Getar Cinta


Usai shalat maghrib Lily segera membaringkan tubuhnya diranjang & ditariknya selimut menutupi tubuhnya guna mnghindari udara dingin yang selalu menghiasi kota Lembang. Outing   kali ini benar-benar dirasa sangat menyebalkan. Ya, bagaimana tidak menyebalkan karena kali ini ia harus bertemu dengan orang yang sangat dibencinya, orang yang telah menoreh luka dihatinya. “Bila ingat kejadian 2 bulan lalu, ingin rasanya ia menampar lelaki itu”. Sungutnya dalam hati. Sementara Citra teman satu kantornya & satu kamar dengan Lily hanya mengernyitkan dahinya ketika dilihat Lily sudah berada dipembaringan dengan selimut yang hampir menutupi seluruh tubuhnya.
“Li..luh nggak ikut acara malam ini.”  tanya Citra sambil merapikan rambutnya didepan cermin. Lily hanya berdiam diri, ia pura-pura tidak mendengar pertanyaan Citra. Citra hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap Lily, ditariknya selimut yang menutupi tubuh Lily sambil berteriak kecil  “Li..!”. “Aaacchhh…!.” Sahut Lily sambil menarik selimutnya kembali. “males ach..!?.” sahutnya cuek penuh manja.
“ Ya, sudah..!, kalau gitu aku tinggal” ucap Citra sambil menekan grendel pintu kamar, namun sebelum beranjak pergi Citra kembali mengajak Lily namun ajakan paksa dengan menakuti Lily.
“Tapi hati-hati ya..kalau sendiri, biasanya nanti suka ada yang nemanin”, kata Citra menakut-nakuti Lily. Lily yang mendengar perkataan Citra langsung berdiri & beranjak dari tempat tidur “Ach..!, Citra jangan nakut-nakutin aku dong.” Sahut Lily yang segera mengambil jacket & slayernya. Citra hanya tersenyum melihat kelakuan manja Lily, ia tahu kalau teman satunya ini paling takut sama yang berbau horor.

Keceriaan outing kali ini benar-benar tidak dapat  membangkitkan keceriaan hati Lily padahal ia terbilang wanita yang penuh dengan keceriaan dan senyumnya yang menawan. Kalaupun ada yang membuat dirinya tertawa, hanyalah pada saat ia melihat Husaini temannya yang memiliki postur badan tinggi besar dan gendut diisengi oleh beberapa teman-temannya hingga tercebur dikolam renang. Namun keceriaan itu tidak berselang lama dan dialihkan pandangannya kelain tempat karena ia melihat diantara teman-temannya itu ada orang yang sangat dibencinya.
"Ok, teman-teman acara malam ini telah selesai dan besok akan dilanjutkan kembali dengan acara perlombaan." tiba-tiba suara Linia salah satu panitia outing telah membuyarkan lamunannya. "untuk itu sekarang waktunya istirahat dan kembali ke kamar masing-masing...!." ucapnya lagi dengan suara yang agak dikeraskan. 

Lily dan teman-temannya segera beranjak pergi namun baru beberapa kali ia melangkah dirasakan ada yang menepuk pundaknya segera ia menengok kebelakang dan dilihat Sonia teman satu kantor yang berasal dari cabang Bandung sedang tersenyum memandangnya.
"Hai Sonia...!. Kamu ikut outing juga toh !?." Sahut Lily senang sambil mengecup pipi dan memeluk Sonia, Sonia'pun membalas kecupan dan pelukan hangat Lily. Selama ini Lily dan Sonia hanya bertemu melalui udara saja atau by phone. Tidak dipungkiri olehnya bila acara outing dapat mempertemukan dirinya dengan teman-temannya yang berada di cabang atau luar daerah.
"Sonia aku dengar kamu mau married ya, jangan lupa undangannya ya..!?." Pinta Lily sambil menggandeng tangan Sonia penuh riang " wah..!, beritanya kok sudah meluas sich..!." Sahut Sonia bergurau sambil tertawa "pasti Ly, kamu pasti aku undang. Tapi tanpa perlu undangan ya..!" gurau Sonia lagi "oiya, kamu kamarnya dimana Ly !?. Aku diujung sana." kata Sonia sambil menunjuk arah koridor barat. "wah..!, aku disana." Sahut Lily menunjuk koridor timur "pisah dong...!." Sahut keduanya bersamaan sambil tertawa riang dan saling melambaikan tangan menuju kekamarnya masing-masing.

