HBD My Son

Galau

Galau
dirgapandji.blogspot.com Mugi berlari kecil ditengah rintik hujan yang mulai deras, sambil menutup kepalanya dengan sapu tangan yang direntangkan ia bergegas menuju peron stasiun Gondangdia yang terletak dibilangan Jakarta Pusat. Setibanya di ruang tunggu matanya mulai jelalatan mencari seseorang yang akan ditemuinya. “nah itu dia” gumannya dalam hati merasa senang.

Dihampirinya  seseorang yang dituju oleh Mugi. Ooo…!, ternyata seorang wanita muda yang telah membuat Mugi tergesa-gesa hingga menerjang hujan.  Biasanya ia paling takut dan selalu menghindari hujan,  maklum badannya yang agak kurus  sedikit rentan dengan air hujan.

“Hai..!.” sapa Mugi pada seorang wanita yang tengah berdiri menunggu jadwal kereta api tujuan Bogor.

“ Hai juga..!”. sahut wanita itu sambil tersenyum karena ia mengenal Mugi yang sudah beberapa kali bertemu & berkomunikasi dengannya.

“keretanya belum datang ya Win..!?.” Tanya Mugi mulai membuka percakapan kepada Winda, wanita  yang telah membuatnya terpikat & terpesona.

“belum mas, katanya sich ada kendala jadi agak terlambat” sahut Winda agak kesal karena sudah lebih 30 menit ia menunggu. Lain halnya dengan Mugi justru ia merasa senang dengan keterlambatan jadwal kereta api sehingga ia bisa lebih banyak waktu untuk PDKT dengan Winda.

“Oya..!.” sahut Mugi basa-basi dengan wajah yang sumringah “Win…,  kamu bekerja dimana sich.?.” tanya Mugi yang baru menanyakan akan aktifitas Winda padahal ia sudah sering ketemu dengan Winda. “Yang kutahu kamu ada disini bertepatan dengan karyawan pulang kerja Win.” kata Mugi lagi.

“Tidak mas, saya tidak kerja. Saya lagi ada urusan disini” sahut Winda sambil menggeser tubuhnya karena ruang tunggu mulai dipadati calon penumpang kereta api.

“aku pikir kerja Win, urusan keluarga ya Win ?” Tanya Mugi rasa ingin tahunya mulai menggebu.  Sementara Winda hanya mengangguk sambil tersenyum. Mugi makin asyik berbincang-bincang dengan Winda “wah..!, rasanya sungguh beruntung nich bila Winda jadi pacarku” katanya dalam hati “sepertinya Winda juga care nich, sama aku”. Tandasnya lagi dalam hati penuh keyakinan diri.


Namun tak berselang lama percakapan Mugi & Winda terhenti ketika seorang anak lelaki berusia 5 th., berlari menghampiri Winda sambil berteriak memanggilnya “Mama…!”, sapa anak tersebut sambil tertawa girang melihat mamanya dan segera menghampiri Winda. Sementara dibelakang anak kecil tersebut berjalan seorang Pria muda sambil tersenyum.

“Tomy…!.” Sahut Winda merasa senang sambil merentangkan tangannya untuk memeluk Tomy yang merupakan buah hatinya. Dipeluk dan dikecupnya Tomy dengan penuh kasih sayang. Sementara Mugi yang menyaksikan hal itu merasa kaget dan penuh tanda tanya dengan apa yang dilihatnya. Winda yang melihat sikap Mugi  mulai kikuk segera memperkenalkan lelaki yang berdiri disampingnya.

“Mas, perkenalkan ini suami & anak saya” sahut Winda memperkenalkan suami & anaknya kepada Mugi.

Mugi baru sadar bahwa wanita yang saat ini dihadapannya telah bersuami sambil menyodorkan tangannya Mugi memperkenalkan dirinya “Mugi”, ucap Mugi agak kikuk sementara wajahnya mulai memerah menahan rasa malu bercampur kesal.

“Bambang” sahut suaminya Winda sambil membalas menjabat tangan Mugi.

Winda mengetahui perubahan sikap Mugi & ia’pun tak ingin berlama-lama melihat kekikukan Mugi, dengan segera ia berpamitan dengan Mugi “Ya sudah mas, saya naik duluan ya..!”, kata Winda sambil melambaikan tangan kearah Mugi ketika melihat kereta tujuan Bogor sudah tiba dan  akan segera diberangkatkan.


Mugi hanya mengangkat tangan dan menelan ludah, ia masih  tidak percaya dengan apa yang  disaksikannya sambil menghela nafas dalam-dalam dan dengan langkah gontai Mugi kembali menanti kereta tujuan Bogor yang berikutnya. “ngimpi apa gue semalam !?.” Pikirnya dalam hati sambil menggaruk-garukan kepalanya “istri orang kok gue kejar-kejar”. gumannya dalam hati penuh malu sambil bersungut-sungut. “Mugi…Mugi..memangnya kamu nggak bisa bedain apa, wanita yang telah bersuami atau belum !?”. pikirnya merasa bodoh menyalahi dirinya sendiri.

Azhan Maghrib mulai berkumandang menyuarakan kebesaran sang Pencipta & panggilan untuk shalat, namun disini di stasiun Gondangdia ini kembali Mugi  menemukan predikat dirinya sebagai “Jomblo penuh kegalauan”.

Comments