D i r g a - Meredam Bara.

D i r g a - Meredam Bara.

Gemiricik air sungai yang berasal dari pegunungan Papandayan dan kicauan burung yang hinggap diantara dahan pepohonan Suagi kian membuat syahdu dan cerianya suasana pagi ini. Tidak jauh dari pepohonan tersebut terlihat seorang pemuda tengah asyik duduk sambil mendekap lututnya diatas bangku bale menahan desiran bayu yang masih menghembuskan hawa dingin. 

 

Sudah 2.5 tahun ia berada dan mengecap pendidikan disini, kini sudah waktunya  juga baginya untuk kembali ke Jakarta guna melanjutkan pendidikan S1. Semula ia menolak keras saat ayahnya menyuruh  tinggal di Pondok Pesantren milik kakeknya ini namun berjalannya waktu setelah berada disini rasanya enggan juga ia meninggalkan tempat ini. Disini terasa begitu nyaman dan tentram, disini juga ia menimba ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum seperti layaknya sekolah-sekolah lain serta ilmu bela diri.

 

“Dirga..!.”tiba-tiba suara kakeknya telah membuyarkan lamunannya dan dilihat kakeknya sedang duduk sambil tersenyum memandanginya. Dirga tidak menyadari bila kakeknya sudah dari tadi memperhatikannya.

“iya kek.”sahut Dirga segera menghampiri dan memberi salim kepada kakeknya.

“duduk cu.”ucap kakeknya. Dengan segera Dirga duduk dikursi tepat dihadapan kakeknya.

“sudah cukup bagi kamu menimba ilmu di pondok ini.”ucap kakeknya lagi

“pesan kakek, amalkan segala ilmu yang kamu peroleh untuk kebajikan dan membantu bagi yang memerlukannya.”ucap kakeknya lagi sambil mengeluarkan sesuatu dari kantung baju kokonya.

“kakek mendapatkan ini dari salah satu almarhum guru kakek, sudah saatnya juga kakek menyerahkan ini pada kamu.”kata kakeknya sambil menunjukan sebuah tasbeh berukuran kecil namun aroma wanginya tercium begitu tajam dari tempat duduknya.

“amalkan dan mintalah segala sesuatunya kepada Allah SWT, tapi ingat kamu harus tetap bersahaja.”pesan kakeknya lagi sambil memberikan tasbeh tersebut kepada Dirga. Dengan segera Dirga menghampiri kakeknya dan menerima tasbeh berukuran kecil tersebut. Namun ada sesuatu yang dirasa saat ia menggenggam tasbeh tersebut, serasa ada sesuatu yang mengalir dipunggungnya. Sementara kakeknya hanya tersenyum melihat Dirga yang masih terheran-heran dengan apa yang dirasakannya.

 

Kali ini ia harus berpanas-panasan dan berdesak-desakan dengan penumpang bus lainnya untuk menuju ke Jakarta, kakek telah melarang ayahnya untuk menjemputnya karena kakek ingin agar Dirga dapat merasakan juga apa yang dirasakan oleh orang-orang yang tidak memiliki kendaraan pribadi.

 

Dirga menghela nafasnya ketika berada didepan pintu pagar sebuah rumah berwarna coklat dan cream dibasuhnya keringat yang mengucur diwajahnya, ditekannya bel berulang kali namun tidak ada satu'pun orang yang keluar dari dalam rumah dan dilihat pos satpam yang terletak disudut halaman rumah juga kosong melompong. Dirga mengernyitkan dahinya, agak heran juga ia dengan kondisi rumah  yang sepi seperti ini. Dibukanya grendel pagar yang tidak terkunci dengan segera ia masuk menuju keteras namun belum sempat rasa herannya hilang tiba-tiba pintu rumah terbuka lebar terlihat bu Siti pembantu rumah dan pak Tomi satpam rumah menyambutnya dengan penuh senyum sementara dari dalam Jihan adik perempuannya menyeruak dan berteriak keras “Surprise..!!.”teriak Jihan mengejutkan dirinya.

Dirga yang semula kaget kini ikut tersenyum melihat kelakuan adik semata wayangnya itu.

“assalamu’alaikum..!.”teriak Dirga sambil memeluk adiknya

“waalaikum salam..!.”sahut Jihan balas memeluk erat tubuh kakaknya yang sudah lama tidak tinggal bersamanya.

“kamu sehatkan mas !?.”tanya Jihan sambil menatap wajah dan tubuh kakaknya

“Alhamdulillah aku sehat, kamu sendiri sehatkan de !?.”sahut Dirga balik bertanya

“Alhamdulillah sehat mas.”sahut jihan sambil menggandeng tangan kakaknya.

“Den, maaf ya den . non Jihan yang melarang saya untuk membukakan pintu saat Raden datang.”ucap bu Siti menunduk yang biasa memanggil dirinya Raden. “iya den, saya juga minta maaf.”ucap pak Tomi ikut-ikutan.

“Ooo…nggak apa-apa bu Siti dan pak Tomi, tapi bapak sama ibu sehat-sehat aj kan !?.”sahut Dirga tersenyum balik bertanya.

“Alhamdulillah sehat den..!.”sahut bu Siti dan pak Tomy bersamaan sambil meminta ijin untuk melanjutkan pekerjaannya kembali.

 

“Dirga !, ayah dan mama sudah daftarkan kamu disalah satu Perguruan Tinggi Swasta, jadi besok lusa kamu bisa langsung kuliah.”kata ayahnya saat makan malam bersama dirumah. Ya, kebersamaan pada hari-hari biasa hanya bisa dilakukan dimeja makan dan diruang keluarga sambil menonton acara TV atau hanya sekedar membaca surat kabar karena ayah dan mamanya sama-sama bekerja diperusahaan milik keluarga.

“baik yah.”sahut Dirga singkat sambil mengambil salah satu lauk yang ada dimeja makan.

“untuk sementara kamu bisa pakai mobil mama dulu Dir.”kata mamanya sambil mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya.

“Ya, mama. Aku kan suka pakai !?.”sahut Jihan merengut karena kendaraan yang biasa dipergunakan akan dipakai oleh kakaknya.

“kamu bisa diantar dulu sama kakak kamu.”sanggah mamanya.

