Asa yang hilang 2


Sebulan berlalu Pram dan Ria sudah tidak bertemu kalaupun ada kontak melalui telephone atau BBM  yang ada hanya emosi yang menyelimuti diantara mereka berdua, keegoan seakan tiada jeda kini hanya kebisuan yang melanda diri mereka berdua.

Namun ada kerinduan yang tersirat dalam diri Pram. Ya..!, kerinduaan pada diri Dirga yang biasa seminggu atau 2 minggu sekali ia bertemu dengan Dirga namun sudah sebulan ia tidak bertemu. Kini keinginan untuk menemui Dirga semakin besar, pukul 08.30 Wib mobil yang dikendarai oleh Pram sudah melewati km. 135 Tol Purbaleunyi & terlihat plang petunjuk jalan pintu keluar tol Pasteur, ada perasaan getir dalam hatinya. Biasanya untuk menemui Ria, ia akan melalui pintu keluar tol Pasteur namun kini ia harus menuju pintu keluar tol Cileunyi guna menemui Dirga.

Sesampainya di Limbangan Pram segera memarkir kendaraannya ditempat biasa saat ia dengan Ria menjemput Dirga. "Semoga saja Dirga ada dirumah dan tidak bermain dengan teman-temannya" harap Pram dalam hati.
"Assalamualaikum...!." Ucap Pram sambil mengetuk pintu rumah mantan suami Ria
"Waalaikum salam...!." Sahut suara seorang lelaki muda dari dalam rumah. Pram belum pernah bertemu dengan mantan suami Ria, sehingga ia tidak tahu apakah suara lelaki tersebut suara mantan suami Ria atau bukan.
"Ada apa ya kang..!?." Tanya lelaki tersebut saat membuka pintu dan melihat Pram sedang berdiri. Ada perasaan gugup dan kikuk dalam diri Pram.
"Maaf mengganggu kang, saya Pram." Ucap Pram memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan
"Haris.." Sahutnya sambil menjabat tangan Pram. Pram makin kikuk karena lelaki tersebut merupakan mantan suami Ria
"Saya ingin bertemu dengan Dirga kang ?." Ucap Pram lagi. Haris merasa heran & mengernyitkan dahinya penuh tanda tanya.
"Bapak ini saha..!?." Tanya Haris lagi kalimatnya bercampur bahasa sunda.
"Saya temannya Ria, kang. Saat ke Bandung saya sering bertemu dengan Dirga karena sudah lama tidak ketemu, sekarang saya ingin tahu keadaannya kang." Jawab Pram mencoba mengatur bahasanya agar tidak menyinggung perasaan Haris.
"Ooo..., saya pikir siapa !?. Silahkan...silahkan masuk kang." Sahut Haris mempersilahkan Pram masuk dan segera Haris memanggil anaknya yang sedang berada dikamar.
"Ayah...!." Sahut Dirga kegirangan ketika melihat Pram berada diruang tamu segera ia salim kepada Pram dan Pram membalas dengan mengecup kening bagian atas Dirga. Walau bukan anak kandung tapi Pram benar-benar merasakan adanya ikatan bathin selayaknya seorang ayah dengan anak kepada Dirga. Haris yang mendengar dan melihat anaknya memanggil Pram dengan sebutan ayah kembali mengernyitkan dahinya dan penuh tanda tanya.
"kamu sehatkan Aa ?." Tanya Pram pada Dirga sambil tersenyum
"Sehat ayah..!." Sahut Dirga dengan dialeg sundanya sambil tetap memegang tangan Pram.
"Mama mana yah..?." Tanya Dirga karena ia tidak melihat mamanya yang biasa datang dengan Pram
"Mama masih ada kerjaan dikantor Aa, mama sedang lembur." Sahut Pram berusaha menyembunyikan masalah yang sebenarnya.
"Akang tadi bilang teman Ria, tapi kenapa anak saya memanggil akang 'ayah'." Tanya Haris tiba-tiba memotong pembicaraannya dengan Dirga karena ia merasa telah dibohongi oleh Pram.
"Maaf kang, saat ini saya memang benar temannya Ria karena saya sudah putus dengan Ria."  Jawab Pram agak pelan agar suaranya tidak didengar oleh Dirga dan ia berusaha memberi pengertian kepada Haris. Untungnya Haris dapat mengerti akan hal itu karena ia lebih tahu karakter dan sifat mantan istrinya. Semula Pram enggan untuk membicarakan masalah Ria namun Haris masih saja bercerita tentang mantan istrinya. Hingga pada akhirnya Pram meminta ijin pada Haris untuk mengajak Dirga jalan-jalan.