Lily mempercepat langkahnya menuju koridor timur yang mulai sepi, namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar sebuah suara yang cukup dikenalnya "boleh aku bicara sebentar Ly !?." Sejenak Lily terdiam dan kembali meneruskan langkah kakinya namun kini langkahnya benar-benar terhenti ketika lengannya dicengkeram sangat kuat. "Kamu boleh marah padaku, kamu boleh benci padaku. Tapi beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya." Ucap Anggara suara agak keras dan tegas sambil menatap mata Lily. Lily hanya menunduk terdiam dan menahan emosinya, ditepisnya tangan Anggara kuat-kuat. "Apalagi yang akan kamu jelaskan, semua sudah jelas kan !. Kamu yang menyebar fitnah kepada teman-teman bila aku ini play girl kan !?." Sahut Lily dengan suara yang tak kalah keras dan emosi.
"Tidak...!, bukan aku yang memfitnahmu justru aku yang membantah omongan mereka. Maafkan bila aku tidak membantumu karena aku tidak ingin hubungan kita diketahui oleh teman-teman." Tandas Anggara menahan emosinya. Lily sudah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Anggara, ia yakin itu hanyalah pembelaan murahan yang dilakukan oleh Anggara. Guman Lily dalam hati dengan  segera ia tinggalkan Anggara, namun langkahnya kembali terhenti ketika ia mendengar perkataan Anggara yang seakan-akan tahu apa yang sedang dipikirkannya. "Silahkan kamu tidak percaya dengan apa yang akua katakan dan mungkin kau anggap itu pembelaan murahan dariku. Silahkan..!?." Ucap Anggara tegas sambil meninggalkan Lily yang masih terpaku berdiri.

Lily membanting pintu kamar hotel keras-keras dengan segera ia menjatuhkan dirinya ditempat tidur dan meluapkan segala kesedihannya dalam tangis sedu sedannya sambil menutup mukanya dengan bantal. Ia tidak memperdulikan Citra yang ada dikamar dan tengah memperhatikannya, kalau’pun ada ia perdulikan saat ini adalah perasaan sakitnya yang teramat sangat. Sementara Citra yang melihat kesedihan temannya itu benar-benar merasakan penyesalan yang teramat mendalam, kini ia benar-benar merasa bersalah "aku terlalu ego, aku terlalu jahat."gumannya dalam hati. Citra menarik nafas dalam-dalam ia beranjak dari tempat tidurnya, ia mencoba untuk menenangkan dirinya, setelah dirasa tepat waktunyaia mencoba menghampiri Lily direngkuhnya pundak Lily yang masih dalam keadaan sedu sedan untuk duduk bersandar diranjangnya.
"aku mau bicara dan aku mau minta maaf." ucap Citra suaranya agak bergetar sambil duduk ditepi ranjang dan wajahnya tertunduk menatap lantai kamar.
"maaf apa..!?." sahut Lily sambil menyeka tetes air mata yang masih membasahi pipinya. Agak ragu Citra untuk melanjutkan kata-katanya, tapi mau tidak mau dia harus mengatakannya karena ia tidak ingin melihat Lily selalu larut dalam kesedihan dan ia'pun sadar resiko apa yang akan diterimanya.
"akulah yang melakukan itu Ly." ucap Citra sambil menangis dan memeluk tubuh Lily. Lily merasa kaget dan bingung atas perkataan dan sikap Citra yang tiba-tiba menangis serta memeluknya.
"melakukan apa..?."tanya Lily yang masih belum mengerti dengan apa yang dikatakan Citra.
"aku tidak bermaksud untuk menyebar fitnah itu Ly, bukan Anggara yang melakukannya." kata Citra dalam isak tangisnya. Serasa mendengar petir disiang hari Lily terdiam dan merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh temannya itu.
"aku melakukannya karena pada saat itu aku juga menyukai Anggara, tapi itu dulu Ly." ucap Citra lagi tangisnya semakin menjadi.
"maafkan aku Ly." pinta Citra kepada Lily. sementara Lily hanya menggeleng-gelengkan kepala menahan emosinya, sambil menghela nafasnya didorongnya tubuh Citra agar menjauh dari tubuhnya.
"kamu tega ya Cit, kamu jahat..!." teriak Lily berdiri dihadapan Citra yang tertunduk lesu sambil menangis.
"2 bulan aku memiliki kebencian pada Anggara karena aku menyangka dialah yang melakukan semuanya." sahut Lily penuh amarah, kata-katanya terbata-bata menahan nafasnya yang naik turun.
"maafkan aku Ly." pinta Citra sambil menangis tersedu dan beranjak memeluk kaki Lily. Lily tidak bergeming dan juga tidak bisa bicara apa-apa, amarah, kecewa, rasa benci kini benar-benar menjadi satu dan merasuk dalam dirinya untuk menangis lagi'pun saat ini tidak bisa ia lakukan serasa air matanya telah mengering dan berganti dengan amarahnya. Namun pada akhirnya ia'pun merasa tidak tega juga dengan Citra yang sudah berulang kali meminta maaf pada dirinya dan memeluk kakinya serta duduk bersimpuh dihadapannya untuk memohon maaf   dengan apa yang pernah dilakukannya. direngkuhnya pundak Citra untuk berdiri sejajar dengan dirinya.
"aku terima kata maafmu Cit." sahut Lily dingin tanpa ekspresi dan segera Lily merebahkan kembali dirinya diranjang.membiarkan Citra yang masih larut dalam penyesalan dan rasa bersalahnya.