“aku mau naik motor aja ma.”ucap Dirga singkat sambil menyuapkan nasi beserta lauk kemulutnya.

“Ooo..tidak !. kamu tidak boleh naik motor lagi.”balas mamanya tegas matanya agak melotot

“mama tidak mau kamu kebut-kebutan lagi saat di SMP dulu.”kata mamanya lagi

“tidak ma, aku tidak akan kebut-kebutan lagi. Jakarta macet ma..!, aku lebih enjoy naik motor.”pinta Dirga agak merengut.

“ayah…,please ya yah..!, aku nggak ngebut lagi kok.”pinta Dirga kini ditujukan kepada ayahnya. Dan biasanya bila anak-anak sudah meminta kepada ayahnya, ayahnya akan membicarakan ke mamanya walau terkadang pembicaraan akan berlanjut hingga selisih paham.

“nanti ayah bicarakan dulu sama mama.”sahut ayahnya singkat sambil mengambil air minum.

“ayah gimana sich !?, mama sudah larang masih aja nurutin anak-anak.”sahut mamanya agak kesal.

 

Seperti biasanya bila ayah dan mamanya sudah silang pendapat maka Dirga dan Jihan dengan segera menghabiskan makanannya dan satu persatu dengan pelan-pelan mereka meninggalkan meja makan.

“Eee…eeh..!.”kalian mau kemana ?, mama belum selesai bicara.”ucap mamanya sambil melotot melihat kedua anaknya.

“perutku mules ma.”sahut Dirga sambil pura-pura memegangi perutnya.

“aku juga ma.”sahut Jihan menimpali pura-pura meringis sambil menuju kekamarnya.

 

Sementara ayah dan mamanya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan anak-anaknya, walau sudah menginjak remaja namun sifat manjanya masih tetap saja terlihat.

 

 “Dirga, ayah dan mama berangkat dulu.”ucap ayahnya pada Dirga yang sedang asyik membersihkan motor gedenya jenis sport pemberian ayahnya kemarin. 
“Iya yah.Terima kasih atas motornya ya, yah !.”ucap Dirga tersenyum dan ayahnya balas mengangguk tersenyum. 
“Iya tapi ingat, mama tidak mau menerima laporan kamu kebut-kebutan lagi apalagi kalau sampai mama melihatnya sendiri.”sanggah mamanya dengan tegas. 
“Iya ma.”sahut Dirga menunduk. 
“Ya sudah, mama dan ayah berangkat dulu, assalamu’alaikum.”ucap mama dan ayahnya. 
“Waalaikum salam.” Sahut Dirga segera salim kepada mama dan ayahnya yang hendak masuk ke dalam mobil sementara pak Husaini supir pribadi ayah dan mamanya berdiri disamping pintu mobil dan segera menutupnya setelah diyakini mama dan ayahnya sudah berada didalam mobil. 

Bila diingat sangatlah wajar jika mamanya meminta secara tegas agar dirinya tidak kebut-kebutan lagi, karena saat dikelas 3 SMP hingga semester pertama di SMA dulu dia sudah berkecimpung didunia balap liar yang terkadang berujung dengan keributan sehingga pada akhirnya sepeda motor miliknya sempat ditahan di Kepolisian setempat. Untungnya beberapa anggota pihak Kepolisian mengenalinya sebagai putra Pram(Pandji Rama) dan Riayu, sehingga masalahnya tidak sampai pada pemanggilan orang tua. Namun tetap saja masalahnya diketahui oleh ayah dan mamanya, saat itu juga sepeda motor dijual dan dirinya dikirim ke Pondok Pesantren milik kakeknya. Tapi itu dulu, sekarang kan tidak.”guman Dirga dalam hati sambil tersenyum.


“Mas, mau berangkat jam berapa nanti aku terlambat !?.”rengek Jihan yang sudah rapi dengan pakaian SMA dan tas slempangnya. 
“Iya de sebentar, mas ambil tas dulu.”sahut Dirga yang segera mengambil tasnya. 

“Cie..Jihan !, dapat gebetan dari mana loe ?.”tegur Vera ketika melihat Jihan baru turun dari sepeda motor dan salim pada kakaknya. Jihan hanya tersenyum. 
“Kenalin dong Han,”pinta Sari yang tidak boleh melihat setiap cowok yang bersama dengan teman-temannya. 
“Huss..!, gosip aja yuk kita masuk !.”sahut Jihan tersenyum 
“Digosok kan makin sip Han.”ledek Vera tertawa sambil beranjak masuk kehalaman sekolah dikuti oleh Sari. 

Hari pertama dibangku kuliah Dirga diultimatum oleh teman-teman barunya untuk memperkenalkan dirinya didepan ruang perkuliahan. Mau tidak mau ia harus menurut juga akan keinginan teman-teman barunya.
“Baik teman-teman, namaku Dirga Nurfebri, dipanggil Dirga.”ucap Dirga memperkenalkan dirinya. “Sebelumnya pendidikanku Madrasah Aliyah disalah satu Pondok Pesantren didaerah Garut. Jadi aku ini Gatel.”seloroh Dirga tersenyum. 
“Hah..gatel !?., kalau gatel digaruk aja Dir.”sahut Sontje dan teman-temannya yang lain menggoda. “Maksudku Garut tembak langsung, jadi aku singkat gatel.”sanggah Dirga tersenyum 
“Itu mah sama dengan gue dong Dir !.”sahut Chairul tidak mau kalah. 
“Maksudnya...!?.”tanya Dirga sambil mengernyitkan dahinya. 
“Iya, kalau gue sich Gatel Banget.”ucap Chairul lagi dan terdiam sejenak sambil membenarkan posisi duduknya. Kini mata teman-temannya tertuju ke Chairul. 
“apaan tuh Rul ?.”tanya Saut terheran-heran. 
“Iya Garut tembak langsung nyamping Bandung sakedap.”jawab Chairul enteng tidak nyambung yang langsung diteriaki oleh teman-temannya, sehingga membuat ruang perkuliahan menjadi gaduh dan tidak hanya sampai disitu kini gulungan kertas bekas’pun mulai berterbangan menuju kearahnya dan baru terhenti ketika dosen pembimbing masuk.