Seperti biasanya Pram mengajak Dirga makan di restaurant Asep Strawberry karena disana Dirga bisa bermain dikolam ikan yang terdapat dibawah saung resto. Ada perasaan getir dalam diri Pram ketika ia berada disalah satu saung yang biasanya dipilih oleh Ria. Kali ini hanya dirinya berdua dengan Dirga disaung ini tanpa kehadiran Ria disisinya. Masih lekat dalam ingatannya akan janji-janji yang dibuat oleh Ria di saung ini. Pram menghela nafasnya dan berusaha membuang jauh-jauh perasaan getirnya. Terlihat Dirga sangat menikmati sekali suasana disaung ini, Pram merasakan hari-hari dalam kebersamaan dengan Dirga kembali lagi walau saat ini hari yang dilaluinya tanpa kehadiran Ria.
“Ayah mama kemana sich..!?.” tanya Dirga sambil memegang tangannya ketika akan pulang.
‘Nggak ada mama nggak enak..!.”  ucapnya lagi sambil berjalan menuju kemobil. Pram memaksakan senyumnya sambil mengangguk kecil.
“mama sedang lembur Aa, insya allah nanti kita akan bersama-sama lagi.” Jawab Pram pelan suaranya agak parau menahan kegetiran dihatinya. Ia sendiri tidak tahu apakah Ria akan kembali lagi dengannya atau tidak, yang ia ketahui saat ini adalah Ria sangat membenci dirinya.

Walau hanya dalam waktu yang sebentar namun Pram merasa senang dapat bertemu kembali dengan Dirga, setidaknya ia dapat mengetahui akan kondisi Dirga. Diliriknya Dirga yang sedang duduk bersandar dijok yang berada disebelahnya ada kekecewaan yang tersisa dalam dirinya karena jalan kali ini tidak bersama dengan mamanya. Pram memarkir kendaraannya dan segera mengantar Dirga menuju kerumah mantan suaminya Ria namun langkah Pram terhenti didepan pagar rumah ketika dilihat Ria sedang duduk diteras, sementara Dirga berteriak kegirangan ketika melihat Mamanya ada dihadapannya.
“untuk apa kamu datang menemui anakku, aku minta jauhi anakku sekarang juga.” Hardik Ria kepada Pram penuh emosi.
“Kamu bisa melarangku untuk tidak datang lagi menemuimu..” sahut Pram “kamu bisa mengusirku…!.” teriak Pram lagi mulai emosi. “Tapi kamu tidak bisa menghalangiku untuk menemui Dirga, aku adalah ayah ke-2 baginya” Tandas Pram segera masuk untuk berpamitan dengan Haris dan Dirga, setelah itu pergi meninggalkan Ria yang masih terpaku dengan perkataannya. Ria tertunduk, tidak dapat berkata apa-apa. Di dalam hatinya ia mengakui bahwa dari beberapa teman pria yang dekat dengan dirinya hanyalah Pram yang dikenalkan pada putranya dan tidak dapat dipungkiri olehnya juga bahwa anaknya sangat dekat dengan Pram.

Ria berusaha melupakan pertemuannya dengan Pram ditempat mantan suaminya kini ia lebih memfokuskan diri pada kerjaannya, hanya kerjaan inilah yang dapat melupakan masalahnya dengan Pram walau tidak dapat dipungkiri kini ia’pun sedang dekat dengan Rudi salah satu rekanan bisnisnya. Diakui olehnya semula segala sesuatunya berawal dari kerjaan namun terkadang Rudi mengajaknya makan sepulang kerja.

Sementara disisi lain, rasanya sudah cukup bagi Pram untuk membuka hatinya kembali pada wanita lain. Cukup baginya merasakan kegagalan untuk yang ke-2 kalinya. Apalagi saat ini usianya sudah tidak muda lagi dan rasanya tak pantas juga bagi dirinya untuk mendampingi wanita secantik Ria. Ya..!, mungkin salah satunya hal itu juga  yang menjadi alasan bagi Ria untuk memutuskan dan menjauhi dirinya. Celoteh Pram dalam hati.  
“Hei..!, bengong aj loe, kerja..!.”tegur Tomy tiba-tiba mengagetkan dirinya sambil tertawa dan berlalu.
“Brengsek  loe Tom..!, ngagetin gue aja.”sungut Pram sambil mengambil berkas kerjaan yang belum diselesaikannya. Kini Pram mencoba untuk memfokuskan dirinya pada kerjaan, dibuangnya jauh-jauh pikirannya tentang Ria.