Malam ini pikirannya benar-benar tidak karuan terasa sulit bagi Lily untuk memejamkan matanya, perasaan bersalah pada Anggara kian merasuk dalam pikirannya. sudah terlalu jauh ia menilai Anggara yang tidak-tidak."apa yang harus aku lakukan sekarang !?." tanyanya dalam hati. "haruskah aku menemui dan meminta maaf padanya." tandasnya lagi dalam hati.

Malam kian merambat dan perlahan tapi pasti sang surya mulai mengintip tak sabar untuk berganti. Kicauan burung dan gemericiknya suara air kian menambah keindahan dan keceriaan suasana di Hotel berbintang 3 ini. Diluar sana rekan-rekan satu kantor Lily telah mencari kegiatan masing-masing. Nova dan Bonita yang tidak boleh melihat air tergenang sudah asyik bercanda riang di kolam renang, terlihat juga Mugi masih akrab dengan berlari-lari kecilnya. Sementara lapangan bola yang berukuran kecil sudah diramaikan oleh teriakan-teriakan Erwin, Firman dan Afri serta teman lainnya yang sedang berebut bola namun ada juga yang hanya sekedar berbincang-bincang sambil bercanda ditaman hotel, seperti apa dilakukan oleh Anggara dan teman-temannya.

Sementara untuk teman-teman lainnya yang belum terlihat, tentunya masih asyik diperaduan atau kamarnya masing-masing seperti apa yang kini tengah dilakukan oleh Lily. Sambil menahan rasa kantuknya, dipaksakan dirinya menuju kamar mandi. Sementara Citra masih terlelap dalam tidurnya. Selesai berdandan segera ia membangunkan Citra. Ya.!,.ia harus berusaha untuk memaafkan Citra dan melupakan kejadian semalam. Tandasnya dalam hati.

Pembagian kelompok untuk permainan games telah ditentukan oleh panitia outing dan games akan segera dimulai. Kali ini Lily merasakan degup jantungnya begitu kuat ketika diketahui ia satu kelompok dengan Anggara. Namun apa yang dirasakan saat ini berbeda dengan apa yang ia rasakan kemarin atau selama 2 bulan belakangan ini. Tidak ada lagi tersirat rasa amarah dan kebencian yang ada hanyalah perasaan bersalahnya pada Anggara, lelaki yang pernah hadir dan meluluh lantakan hatinya.

Anggara hanya tersenyum saat melihat dan mengetahui Lily satu kelompok dengannya namun ia tetap menjaga jarak dan perasaannya apalagi didepan teman-temannya walau bagaimanapun untuk waktu tertentu ia tidak ingin hubungannya dengan Lily diketahui oleh teman-teman satu kantornya. Namun yang namanya perasaan tidak dapat  dibohongi terkadang akan terlihat juga dari sikap yang ada seperti halnya dengan sikap Anggara dan Lily sangat terlihat jelas ada kekakuan dalam diri mereka berdua selama permainan games berlangsung. 
Menjelang maghrib acara permainan games baru selesai dan seperti biasanya Linia dengan menggunakan pengeras suara memberitahu susunan acara untuk berikutnya. “Ok. Teman-teman, acara games telah selesai. Pengumuman pemenang akan dilakukan nanti malam pada acara bebas tapi terbatas…!.”ucap Linia sambil melenggokan tubuhnya penuh ceria.