"Jadi cowok yang nganterin itu kakak loe Han !?.”tanya Sari terheran-heran pada Jihan ketika melihat Dirga yang baru datang tersenyum padanya berjalan menaiki anak tangga menuju kekamarnya. 
“Iya, dia kakakku Sar. Kenapa, mau aku kenalin ?.”goda Jihan pada temannya itu. 
Sementara Vera, Linia dan Rike masih sibuk menyelesaikan tugas sekolahnya. Sepulang dari sekolah mereka berlima sudah terbiasa belajar bersama dirumahnya, apalagi bila ada tugas sekolah seperti sekarang ini. 

Pagi ini dosen mata kuliah Logika Teknik berhalangan hadir, sehingga Dirga bisa menyempatkan dirinya untuk duduk-duduk sambil minum teh manis disalah satu kantin dikampusnya bersama dengan Chairul. “Mereka siapa Rul ?.”tanya Dirga tiba-tiba saat saat melihat 4 mahasiswa yang baru datang dan langsung mengusir para mahasiswa yang sedang duduk-duduk karena tempatnya akan dipergunakan oleh mereka. “jangan diliatin Dir, mereka biang rese anak semester 5.”sahut Chairul yang berusaha mengalihkan pandangannya ketempat lain. 
“memangnya kenapa ?.”tanya Dirga lagi sambil meminum teh manis hangat yang dipesannya. 
“Mereka suka mintain duit para mahasiswa-mahasiswi Dir, gue juga sempat waktu itu dipalak sama mereka.”cerita Chairul penuh semangat. 
“Yang menghadap kekita namanya Frandy dan Agus, yang baju merah Jeffry dan satunya lagi Adi.”ucap Chairul memberitahukannya. Sementara Dirga hanya mengangguk saja. 
“Ya, sudah kita langsung kekelas saja yuk Dir !.”pinta Chairul sambil beranjak dari kursinya. 

Namun baru saja Chairul akan melangkah, salah satu dari mereka menegurnya. 
“Eh, loe mau kemana ?.”tanya salah satunya suaranya seperti orang setengah mabuk. 
Chairul berhenti sejenak namun tangannya ditarik oleh Dirga untuk segera pergi dari kantin tersebut. Bukannya Dirga takut, tapi rasanya enggan menghadapi mereka berempat apalagi sedang berada dikampus.pikirnya dalam hati. 
“Eh, rese loe. Gue tanya malah kabur.”sahutnya lagi matanya masih memperhatikan Dirga dan Chairul. 
“Gue baru liat tuh anak, anak baru apa ya..!?.”tanyanya kepada salah satu temannya. 
“Yang mana..?.” Temannya balik bertanya 
“Itu yang kaos abu-abu, monyet...!.”katanya lagi bercanda dengan menekankan intonasinya diakhir kalimat kepada temannya. Warna kaos Dirga abu-abu monyet. 
“Sial loe ngatain gue monyet.”sungut temannya emosi sementara teman yang lainnya tertawa. 

Dirga membasuh peluhnya dengan sapu tangan, dipercepat langkahnya menuju parkiran motor yang berada dihalaman kampusnya. Kini langkahnya terhenti ketika dilihat tepat didepannya seorang mahasiswi sedang marah-marah kepada 2 mahasiswa semester 5 yang diceritakan Chairul dikantin tadi pagi. 
“kurang ajar loe, main pegang-pegang aja.”hardik mahasiswi itu namun Frandy dan Jeffry hanya tetawa-tawa tanpa rasa bersalah sedikitpun. 
“Hei, ngapain loe liat-liat gue !?.”hardik Frandy ketika melihat Dirga sedang berdiri dan melihat kearahnya. Dirga diam saja dan kembali melanjutkan langkahnya. 

Namun kini langkahnya benar-benar terhenti ketika Jeffry dan Frandy menghadang tepat didepannya. 
“hei, loe anak baru ya..!?.”tanya Frandy bertolak pinggang pada dirinya, sementara Jefry berjalan pelan mengitari tubuhnya dan berhenti tepat dibelakangnya. Dirga cuek saja dan berusaha untuk melanjutkan langkahnya namun kini tangannya bergerak cepat ketika melihat tangan Frandy berusaha untuk mencengkram kerah kaosnya, dengan satu gerakan tangannya kini telah lebih dulu mencengkram dan memelintir tangan Frandy yang tidak menyangka akan gerakan cepat Dirga sementara kaki kanannya telah mendarat tepat diperut Jefri sehingga membuatnya tersungkur. 

Kini Dirga berdiri dengan posisi kuda-kudanya menatap dengan tatapan dinginnya kearah Jeffri yang mulai berdiri sambil memegangi perutnya yang berasa sakit sementara tangannya masih memelintir tangan Frendy yang berteriak kesakitan dan tidak bisa berbuat apa-apa karena semakin bergerak tangannya semakin berasa sakit. 
“Jangan ganggu aku.”ucap Dirga pelan namun tegas sambil menghentakan tangan Frandy dan meninggalkan kedua mahasiswa semester 5 itu yang masih menahan sakit. 

Inilah enaknya naik motor di Jakarta, kendati jalanan macet namun bisa selap selip diantara kendaraan yang lalu lalang. Ucap Dirga dalam hati sambil mencoba untuk menaikan gas motornya dan membuka handle kopling setengah sehingga ban depan motornya terangkat namun tetap berjalan hingga beberapa meter. Tidak dipungkiri keahliannya naik motor diperoleh dari mas Adibanu kakaknya dan kesukaannya akan seni bela diri dan musik diperoleh dari kakak tertuanya mas Regiceina, kini kedua kakaknya sudah berumah tangga dan tinggal dirumah pribadinya masing-masing. Kendati tidak serumah namun perhatiaan kedua kakaknya begitu besar, terkadang 2 minggu atau sebulan sekali mereka akan mengunjungi dan membawakan makanan atau hadiah untuk dirinya dan Jihan. 