Hari-hari kian berlalu berganti dalam hitungan bulan rasanya sudah lama Pram dengan kedua putranya tidak jalan-jalan bersama pada saat liburan dan weekend kali ini, Adi dan Regi meminta agar ayahnya menemani mereka ke Bandung semula Pram merasa enggan apalagi kepedihan yang dirasa belum sepenuhnya hilang namun untuk kesenangan dan keceriaan anak-anaknya mau tidak mau ia menuruti juga keinginan kedua putranya. apalagi kedua putranya juga tidak mengetahui permasalahan yang sedang dihadapinya, kalaupun tahu hanya sebatas mengetahui bila ayahnya sedang dekat dengan seorang wanita yang cikal bakal akan dipanggil mama oleh mereka berdua.

Kali ini Pram kembali menginjakan kakinya dikota Bandung, kota kembang yang telah mengharu birukan hatinya. Ditariknya nafas dalam-dalam dan masih dirasakan kesejukan udara kota Bandung apalagi disore hari ini. Sesuai permintaan anak-anaknya, Pram memilih penginapan disekitar Jl. Ir.H.Djuanda tempat yang strategis bila ia dan anak-anak akan jalan-jalan atau sekedar mencari tempat makan.

Ada keceriaan dalam diri Pram dan kedua anaknya saat sedang makan disalah satu restaurant, sudah lama Pram tidak menemukan keceriaan seperti ini sejak pisah dengan mantan istrinya.
“aduh, ayah…mas Regi nich..!.” ucap Adi agak berteriak karena dicubit oleh kakaknya yang merasa digangguin saat pandangannya tertuju kepada salah satu wanita belia yang sedang duduk disudut resto tersebut. Pram tersenyum melihat kedua anaknya yang sedang saling menggoda.
“aku bilangin teh Lily, ya…”ucap Adi lagi sambil tertawa menggoda kakaknya. Lily adalah pacar kakaknya.
“apaan sich kamu..!.” sahut Regi yang berusaha untuk memukul pundak adiknya, namun Pram segera melerainya.
“Ya sudah, kita jalan lagi yuk..!.” ajak Pram pada kedua anaknya setelah diyakini anak-anaknya sudah selesai makan dan bercanda ria.
“Ok, yah…!.” Sahut Adi sambil mengambil kunci mobil dan Hpnya yang berada dimeja.

Dihalaman parkir Pram menghentikan langkahnya sejenak, dilihat dan diperhatikannya lamat-lamat seorang wanita yang cukup dikenal & telah menggores hatinya sedang bergandengan tangan dengan seorang Pria yang baru keluar dari salah satu restaurant. Ada perasaan miris dan pedih dalam dirinya dengan segera ia memalingkan wajahnya dan masuk kedalam mobil. Sepanjang jalan menuju hotel Pram hanya berdiam diri, ia tidak menyangka begitu cepat Ria memutuskannya dan begitu cepat juga mencari pengganti dirinya.
“ayah kok diam aja dari tadi ?.”tanya Adi membuyarkan lamunannya
“ayah nggak enak badan ?.”tanya Adi lagi sambil tetap focus memegang kemudi kendaraan.
“oh. tidak de. Ayah tidak apa-apa, ayah Cuma ngantuk.”jawab Pram sambil pura-pura menguap dan merapatkan duduknya hingga bersandar dipintu kendaraan. Ia yakin anaknya tersebut telah memperhatikannya melalui kaca spion bagian dalam kendaraan.   

Malam ini pikiran Pram mulai berkecamuk, disatu sisi ia teringat akan perkataan Ria “untuk apa kamu masih temui anakku, supaya aku tergoda lagi dengan kamu, tidak..!, sampai kapan'pun aku tidak akan menerima kehadiranmu lagi.” dan disisi lain ia juga teringat akan perkataan Hari teman dekatnya “untuk apa loe masih perhatiin anaknya, loe aja yang bodoh. Ibunya sudah bersikap seperti itu masih aja loe nemuin anaknya. Cari cewek lain Pram supaya loe bisa lupain dia”. Pikiran Pram menerawang, ditatapnya langit-langit kamar hotel. Benarkah aku ini lelaki bodoh , salahkah jika aku tetap menyayangi Dirga sebagimana layaknya aku menyayangi anakku sendiri walau ibunya telah menyakiti hatiku. Pram menghela nafasnya terasa kepedihan begitu sangat dirasa dan tanpa disadarinya air mata telah bergulir dari sudut kedua kelopak matanya. Kota Bandung kali ini benar-benar telah mengharu birukan relung hatinya yang terdalam. Sampai kapankah aku dapat menghilangkan kepedihan ini !?. ucapnya Lirih.

Bersambung.... 

1 comment: