram..!.”ucap Ria  sambil berusaha mengendalikan tangisnya yang kian menjadi karena perasaan bersalahnya terhadap Pram.

Pram menghela nafasnya.

“aku tidak akan meninggalkanmu, bila saja kamu tidak menghianatiku Ri..!?.”ucap Pram suaranya datar agak bergetar.

“aku tidak menghianatimu Pram, jauh darimu aku tetap menjaga perasaanmu.”ucap Ria lirih masih larut dalam tangisnya.

“kamu bilang menjaga perasaanku lalu bagaimana dengan pria yang berjalan denganmu dan bergandeng tangan disalah satu Resto di Jl. Juanda, apakah itu menjaga perasaanku !?.” tukas Pram keras-keras penuh emosi melalui hpnya.Ria terdiam sejenak berusaha mengingatnya.

“tidak Pram.., dia hanya teman.”sahut Ria memohon dalam tangisnya, seingatnya saat itu ia berjalan dengan Rudi.

“ Dia berusaha menggandeng tanganku Pram, tapi aku selalu mengelaknya.”sahutnya lagi dalam isak tangisnya mencoba memberi pengertian kepada Pram. Diakui oleh Pram bahwa Ria memang dekat dengan teman-teman prianya namun bukan berarti ia mudah untuk membuka hatinya pada pria.

“buktikan padaku.”sahut Pram singkat dan meminta kepada Ria agar hp diserahkan kepada Dirga karena ia ingin bicara dengan Dirga. Namun sebelum pembicaraan dengan Dirga selesai, Ria melanjutkan kembali pembicaraan dengannya

“aku akan buktikan padamu Pram.”ucapnya masih sesugukan.

“Ya, buktikan padaku bila memang hanya aku yang ada dihatimu.”sahut Pram tegas dan diakhirinya pembicaraan melalui hp dengan Ria secara baik-baik.

“assalamu’alaikum.”ucap Pram

“waalaikum salam.”sahut Ria sambil mematikan hpnya.


Pram segera menaruh hpnya dan dihidupkannya mesin kendaraan kemudian diaktifkannya audio dengan volume yang dibesarkan, dipacunya kendaraan kencang-kencang dan kini ia larut menyanyikan lagu see you again Wiz Khalifa –feat Charlie Phut dalam soundtrack Furious7.


“It's been a long day without you my friend
And I'll tell you all about it when I see you again
We've come a long way from where we began
Oh I'll tell you all about it when I see you again
When I see you again…..”.


Bersambung.....

 

No comments:

Post a Comment