Namun disalah satu jalan yang sepi dan sering dilaluinya Dirga menghentikan motornya dengan tiba-tiba sehingga ban belakang motornya berderit, terlihat didepannya dengan jarak 10 meter beberapa sepeda motor dan mobil sengaja diparkir ditengah jalan menghalangi jalannya. Sementara beberapa orang tidak dikenal yang masih menggunakan helm berdiri sambil memegang rantai, stick base ball dan benda tumpul lainnya sepertinya mereka sudah merencanakan menunggu kehadirannya dijalan yang sering dilaluinya ini. Ditengoknya kebelakang dilihat beberapa motor dan mobil juga sudah menutup jalan tersebut, kini posisinya benar-benar sudah terkepung dirasa degup jantungnya mulai kencang tak karuan. Ada apa ini, tanyanya dalam hati. Rasanya aku tidak punya masalah atau musuh.pikirnya dalam hati. Apa aku terjang saja, selanjutnya aku kabur berlari dan motor aku tinggal. Pikirnya lagi karena ia tidak mau mati konyol dengan situasi seperti ini. 

Sejenak Dirga terdiam dan berpikir, walau tidak sebanding mau tidak mau aku harus menghadapinya pikir jiwa lelakinya dalam hati sambil memarkir motor dan membuka helmnya. Namun baru saja ia meletakan helm ditangki motor, tiba-tiba terdengar beberapa teriakan keras dari para penghadangnya sambil mengangkat tangan memberi kode kepada yang lainnya. “Tahaaannn...!!!.” 

Dirga terdiam sejenak namun tetap masih siaga, dilihat beberapa penghadang yang menggunakan helm satu persatu melepaskan helmnya dan satu dengan lainnya saling menatap terlihat ada raut terheran-heran diantara mereka. 
“Dirga..!, loe Dirga kan !?.”sapa salah satu dari mereka yang memegang stick base ball. 
Dirga mengernyitkan dahinya berusaha mengingatnya. “Roy.., Lana.., Sugi..!.”teriak Dirga merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. 
“Kemana aja loe, Dir..!?.”tanya Roy setengah berteriak sambil mengulurkan kepalan tangannya kearahnya dan iapun membalas dengan membenturkan kepalan tangannya ketangan Roy dan kemudian saling berjabat tangan penuh kegembiraan karena sudah lama mereka loss contact sejak ia berada di Pondok Pesantren dan teman-teman yang lainpun mengikuti hal sama mengepalkan tangan dan berjabat tangan seperti yang dilakukannya pada Roy. 

Namun tiba-tiba Roy berteriak kencang. “ Jeffri..!!!, sialan loe..!.nyuruh gue ngerjain teman gue sendiri, bawa mereka kemari !.”perintah Roy kepada anak buahnya. 
Sementara Jefri, Frendy, Agus dan Adi yang mengetahui hal itu berusaha untuk kabur namun tidak bisa karena jalan tersebut telah dipenuhi oleh anak buah Roy. Ditariknya tubuh mereka berempat oleh anak buah Roy dan diserahkannya tepat didepan Roy dan Dirga. 
Dirgapun kaget setelah mengetahui otak permasalahan ini berasal dari mereka berempat. Roy tidak berpikir panjang dengan segera dipukul dan ditendangnya keempat sahabat itu dengan penuh emosi, namun dengan segera Dirga menghentikan amarahnya Roy. 
“Cukup Roy, cukup !.”teriak Dirga pada Roy. 
“Tidak Dir, hampir saja tangan gue ini kotor dengan menghadang loe.”sahutnya masih penuh emosi. 
“Sorry Dir, gue nggak tau kalau yang dimaksud mereka itu adalah loe.”ucapnya lagi penuh emosi sambil mengambil stick base ball dan akan melayangkannya kesalah satu diantara mereka namun dengan sigap Dirga merebut dan menghentikan tindakan Roy tersebut. 
“cukup Roy, cukup...!.”teriak Dirga lagi agak keras berusaha untuk menenangkan temannya itu. 
“Dir, gue punya hutang nyawa sama loe tapi kalau caranya seperti ini gue tidak terima.”sahut Roy masih penuh emosi dan penyesalan karena rasa bersalahnya pada Dirga. 

Kini ingatannya kembali pada saat semester pertama di SMA dulu, saat terjadi keributan dan Roy terdesak oleh lawannya yang menggunakan senjata tajam. Terlihat sebilah parang tinggal beberapa cm lagi akan menghujam ketubuhnya namun dengan cepat Dirga mendorong tubuh Roy dan menangkis parang tersebut dengan menggunakan sepotong besi, dengan sepotong besi itu juga Dirga telah membuat lawannya lari tunggang langgang. Dari situlah Roy merasa berhutang nyawa & berjanji bahwa dia akan melindungi dirinya walau nyawa taruhannya. 

Wajar bila kini ia begitu emosi dengan kejadian ini. 
“sekarang terserah loe Dir, mau diapain mereka.”ucap Roy kepadanya. 
Dirga segera menghampiri teman kuliahnya itu. 
“Gue hanya minta pada kalian, lupakan masalah ini.”ucap Dirga tegas matanya agak melotot. 
“Gue menghormati kalian sebagai senior, tapi gue minta agar kalian juga menghormati adik-adik kelas kalian. Paham..!.”ucap Dirga keras diakhir kalimatnya. 
“Paham Dir, paham.” Sahut mereka berempat ketakutan dan segera pergi sambil memegangi muka dan perutnya yang sakit. 

“Dir, sorry ya Dir..!.”teriak teman-temannya yang lain. 
“Is ok, bro..!, yang penting sekarang kita bisa kumpul lagi.”sahut Dirga tertawa kepada teman-temannya. “Bona fide...!.”teriak Dirga keras-keras sambil mengepalkan tangannya keudara. 
“Bona fide...!.”teriak teman-temannya bersamaan sambil mengepalkan tangannya juga keudara sebagai teriakan atas club mereka dulu yang diambil dari bahasa latin dengan tujuan baik dan bisa dipercaya.

Maka tidak mengherankan bila club motor mereka menjadi mitra Kepolisian, tidak segan atau gengsi mereka turun kejalan untuk membantu dalam hal melakukan pengaturan lalu lintas bila terjadi kemacetan dan tertib berlalu lintas. Walau sedang konvoi mereka tetap berhenti bila traffic light sedang menyala merah, kegiatan bhakti sosialpun tidak lepas dari agenda kegiatan mereka. 