Bersamaan dengan aktifitas barbeque, panggung hiburan yang terletak disamping kolam renang mulai terdengar sorak sorai dan tawa canda para karyawan karyawati PT. Idola Wanita. Selain music live ada juga pertunjukan seni angklung yang akan dibawakan oleh para seniwati dari daerah Bandung. Pengumuman lomba games telah dimulai dan pemenangnya adalah group A. Ya, itu adalah gorupnya Anggara dan Lily. Tapi…!, dimanakah keberadaan mereka berdua saat ini !?. teman-temannya mulai saling bertanya dan mencari keberadaan mereka karena sebentar lagi pembagian hadiah akan dimulai.

Disisi lain Anggara tengah berlari kecil untuk menghampiri Lily yang sedang berjalan disepanjang koridor timur untuk menuju panggung. “Lily..!.” panggil Anggara saat tepat berada dibelakang Lily. Lily menghentikan langkahnya dan segera menoleh membalikan tubuhnya sehingga tatapannya beradu pandang dengan Anggara. Ada getar-getar cinta yang dirasakan dalam hatinya yang selama ini tertutup oleh kebenciaan yang salah sasaran dengan tersipu Lily menundukan kepalanya dan baru saja Lily akan mengucapkan sesuatu jari telunjuk Anggara telah berada diatas bibirnya yang merah merekah mengisyaratkan agar Lily tidak perlu mengucapkan apa’pun. Wajah Lily mulai merona bukan karena menahan malu tapi ada kebahagian yang mulai tersirat dalam dirinya.
 “aku sudah tahu, semalam Citra BBM aku dan menjelaskan semuanya” kata Anggara sambil menunjukan pesan BBMnya Citra pada Lily.
“semua sudah jelas, jadi tidak perlu kita permasalahkan lagi.” Ucap Anggara sambil menggandeng tangan Lily yang masih tersipu malu dan seakan tidak percaya dengan sikap Anggara yang semudah itu telah memaafkan dirinya. Ya..!, hal itulah yang ia suka dari diri Anggara yang gentle dan selalu ingin segera menyelesaikan segala masalah yang ada.

Namun masih ada perasaan yang masih mengganjal dalam diri Lily, maka dengan segera ia mengutarakannya pada Anggara “maafkan aku ya Ang..!.” ucap Lily manja sambil merapatkan tubuhnya kepada lelaki yang pernah dibencinya itu namun tetap disayanginya.
“Is, ok yang..!.” sahut Anggara tersenyum merangkul pundak wanita yang sangat disayanginya itu sambil berjalan menuju kearah panggung. Namun kemesraan mereka berdua tidak berlangsung lama ketika dilihat dihadapannya Citra telah berdiri sambil bertolak pinggang dengan raut muka yang penuh tanda tanya. “hei..pacaran mulu..!. cepat sudah dipanggil oleh panitia.” Hardik Citra sambil tertawa ketika dilihat Anggara dan Lily merasa kaget dan kikuk dengan kehadirannya.
“huh.., dia lagi…dia lagi..!.” guman Anggara dalam hati dan segera menggandeng tangan Lily berjalan melewati Citra.
“Maafkan aku ya Lily..!, maafkan aku juga ya Ang..!,” pinta Citra memohon sambil membungkukan badan ketika Anggara dan Lily melintas didepannya.
“Iiiyyyaaa…!!.” Sahut Anggara dan Lily bersamaan dengan wajah kesal tepat didepan muka Citra sambil bergegas pergi menuju panggung hiburan, meninggalkan Citra yang masih terpaku dalam kesendirian dan sisa penyesalannya.

Apa’pun masalah yang dihadapi singkirkan dulu keegoan yang ada, bila getar cinta masih dirasa disitulah sebenarnya kekuatan cinta bicara. Hal itulah yang dirasakan dan dialami oleh Lily dan Anggara.
  

No comments:

Post a Comment