Next, akan ada edisi berikutnya dari Dirga...

D i r g a - Meredam Bara.



Gemiricik air sungai yang berasal dari pegunungan Papandayan dan kicauan burung yang hinggap diantara dahan pepohonan Suagi kian membuat syahdu dan cerianya suasana pagi ini. Tidak jauh dari pepohonan tersebut terlihat seorang pemuda tengah asyik duduk sambil mendekap lututnya diatas bangku bale menahan desiran bayu yang masih menghembuskan hawa dingin. 

Sudah 2.5 tahun ia berada dan mengecap pendidikan disini, kini sudah waktunya  juga baginya untuk kembali ke Jakarta guna melanjutkan pendidikan S1. Semula ia menolak keras saat ayahnya menyuruh  tinggal di Pondok Pesantren milik kakeknya ini namun berjalannya waktu setelah berada disini rasanya enggan juga ia meninggalkan tempat ini. Disini terasa begitu nyaman dan tentram, disini juga ia menimba ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum seperti layaknya sekolah-sekolah lain serta ilmu bela diri.

“Dirga..!.”tiba-tiba suara kakeknya telah membuyarkan lamunannya dan dilihat kakeknya sedang duduk sambil tersenyum memandanginya. Dirga tidak menyadari bila kakeknya sudah dari tadi memperhatikannya.
“iya kek.”sahut Dirga segera menghampiri dan memberi salim kepada kakeknya.
“duduk cu.”ucap kakeknya. Dengan segera Dirga duduk dikursi tepat dihadapan kakeknya.
“sudah cukup bagi kamu menimba ilmu di pondok ini.”ucap kakeknya lagi
“pesan kakek, amalkan segala ilmu yang kamu peroleh untuk kebajikan dan membantu bagi yang memerlukannya.”ucap kakeknya lagi sambil mengeluarkan sesuatu dari kantung baju kokonya.
“kakek mendapatkan ini dari salah satu almarhum guru kakek, sudah saatnya juga kakek menyerahkan ini pada kamu.”kata kakeknya sambil menunjukan sebuah tasbeh berukuran kecil namun aroma wanginya tercium begitu tajam dari tempat duduknya.
“amalkan dan mintalah segala sesuatunya kepada Allah SWT, tapi ingat kamu harus tetap bersahaja.”pesan kakeknya lagi sambil memberikan tasbeh tersebut kepada Dirga. Dengan segera Dirga menghampiri kakeknya dan menerima tasbeh berukuran kecil tersebut. Namun ada sesuatu yang dirasa saat ia menggenggam tasbeh tersebut, serasa ada sesuatu yang mengalir dipunggungnya. Sementara kakeknya hanya tersenyum melihat Dirga yang masih terheran-heran dengan apa yang dirasakannya.

Kali ini ia harus berpanas-panasan dan berdesak-desakan dengan penumpang bus lainnya untuk menuju ke Jakarta, kakek telah melarang ayahnya untuk menjemputnya karena kakek ingin agar Dirga dapat merasakan juga apa yang dirasakan oleh orang-orang yang tidak memiliki kendaraan pribadi.

Dirga menghela nafasnya ketika berada didepan pintu pagar sebuah rumah berwarna coklat dan cream dibasuhnya keringat yang mengucur diwajahnya, ditekannya bel berulang kali namun tidak ada satu'pun orang yang keluar dari dalam rumah dan dilihat pos satpam yang terletak disudut halaman rumah juga kosong melompong. Dirga mengernyitkan dahinya, agak heran juga ia dengan kondisi rumah  yang sepi seperti ini. Dibukanya grendel pagar yang tidak terkunci dengan segera ia masuk menuju keteras namun belum sempat rasa herannya hilang tiba-tiba pintu rumah terbuka lebar terlihat bu Siti pembantu rumah dan pak Tomi satpam rumah menyambutnya dengan penuh senyum sementara dari dalam Jihan adik perempuannya menyeruak dan berteriak keras “Surprise..!!.”teriak Jihan mengejutkan dirinya.
Dirga yang semula kaget kini ikut tersenyum melihat kelakuan adik semata wayangnya itu.
“assalamu’alaikum..!.”teriak Dirga sambil memeluk adiknya
“waalaikum salam..!.”sahut Jihan balas memeluk erat tubuh kakaknya yang sudah lama tidak tinggal bersamanya.
“kamu sehatkan mas !?.”tanya Jihan sambil menatap wajah dan tubuh kakaknya
“Alhamdulillah aku sehat, kamu sendiri sehatkan de !?.”sahut Dirga balik bertanya
“Alhamdulillah sehat mas.”sahut jihan sambil menggandeng tangan kakaknya.
“Den, maaf ya den . non Jihan yang melarang saya untuk membukakan pintu saat Raden datang.”ucap bu Siti menunduk yang biasa memanggil dirinya Raden. “iya den, saya juga minta maaf.”ucap pak Tomi ikut-ikutan.
“Ooo…nggak apa-apa bu Siti dan pak Tomi, tapi bapak sama ibu sehat-sehat aj kan !?.”sahut Dirga tersenyum balik bertanya.
“Alhamdulillah sehat den..!.”sahut bu Siti dan pak Tomy bersamaan sambil meminta ijin untuk melanjutkan pekerjaannya kembali.

“Dirga !, ayah dan mama sudah daftarkan kamu disalah satu Perguruan Tinggi Swasta, jadi besok lusa kamu bisa langsung kuliah.”kata ayahnya saat makan malam bersama dirumah. Ya, kebersamaan pada hari-hari biasa hanya bisa dilakukan dimeja makan dan diruang keluarga sambil menonton acara TV atau hanya sekedar membaca surat kabar karena ayah dan mamanya sama-sama bekerja diperusahaan milik keluarga.
“baik yah.”sahut Dirga singkat sambil mengambil salah satu lauk yang ada dimeja makan.
“untuk sementara kamu bisa pakai mobil mama dulu Dir.”kata mamanya sambil mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya.
“Ya, mama. Aku kan suka pakai !?.”sahut Jihan merengut karena kendaraan yang biasa dipergunakan akan dipakai oleh kakaknya.
“kamu bisa diantar dulu sama kakak kamu.”sanggah mamanya.
“aku mau naik motor aja ma.”ucap Dirga singkat sambil menyuapkan nasi beserta lauk kemulutnya.
“Ooo..tidak !. kamu tidak boleh naik motor lagi.”balas mamanya tegas matanya agak melotot
“mama tidak mau kamu kebut-kebutan lagi saat di SMP dulu.”kata mamanya lagi
“tidak ma, aku tidak akan kebut-kebutan lagi. Jakarta macet ma..!, aku lebih enjoy naik motor.”pinta Dirga agak merengut.
“ayah…,please ya yah..!, aku nggak ngebut lagi kok.”pinta Dirga kini ditujukan kepada ayahnya. Dan biasanya bila anak-anak sudah meminta kepada ayahnya, ayahnya akan membicarakan ke mamanya walau terkadang pembicaraan akan berlanjut hingga selisih paham.
“nanti ayah bicarakan dulu sama mama.”sahut ayahnya singkat sambil mengambil air minum.
“ayah gimana sich !?, mama sudah larang masih aja nurutin anak-anak.”sahut mamanya agak kesal.

Seperti biasanya bila ayah dan mamanya sudah silang pendapat maka Dirga dan Jihan dengan segera menghabiskan makanannya dan satu persatu dengan pelan-pelan mereka meninggalkan meja makan.
“Eee…eeh..!.”kalian mau kemana ?, mama belum selesai bicara.”ucap mamanya sambil melotot melihat kedua anaknya.
“perutku mules ma.”sahut Dirga sambil pura-pura memegangi perutnya.
“aku juga ma.”sahut Jihan menimpali pura-pura meringis sambil menuju kekamarnya.

Sementara ayah dan mamanya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan anak-anaknya, walau sudah menginjak remaja namun sifat manjanya masih tetap saja terlihat.

 “Dirga, ayah dan mama berangkat dulu.”ucap ayahnya pada Dirga yang sedang asyik membersihkan motor gedenya jenis sport pemberian ayahnya kemarin. 
“Iya yah.Terima kasih atas motornya ya, yah !.”ucap Dirga tersenyum dan ayahnya balas mengangguk tersenyum. 
“Iya tapi ingat, mama tidak mau menerima laporan kamu kebut-kebutan lagi apalagi kalau sampai mama melihatnya sendiri.”sanggah mamanya dengan tegas. 
“Iya ma.”sahut Dirga menunduk. 
“Ya sudah, mama dan ayah berangkat dulu, assalamu’alaikum.”ucap mama dan ayahnya. 
“Waalaikum salam.” Sahut Dirga segera salim kepada mama dan ayahnya yang hendak masuk ke dalam mobil sementara pak Husaini supir pribadi ayah dan mamanya berdiri disamping pintu mobil dan segera menutupnya setelah diyakini mama dan ayahnya sudah berada didalam mobil. 

Bila diingat sangatlah wajar jika mamanya meminta secara tegas agar dirinya tidak kebut-kebutan lagi, karena saat dikelas 3 SMP hingga semester pertama di SMA dulu dia sudah berkecimpung didunia balap liar yang terkadang berujung dengan keributan sehingga pada akhirnya sepeda motor miliknya sempat ditahan di Kepolisian setempat. Untungnya beberapa anggota pihak Kepolisian mengenalinya sebagai putra Pram(Pandji Rama) dan Riayu, sehingga masalahnya tidak sampai pada pemanggilan orang tua. Namun tetap saja masalahnya diketahui oleh ayah dan mamanya, saat itu juga sepeda motor dijual dan dirinya dikirim ke Pondok Pesantren milik kakeknya. Tapi itu dulu, sekarang kan tidak.”guman Dirga dalam hati sambil tersenyum.

“Mas, mau berangkat jam berapa nanti aku terlambat !?.”rengek Jihan yang sudah rapi dengan pakaian SMA dan tas slempangnya. 
“Iya de sebentar, mas ambil tas dulu.”sahut Dirga yang segera mengambil tasnya. 

“Cie..Jihan !, dapat gebetan dari mana loe ?.”tegur Vera ketika melihat Jihan baru turun dari sepeda motor dan salim pada kakaknya. Jihan hanya tersenyum. 
“Kenalin dong Han,”pinta Sari yang tidak boleh melihat setiap cowok yang bersama dengan teman-temannya. 
“Huss..!, gosip aja yuk kita masuk !.”sahut Jihan tersenyum 
“Digosok kan makin sip Han.”ledek Vera tertawa sambil beranjak masuk kehalaman sekolah dikuti oleh Sari. 

Hari pertama dibangku kuliah Dirga diultimatum oleh teman-teman barunya untuk memperkenalkan dirinya didepan ruang perkuliahan. Mau tidak mau ia harus menurut juga akan keinginan teman-teman barunya.
“Baik teman-teman, namaku Dirga Nurfebri, dipanggil Dirga.”ucap Dirga memperkenalkan dirinya. “Sebelumnya pendidikanku Madrasah Aliyah disalah satu Pondok Pesantren didaerah Garut. Jadi aku ini Gatel.”seloroh Dirga tersenyum. 
“Hah..gatel !?., kalau gatel digaruk aja Dir.”sahut Sontje dan teman-temannya yang lain menggoda. “Maksudku Garut tembak langsung, jadi aku singkat gatel.”sanggah Dirga tersenyum 
“Itu mah sama dengan gue dong Dir !.”sahut Chairul tidak mau kalah. 
“Maksudnya...!?.”tanya Dirga sambil mengernyitkan dahinya. 
“Iya, kalau gue sich Gatel Banget.”ucap Chairul lagi dan terdiam sejenak sambil membenarkan posisi duduknya. Kini mata teman-temannya tertuju ke Chairul. 
“apaan tuh Rul ?.”tanya Saut terheran-heran. 
“Iya Garut tembak langsung nyamping Bandung sakedap.”jawab Chairul enteng tidak nyambung yang langsung diteriaki oleh teman-temannya, sehingga membuat ruang perkuliahan menjadi gaduh dan tidak hanya sampai disitu kini gulungan kertas bekas’pun mulai berterbangan menuju kearahnya dan baru terhenti ketika dosen pembimbing masuk.

"Jadi cowok yang nganterin itu kakak loe Han !?.”tanya Sari terheran-heran pada Jihan ketika melihat Dirga yang baru datang tersenyum padanya berjalan menaiki anak tangga menuju kekamarnya. 
“Iya, dia kakakku Sar. Kenapa, mau aku kenalin ?.”goda Jihan pada temannya itu. 
Sementara Vera, Linia dan Rike masih sibuk menyelesaikan tugas sekolahnya. Sepulang dari sekolah mereka berlima sudah terbiasa belajar bersama dirumahnya, apalagi bila ada tugas sekolah seperti sekarang ini. 

Pagi ini dosen mata kuliah Logika Teknik berhalangan hadir, sehingga Dirga bisa menyempatkan dirinya untuk duduk-duduk sambil minum teh manis disalah satu kantin dikampusnya bersama dengan Chairul. “Mereka siapa Rul ?.”tanya Dirga tiba-tiba saat saat melihat 4 mahasiswa yang baru datang dan langsung mengusir para mahasiswa yang sedang duduk-duduk karena tempatnya akan dipergunakan oleh mereka. “jangan diliatin Dir, mereka biang rese anak semester 5.”sahut Chairul yang berusaha mengalihkan pandangannya ketempat lain. 
“memangnya kenapa ?.”tanya Dirga lagi sambil meminum teh manis hangat yang dipesannya. 
“Mereka suka mintain duit para mahasiswa-mahasiswi Dir, gue juga sempat waktu itu dipalak sama mereka.”cerita Chairul penuh semangat. 
“Yang menghadap kekita namanya Frandy dan Agus, yang baju merah Jeffry dan satunya lagi Adi.”ucap Chairul memberitahukannya. Sementara Dirga hanya mengangguk saja. 
“Ya, sudah kita langsung kekelas saja yuk Dir !.”pinta Chairul sambil beranjak dari kursinya. 

Namun baru saja Chairul akan melangkah, salah satu dari mereka menegurnya. 
“Eh, loe mau kemana ?.”tanya salah satunya suaranya seperti orang setengah mabuk. 
Chairul berhenti sejenak namun tangannya ditarik oleh Dirga untuk segera pergi dari kantin tersebut. Bukannya Dirga takut, tapi rasanya enggan menghadapi mereka berempat apalagi sedang berada dikampus.pikirnya dalam hati. 
“Eh, rese loe. Gue tanya malah kabur.”sahutnya lagi matanya masih memperhatikan Dirga dan Chairul. 
“Gue baru liat tuh anak, anak baru apa ya..!?.”tanyanya kepada salah satu temannya. 
“Yang mana..?.” Temannya balik bertanya 
“Itu yang kaos abu-abu, monyet...!.”katanya lagi bercanda dengan menekankan intonasinya diakhir kalimat kepada temannya. Warna kaos Dirga abu-abu monyet. 
“Sial loe ngatain gue monyet.”sungut temannya emosi sementara teman yang lainnya tertawa. 

Dirga membasuh peluhnya dengan sapu tangan, dipercepat langkahnya menuju parkiran motor yang berada dihalaman kampusnya. Kini langkahnya terhenti ketika dilihat tepat didepannya seorang mahasiswi sedang marah-marah kepada 2 mahasiswa semester 5 yang diceritakan Chairul dikantin tadi pagi. 
“kurang ajar loe, main pegang-pegang aja.”hardik mahasiswi itu namun Frandy dan Jeffry hanya tetawa-tawa tanpa rasa bersalah sedikitpun. 
“Hei, ngapain loe liat-liat gue !?.”hardik Frandy ketika melihat Dirga sedang berdiri dan melihat kearahnya. Dirga diam saja dan kembali melanjutkan langkahnya. 

Namun kini langkahnya benar-benar terhenti ketika Jeffry dan Frandy menghadang tepat didepannya. 
“hei, loe anak baru ya..!?.”tanya Frandy bertolak pinggang pada dirinya, sementara Jefry berjalan pelan mengitari tubuhnya dan berhenti tepat dibelakangnya. Dirga cuek saja dan berusaha untuk melanjutkan langkahnya namun kini tangannya bergerak cepat ketika melihat tangan Frandy berusaha untuk mencengkram kerah kaosnya, dengan satu gerakan tangannya kini telah lebih dulu mencengkram dan memelintir tangan Frandy yang tidak menyangka akan gerakan cepat Dirga sementara kaki kanannya telah mendarat tepat diperut Jefri sehingga membuatnya tersungkur. 

Kini Dirga berdiri dengan posisi kuda-kudanya menatap dengan tatapan dinginnya kearah Jeffri yang mulai berdiri sambil memegangi perutnya yang berasa sakit sementara tangannya masih memelintir tangan Frendy yang berteriak kesakitan dan tidak bisa berbuat apa-apa karena semakin bergerak tangannya semakin berasa sakit. 
“Jangan ganggu aku.”ucap Dirga pelan namun tegas sambil menghentakan tangan Frandy dan meninggalkan kedua mahasiswa semester 5 itu yang masih menahan sakit. 

Inilah enaknya naik motor di Jakarta, kendati jalanan macet namun bisa selap selip diantara kendaraan yang lalu lalang. Ucap Dirga dalam hati sambil mencoba untuk menaikan gas motornya dan membuka handle kopling setengah sehingga ban depan motornya terangkat namun tetap berjalan hingga beberapa meter. Tidak dipungkiri keahliannya naik motor diperoleh dari mas Adibanu kakaknya dan kesukaannya akan seni bela diri dan musik diperoleh dari kakak tertuanya mas Regiceina, kini kedua kakaknya sudah berumah tangga dan tinggal dirumah pribadinya masing-masing. Kendati tidak serumah namun perhatiaan kedua kakaknya begitu besar, terkadang 2 minggu atau sebulan sekali mereka akan mengunjungi dan membawakan makanan atau hadiah untuk dirinya dan Jihan. 

Namun disalah satu jalan yang sepi dan sering dilaluinya Dirga menghentikan motornya dengan tiba-tiba sehingga ban belakang motornya berderit, terlihat didepannya dengan jarak 10 meter beberapa sepeda motor dan mobil sengaja diparkir ditengah jalan menghalangi jalannya. Sementara beberapa orang tidak dikenal yang masih menggunakan helm berdiri sambil memegang rantai, stick base ball dan benda tumpul lainnya sepertinya mereka sudah merencanakan menunggu kehadirannya dijalan yang sering dilaluinya ini. Ditengoknya kebelakang dilihat beberapa motor dan mobil juga sudah menutup jalan tersebut, kini posisinya benar-benar sudah terkepung dirasa degup jantungnya mulai kencang tak karuan. Ada apa ini, tanyanya dalam hati. Rasanya aku tidak punya masalah atau musuh.pikirnya dalam hati. Apa aku terjang saja, selanjutnya aku kabur berlari dan motor aku tinggal. Pikirnya lagi karena ia tidak mau mati konyol dengan situasi seperti ini. 

Sejenak Dirga terdiam dan berpikir, walau tidak sebanding mau tidak mau aku harus menghadapinya pikir jiwa lelakinya dalam hati sambil memarkir motor dan membuka helmnya. Namun baru saja ia meletakan helm ditangki motor, tiba-tiba terdengar beberapa teriakan keras dari para penghadangnya sambil mengangkat tangan memberi kode kepada yang lainnya. “Tahaaannn...!!!.” 

Dirga terdiam sejenak namun tetap masih siaga, dilihat beberapa penghadang yang menggunakan helm satu persatu melepaskan helmnya dan satu dengan lainnya saling menatap terlihat ada raut terheran-heran diantara mereka. 
“Dirga..!, loe Dirga kan !?.”sapa salah satu dari mereka yang memegang stick base ball. 
Dirga mengernyitkan dahinya berusaha mengingatnya. “Roy.., Lana.., Sugi..!.”teriak Dirga merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. 
“Kemana aja loe, Dir..!?.”tanya Roy setengah berteriak sambil mengulurkan kepalan tangannya kearahnya dan iapun membalas dengan membenturkan kepalan tangannya ketangan Roy dan kemudian saling berjabat tangan penuh kegembiraan karena sudah lama mereka loss contact sejak ia berada di Pondok Pesantren dan teman-teman yang lainpun mengikuti hal sama mengepalkan tangan dan berjabat tangan seperti yang dilakukannya pada Roy. 

Namun tiba-tiba Roy berteriak kencang. “ Jeffri..!!!, sialan loe..!.nyuruh gue ngerjain teman gue sendiri, bawa mereka kemari !.”perintah Roy kepada anak buahnya. 
Sementara Jefri, Frendy, Agus dan Adi yang mengetahui hal itu berusaha untuk kabur namun tidak bisa karena jalan tersebut telah dipenuhi oleh anak buah Roy. Ditariknya tubuh mereka berempat oleh anak buah Roy dan diserahkannya tepat didepan Roy dan Dirga. 
Dirgapun kaget setelah mengetahui otak permasalahan ini berasal dari mereka berempat. Roy tidak berpikir panjang dengan segera dipukul dan ditendangnya keempat sahabat itu dengan penuh emosi, namun dengan segera Dirga menghentikan amarahnya Roy. 
“Cukup Roy, cukup !.”teriak Dirga pada Roy. 
“Tidak Dir, hampir saja tangan gue ini kotor dengan menghadang loe.”sahutnya masih penuh emosi. 
“Sorry Dir, gue nggak tau kalau yang dimaksud mereka itu adalah loe.”ucapnya lagi penuh emosi sambil mengambil stick base ball dan akan melayangkannya kesalah satu diantara mereka namun dengan sigap Dirga merebut dan menghentikan tindakan Roy tersebut. 
“cukup Roy, cukup...!.”teriak Dirga lagi agak keras berusaha untuk menenangkan temannya itu. 
“Dir, gue punya hutang nyawa sama loe tapi kalau caranya seperti ini gue tidak terima.”sahut Roy masih penuh emosi dan penyesalan karena rasa bersalahnya pada Dirga. 

Kini ingatannya kembali pada saat semester pertama di SMA dulu, saat terjadi keributan dan Roy terdesak oleh lawannya yang menggunakan senjata tajam. Terlihat sebilah parang tinggal beberapa cm lagi akan menghujam ketubuhnya namun dengan cepat Dirga mendorong tubuh Roy dan menangkis parang tersebut dengan menggunakan sepotong besi, dengan sepotong besi itu juga Dirga telah membuat lawannya lari tunggang langgang. Dari situlah Roy merasa berhutang nyawa & berjanji bahwa dia akan melindungi dirinya walau nyawa taruhannya. 

Wajar bila kini ia begitu emosi dengan kejadian ini. 
“sekarang terserah loe Dir, mau diapain mereka.”ucap Roy kepadanya. 
Dirga segera menghampiri teman kuliahnya itu. 
“Gue hanya minta pada kalian, lupakan masalah ini.”ucap Dirga tegas matanya agak melotot. 
“Gue menghormati kalian sebagai senior, tapi gue minta agar kalian juga menghormati adik-adik kelas kalian. Paham..!.”ucap Dirga keras diakhir kalimatnya. 
“Paham Dir, paham.” Sahut mereka berempat ketakutan dan segera pergi sambil memegangi muka dan perutnya yang sakit. 

“Dir, sorry ya Dir..!.”teriak teman-temannya yang lain. 
“Is ok, bro..!, yang penting sekarang kita bisa kumpul lagi.”sahut Dirga tertawa kepada teman-temannya. “Bona fide...!.”teriak Dirga keras-keras sambil mengepalkan tangannya keudara. 
“Bona fide...!.”teriak teman-temannya bersamaan sambil mengepalkan tangannya juga keudara sebagai teriakan atas club mereka dulu yang diambil dari bahasa latin dengan tujuan baik dan bisa dipercaya.

Maka tidak mengherankan bila club motor mereka menjadi mitra Kepolisian, tidak segan atau gengsi mereka turun kejalan untuk membantu dalam hal melakukan pengaturan lalu lintas bila terjadi kemacetan dan tertib berlalu lintas. Walau sedang konvoi mereka tetap berhenti bila traffic light sedang menyala merah, kegiatan bhakti sosialpun tidak lepas dari agenda kegiatan mereka. 

Next, akan ada edisi berikutnya dari Dirga...